Setelah kepergian Bude Ratih, Abimana menatap Jingga dengan cara yang tak biasa. “Katakan dengan jujur, Jingga. Kartu Black Card tadi punya siapa? Lalu siapa yang memberi pinjaman untuk operasi ibumu?” suara Abimana tidak tinggi tetapi cukup membuat suasana terasa menegangkan. Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu …Jingga hanya mengatupkan bibirnya rapat. Haruskah ia bicara terus terang soal hal itu? Soal pinjaman dengan syarat pernikahan kontrak begitu? Abimana menghela panjang. Tatapannya masih tertuju Jingga dengan penuh telisik. Namun, detik berikutnya, ia mengembuskan napas kasar, memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan interogasinya. “Jingga, katakan siapa orang ... yang membiayai operasi Ibumu? Apa ada hubungannya dengan pria kaya yang memberi kartu itu?”Jingga menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun sahara. Matanya bergerak liar, memikirkan sejuta opsi kebohongan instan yang biasa ia rakit dalam hitungan detik.Ia mem
Last Updated : 2026-08-12 Read more