Share

Bab 6: Liontin Perak

Author: KAEL
last update publish date: 2026-08-04 15:17:14

Aku memakainya, seamless hitam dengan pita merah muda yang mengingatkanku setiap kali bergerak bahwa aku sudah menjadi miliknya sebelum aku menyadarinya.

Ponsel bergetar. "Lift. 07:00."

Dia sudah berdiri menunggu ketika aku keluar dari unit.

Rey melihatku dari ujung koridor, matanya langsung turun ke pinggang. "Pas. Tepat seperti yang kubayangkan."

"Kamu melanggar privasiku," suaraku tajam. "Kamu mencatat ukuran tubuhku tanpa izin. Tanpa aku bilang!"

"Aku mengamati segalanya, Aurel." Dia mendekat. "Termasuk apa yang kamu pakai saat ini."

"Kamu tidak berhak."

"Berhak?" Rey tertawa kecil. "Satu, aku yang membayar operasi Ibumu delapan puluh juta. Dua, aku yang memberimu pekerjaan saat tidak ada yang mau. Tiga, aku yang memberimu apartemen tiga langkah dari pintuku. Ada alasan lain kenapa aku tidak berhak?"

"Menyentuhku tanpa izin," aku mundur, punggungku menabrak dinding lift yang dingin. "Mengamati dan mengumpulkan rahasia-rahasiaku."

"Foto-fotomu?" Rey mengambil map dari tasnya, melemparkannya ke meja konsol. "Lihat ini. Lihat semua momen yang kamu pikir rahasia." Foto-foto di dalam map berjatuhan, aku di SMA di podium kedua, di kampus membaca buku, dengan Daniel di depan bioskop, dengan Arhan yang terlalu intimate.

"Kenapa?" tanyaku, suaraku parau. "Sejak kapan?"

"SMA," jawab Rey, mendekat lagi. "Pertama kali melihatmu menangis karena kalah lomba. Aku ingin mendekatimu, tapi aku tidak tahu caranya. Jadi aku mencari perhatianmu dengan juara satu, dan ambil foto-fotomu."

"Berapa lama?"

"Setiap hari, Aurel. Dua belas tahun. Setiap hari aku melihatmu dari jauh. Dari foto, medsos, teman-teman yang kebetulan bertemu denganmu dan mau bercerita."

"Itu tidak sehat," bibirku bergetar. "Itu sakit. Itu—"

"Obsesi?" Rey memotong, matanya gelap. "Panggil apa pun yang kamu mau, obsesi, gila, stalking. Tapi aku menyebutnya cinta yang harus menunggu, cinta yang tidak bisa kutunjukkan kecuali dengan cara ini."

Aku menatap foto dengan Daniel. "Dia selingkuh dengan sekretarisnya."

"Aku yang pastikan dia tertangkap, aku yang kirim foto itu ke ponselmu anonym. Tidak ada yang menyakitimu tanpa konsekuensi, Aurel."

"Kamu yang kirim?" aku membeku.

"Iya, dan aku yang pastikan dia dipecat dari perusahaan besar manapun. Dan Arhan—" Rey berhenti, rahangnya mengeras. "Arhan juga sudah kubereskan dan dia tidak akan pernah mengganggumu lagi."

"Kamu menghancurkan hubunganku."

"Bukan," Rey mengeleng, jarinya hampir menyentuh pipiku tapi berhenti di udara. "Aku membebaskanmu karena mereka tidak layak. Daniel tidak layak, Arhan tidak layak dan aku—" napasnya memburu, "aku yang selalu ada di bayanganmu, di pikiranmu dan di setiap langkahmu."

"Rey, jangan—"

Tapi dia sudah menyentuh.

Jari-jarinya berhenti di pinggangku, tidak bergerak, hanya menekan cukup untuk aku merasa hangatnya menembus kain blazer. Dia menunggu seolah memberiku waktu untuk mundur, tapi aku tidak bergerak. Tubuhku tidak mengikuti perintah otakku.

Dia menarikku mendekat sampai napasnya menyentuh pelipisku. "Rey—" suaraku pecah.

"Kamu sudah menjadi milikku," bisiknya, "Setiap bagian yang kamu sembunyikan, setiap inci yang kukenal lebih baik dari dirimu sendiri." Jarinya bergerak sedikit, hanya setengah inci, tapi cukup untuk membuat napasku terhenti. "Dan besok, di Kyoto aku akan membuktikan bahwa kamu sudah tahu itu sejak lama."

Rey mundur melepaskanku dan berjalan pergi, Aku berdiri sendirian dengan foto-foto berserakan di kaki. Ponselku bergetar, "Kantorku sekarang, jangan buang waktu untuk merapikan foto-foto itu. Aku sudah punya cadangan."

Dia sudah duduk di meja besarnya, "Materi meeting Kyoto. Slide 15-30 bagian operasional, pelajari dengan baik."

Aku membuka file, angka-angka investasi memenuhi pandanganku, "Aku pikir cuma jadi pendamping," kataku.

"Tentu saja tidak, Aurel." Rey berhenti mengetik, "Kamu yang presentasi, aku yang duduk di belakangmu mengamati."

"Mengamati apa?"

"Kamu." Dia berdiri, berjalan ke arahku dengan langkah pelan, berhenti di samping kursiku dengan jarak yang terlalu dekat untuk rekan kerja. "Mengamati kamu berbicara bahasa Jepang dengan fasih, mengamati kamu menguasai ruangan, mengamati setiap pria di sana yang akan melihatmu dan tidak bisa menyentuh apa yang sudah kumiliki."

Aku mundur sedikit tapi punggungku menabrak sandaran kursi yang keras, tidak ada tempat untuk lari, "Ini tentang bisnis, Rey. Meeting dengan investor profesional."

"Bisnis?" Rey tertawa kecil, lalu dia menggeser file bisnis ke samping dengan satu tangan, menggantinya dengan map tipis berisi foto-foto tempat yang terlalu familiar. "Ryokan tradisional di Kyoto, satu kamar dua futon."

Aku membeku, jantungku berhenti berdetak sejenak. "Satu kamar?!"

"Satu kamar," dia mengulang, tidak menatapku, jarinya menelusuri foto-foto ryokan dengan atap jerami dan dinding kayu, "Kamar mandi berbagi, futon berdampingan, tidak ada tempat untuk bersembunyi, Aurel."

"Apa yang akan... kau lakukan?" tanyaku dengan suaraku hampir tidak keluar.

Rey akhirnya menatapku, "Apa pun yang aku inginkan. Karena besok selama lima hari di Kyoto, kamu tidak akan bisa lari dariku," wajahnya sejajar denganku dan napas kami bercampur di udara yang tiba-tiba terasa panas, "Hanya kamu, aku, dan dinding-dinding kayu yang akan mendengar setiap suara yang kamu keluarkan."

Aku menelan ludah, tenggorokanku kering. "Ini tidak profesional. Ini tidak etis. Ini—"

"Profesional sudah tidak cukup untuk apa yang aku rasakan."

Jam 6 sore, ponselku bergetar. "Laci meja kamu."

Aku membuka laci. Box velvet kecil di dalamnya kalung perak dengan liontin berbentuk kunci yang terlalu mahal untuk sekretaris baru. Kartu kecil "Untuk besok. Karena kamu sudah membuktikan hari ini kamu bisa mengikuti aturanku."

"Sudah melihatnya?"

Aku tersentak. Rey berdiri di ambang pintu. "Ini terlalu berlebihan, Rey," suaraku lemah. "Ini kantor—"

"Besok," dia memotong, suaranya rendah, "di bandara, kamu harus memakainya. Dan kali ini, Aurel, aku akan memastikan kamu tidak bisa berpura-pura tidak merasakan apapun."

Dia pergi. Ponselku bergetar. "Jam 07:00 di bandara. Jangan terlambat. Aku tidak suka menunggu—kecuali untukmu."

Aku menatap kalung di tangan, harus lari ke toilet atau ke kamar untuk mengemasi koper? tapi kakiku sudah berjalan ke arah lift.

Pukul 06:45, Terminal 3 Soekarno-Hatta.

Aku berdiri di depan gate internasional dengan kemeja beige, rok span hitam dan kalung perak yang baru saja kupasang di leher.

Rey muncul dari belakangku, tangannya langsung meraih kalung, jari-jarinya menyentuh tulang selangkaku sebelum aku bisa mundur. "Tepat waktu," bisiknya di telingaku, napasnya panas. "Kamu sudah memakainya. Bagus, karena di Kyoto nanti—" dia berhenti, matanya turun ke kalung lalu kembali ke mataku.

Panggilan boarding ke Osaka terdengar di speaker bandara, Rey mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jariku, menarikku masuk ke dalam pesawat sebelum aku sempat mendengar akhir kalimatnya.

"Di Kyoto nanti apa?" bisikku, napasku memburu.

Dia menoleh penuh dengan janji yang membuat lututku lemas. "Ikut aku ke Kyoto dan kamu akan tahu malam ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bell_Riche
Jadi Aurel merinding sihh🥲
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 35: Di Dalam Mobil

    Kaca mobil hitam pekat seperti kuburan. Kami bergerak menyusuri Jakarta yang masih ramai, tengah malam. Tapi di dalam, segalanya telah mati.Aku menempel di pintu sejauh mungkin dari Rey yang duduk di sebelahku. Bahu kami berjarak tiga jari yang terasa seperti jurang, Kevin mengemudi di depan, diam seperti patung. Bahkan dia yang selalu cerewet tahu bahwa suara apa pun saat ini bisa memicu ledakan.Hujan mulai turun.Rintik-rintik memukul kaca dengan lembut, mengaburkan dunia luar, membuat kami terjebak dalam gelembung kaca yang akan segera pecah.Aku menatap lurus ke depan, rahang mengencang, tanganku terkunci di pangkuan sampai kuku menekan telapak dan meninggalkan bekas merah.Tiga menit. Lima menit. Tujuh menit tanpa suara. Hanya deru mesin yang halus dan napas Rey yang semakin memburu di sebelahku. Dia bergerak tidak nyaman, jari-jarinya membuka dan menutup kerah kemeja seolah udara di dalam mobil ini telah habis."Aku bisa jelaskan."Suaranya pecah di tengah sunyi, parau, berat.

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 34: Perjanjian Kamar 2207

    Aku tahu seharusnya aku tidak mengikutinya. Tapi ketika melihatnya berdandan dengan setelan Armani abu-abu tengah malam, hatiku berkata bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan menghancurkanku.Rey bilang ada meeting mendadak, tapi rahangnya mengencang saat berkata, jarinya sengaja menghindar dari kulitku saat melewati sofa. Dia berbohong. Dan sekarang aku berdiri di balik pilar marmer Kempinski, menatap punggungnya yang menjauh.Jam menunjukkan 22:47.Klik. Klik. Klik.Sepatunya berderap teratur, dia berhenti di concierge, berbicara pelan, mengangguk. Sebuah kartu kunci diberikan. Lantai dua puluh dua.Kukuku menekan telapak hingga sakit. Lima puluh miliar. Apakah dia akan menukarku dengan bayaran itu?Pintu lift membuka memantulkan bayangannya yang tegap. Saat pintu menutup, aku melihat wajahnya di kaca, tidak ada jejak pria yang pagi tadi mencium leherku dengan obsesi. Tidak ada lagi biarkan dunia tahu kamu milikku.Lift menutup, aku berlari dari balik pilar menekan tombol lif

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 33: Tanda di Leher

    Aku terbangun bukan karena alarm, melainkan karena sesuatu yang lebih tajam.Sesuatu yang menusuk leher bagian kiriku, tepat di bawah tulang rahang, di tempat yang paling sensitif. Rasanya seperti terbakar dan dingin secara bersamaan, denyut yang mengirimkan sinyal ke seluruh tubuhku bahwa aku telah berubah.Cermin di lemari pakaian memantulkan bayangan wanita yang tidak kukenali.Rambut berantakan menutupi bahu, mata bengkak karena tidur terlalu lelap, dan di leherku terdapat bekas merah tua yang kontras dengan kulit pucatku. Tanda kepemilikan yang vulgar dan indah secara bersamaan."Jangan ditutupi."Suara itu datang dari belakangku parau masih terbalut sisa-sisa tidur. Aku berbalik perlahan, selimut terpeleset dari dada telanjangku, membuatku sadar bahwa aku hanya mengenakan celana dalam yang terlalu kecil milikku dan tidak ada yang lain.Rey duduk di tepi tempat tidur, punggungnya telanjang, otot-otot punggung bergerak-gerak saat dia mengulurkan tangannya ke arahku. Rambutnya bera

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 32: Ranjang

    Tubuhku sudah menjawab sebelum bibirku sempat bergerak. Aku terbakar, basah karena ingin. Aku menggesekkan paha mencoba menghilangkan tekanan yang mengganggu di sana, tapi hanya membuatku semakin menyadari kekosongan yang memanggil-manggil.Aku memikirkan dia. Rey. Di kamar sebelah mungkin telanjang dada, mungkin juga terjaga sambil memikirkan hal yang sama.Aku bangkit, kaki telanjangku menyentuh lantai kayu yang dingin, tapi kulitku terbakar. Piyama katunku yang tipis menempel di payudaraku, menggesekkan puting yang sudah mengeras sejak tadi. Aku berjalan ke koridor, menuju cahaya yang menyala.Pintu kamarnya sedikit terbuka.Rey duduk di tepi tempat tidur tlanjang dada, kulitnya berkilauan di cahaya lampu oranye, otot perutnya yang keras naik turun dengan napasnya yang berat. Dia tidak pakai kacamata.Matanya langsung menatapku, turun dari wajahku ke dada, ke paha, kembali ke mataku. Dia menelan ludah."Aku tahu kamu akan datang," katanya

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 31: Kesalahan Malam Itu

    Pikiranku masih terjebak di balkon semalam, di kata-katanya yang menggantung seperti kabut tebal, bayangan Arhan, dan aku tidak mengerti apa maksudnya sampai sekarang."Kamu pilih," kata Rey, suaranya datar sengaja, matanya menatap layar yang gelap.Aku menggulir daftar film dengan jari yang gemetar, tapi mataku berhenti di satu judul yang familiar, film tentang kereta api dan dua orang asing yang bertemu dan jatuh cinta dalam satu malam di Wina. Film yang kutonton dengan Arhan. Film yang kupikir romantis, tapi berakhir dengan kepergian tanpa kepastian, seperti kami, seperti semua yang pernah kumiliki dan hilang."Ini," kataku, menekan tombol putar tanpa berpikir panjang, seolah dengan memutar ulang kenangan yang salah aku bisa mengubahnya menjadi benar.Rey tidak protes.Dia hanya mengangguk, bersandar di sudut sofa dengan lengan di sandaran dan kaki terentang santai, tapi aku melihat bahunya tegang, seolah setiap detik film ini adalah detik yang

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 30: Yang Terbakar

    "Kamu benar-benar melakukan itu," suaraku parau dan pecah di tengah keheningan balkon yang dingin. "Kamu masuk ke kamarku, menyentuhku, memohon pernikahan saat aku tidak sadar."Rey masih berlutut di antara abu foto-foto yang baru saja kami bakar. "Aku serius, Aurel. Setiap kata yang aku ucapkan di video itu. Bahkan saat kamu tidak sadar, terutama saat kamu tidak sadar, karena aku akhirnya bisa mengatakannya tanpa takut melihat kamu menatapku dengan benci atau melihat kamu pergi.""Dan kamu pikir itu lebih baik?" suaraku naik sedikit. "Kamu pikir melihatku tidur dalam keadaan lemah, tidak sadar, lalu memohon pernikahan seperti itu lebih baik daripada mengatakan saat aku sadar?"Rey menggeleng, "Aku tidak memohon, Aurel. Aku menjanjikan. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari, meski kamu tidak pernah tahu apa yang terjadi malam itu, aku akan membuatmu menjadi milikku secara sah. Bukan dengan menguntit, bukan dengan foto-foto tersembunyi, tapi dengan ci

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status