Pintu kaca tebal ruang rapat utama di lantai lima terdorong pelan. Begitu Isyana melangkah masuk, keheningan yang mencekam seketika menyapu ruangan.Puluhan pasang mata yang memancarkan amarah, keraguan, dan kecemasan, teruju lurus pada sosoknya.Di ujung meja lonjong, beberapa pemegang saham utama duduk bersedekap dengan raut wajah memerah padam. Di sisi kiri, Bagas duduk menunduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di atas pangkuannya, berpura-pura memasang raut wajah prihatin dan terpukul atas musibah yang menimpa perusahaan.Isyana melangkah dengan tenang, berjalan perlahan menuju kursi utamanya di ujung meja. Setiap ketukan sepatu hak tingginya berbunyi nyaring menghantam lantai marmer, seolah menegaskan bahwa dialah pemilik kekuasaan di ruangan itu.Hendy berjalan sigap di belakangnya, memegang bundel berkas analisis dampak pasar."Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," Isyana menyapa dengan nada suara yang teramat halus, stabil, dan tanpa celah kepanikan sedikit pun.Belum
Last Updated : 2026-07-30 Read more