Rumi masih belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya ketika Pak Abay kembali menghampiri mereka di depan lobi.“Ayo masuk, Non.”Namun, Rea belum bergerak. Matanya tertuju pada pintu kaca di hadapannya. Dadanya terasa sesak. Ada begitu banyak kenangan yang tersimpan di balik pintu itu, sampai-sampai dia tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika kembali menginjakkan kaki di tempat yang pernah menjadi bagian besar hidupnya.Dulu, dia bisa keluar masuk hotel ini sesuka hati. Berlari menyusuri lobi, mengganggu para pegawai, atau duduk berjam-jam menemani mamanya menyapa tamu.Sekarang, untuk melangkah masuk saja, Rea harus mengumpulkan keberanian.“Kamu tidak apa-apa?” Rumi bertanya pelan di sampingnya.Rea sedikit tersentak. Dia menoleh, lalu buru-buru mengangguk.Rumi mengamati wajah Rea beberapa saat, “Kita bisa cari hotel lain kalau memang kamu tidak nyaman.”“Nggak apa-apa, Mas.” Rea memaksakan senyum kecil. “Yuk, masuk.”Kali ini, Rea benar-benar melangkah. Kaki kanannya melewati
最終更新日 : 2026-10-09 続きを読む