Keduanya saling mendekap dalam kelelahan yang memabukkan. Napas tegap Hanggara yang memburu perlahan mulai teratur, sementara tangannya tak berhenti mengusap punggung mulus Savana. Ia mendaratkan ciuman-ciuman halus di dahi, pelipis, dan pipi wanita itu dengan penuh kehangatan. Seolah gairahnya belum benar-benar padam. "Terima kasih, Savana... thank you," bisik Hanggara rendah dengan pendar ketakjuban yang jujur.Savana hanya bisa terdiam, tak sanggup merangkai kata. Bibirnya terasa kelu, dikuasai oleh sensasi kewalahan dan kebahagiaan asing yang membuncah di dalam dadanya.Namun, menyadari pendar piyama dan kegelapan di luar jendela, Savana berjuang mengumpulkan sisa tenaganya. Ia perlahan mengurai dekapan Hanggara dan berusaha terduduk di tepi ranjang. Rasa pegal merayapi persendiannya saat ia menunduk, memunguti pakaian dan seragamnya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya kembali satu per satu dengan jemari yang masih agak gemetar.Hanggara ikut beranjak duduk, menyingkap
Last Updated : 2026-07-31 Read more