Dengan langkah tergesa-gesa, Jingga langsung membereskan perlengkapan melukis miliknya lalu membawanya ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian, suara pintu dibanting terdengar. Sebetulnya, Jingga tidak berniat membanting pintu. Ia lebih senang melemparkan cat kaleng ke muka Arjuna. Hanya saja, barusan dia menutup pintu dengan tendangan kakinya hingga menyebabkan suara bantingan cukup keras. Istilahnya, kelepasan begitu. Dengan napas yang memburu, Jingga duduk di balik pintu. Cairan bening sudah memenuhi ke dua pelupuk matanya, nyaris jatuh. Ia berusaha keras agar tidak cengeng. Namun— Satu detik, dua detik, tiga detikAkhirnya, air matanya jatuh tanpa seijinnya. Yang pada mulainya merintik kini menderas seperti air hujan yang turun saat kemarau. Namun, ia berusaha membekap mulutnya dengan telapak tangannya agar bisa meredam tangisannya. Ia tidak mau dianggap lemah meski kenyataannya selemah itu. “Tega banget, sih!” Jingga menggerutu, bibirnya mengerucut. “Kalau aku sampai nggak bole
Last Updated : 2026-08-16 Read more