“Pak Arjuna,” panggil Jingga. Suaranya rendah tetapi tegas. “Kita perlu bicara sekarang.” Helaan napas berat lolos dari bibir merah mudanya. Ia menatap pria dingin yang sialnya terlihat tampan di depannya tanpa berkedip.Sebagai mahasiswa Seni Rupa, Jingga terbiasa mengamati wajah orang. Namun, Arjuna membuatnya nyaris lupa berkedip. Bukan karena gugup, melainkan karena proporsi wajah pria itu terlalu ideal. Rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan garis-garis wajahnya begitu rapi. Rasanya, sekali tarik pensil saja, sketsa Arjuna sudah akan langsung terbentuk dengan sempurna. Jingga berdehem pelan, berusaha mengatasi pikirannya yang dipenuhi imajinasi liar seorang seniman. Ia merutuk dalam hati, bisa-bisanya ia mengamati wajah pria itu saat seperti ini. Pasti, Arjuna mengira dirinya naksir padanya. Di balik meja pantry, Arjuna menatap Jingga dengan sorot tajam yang tak terbaca.“Kebetulan,” sahut Arjuna dengan suara baritonnya yang berat. “Saya juga ingin bicara.”Jingga meneguk saliva
Last Updated : 2026-08-07 Read more