Langit senja di pinggiran benua tampak memerah seperti usapan kuas pada kanvas tua. Angin dingin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun pinus yang bergesekan di sepanjang jalan berbatu.Arkan berjalan dengan langkah lambat namun mantap. Ujung tongkat kayu yang dibawanya menyentuh tanah berkerikil secara teratur, memberikan ritme konstan di tengah keheningan hutan. Caping bambunya miring ke depan, menyembunyikan sebagian besar wajahnya dari pendar matahari yang mulai tenggelam. Di bahu kirinya, Kilin kecil berwujud musang keemasan tampak menguap malas, menyandarkan kepalanya yang berbulu lembut pada kerah jubah Arkan."Pusat keramaian terdekat masih setengah hari perjalanan lagi di balik bukit ini, Arkan," batin Kilin melalui untaian kesadaran mereka. "Udaranya terasa aneh... ada bau mesiu, keringat kuda, dan sedikit pendar mana yang kasar.""Dunia ini luas, Kilin," jawab Arkan dalam batinnya, suaranya tenang tanpa gejolak. "Setiap tempat punya hiruk-pikuknya sendiri."Lang
Dernière mise à jour : 2026-10-19 Read More