“Tidak. Saya yakin seratus persen. Wajahnya, bajunya. Saya ingat betul.”Bola mata Tasya bergerak ke atas, lalu berhenti pada satu titik. Ia mengingat kembali, lorong sempit, pria dan wanita yang saling berhimpitan dan saling bercumbu mesra. Kemudian, suara perempuan yang familier memanggil namanya, lalu pergi bersama pria itu. Hanya satu kedipan lambat dari Gio, pria itu menarik napas pendek, lalu bersandar pada sofa, satu tangan merapikan ujung lengan bajunya.“Tempat gelap, ramai, bisa aja salah liat.”“Bukan, tempatnya sepi. Hanya ada kalian berdua di lorong dan Vanya sempat menyebut nama saya. Pak Gio nggak perlu tutupin apa-apa lagi dari saya.”Tidak ada keraguan dalam tatapan Tasya. Ia tahu persis apa yang telah dilihatnya. Bukan bayangan samar, apalagi ingatan yang telah berubah oleh waktu. Setiap detailnya masih melekat jelas di benaknya.“Saya kenal sahabat saya sendiri. Jujur saja, Pak Gio siapanya Vanya?”
آخر تحديث : 2026-08-24 اقرأ المزيد