Share

31: Batasan

Author: BlackDiamond
last update publish date: 2026-09-11 17:47:11

Keesokan paginya, aku menyapa Pak Jeremy seperti biasa saat berada di meja makan. Pria itu menatapku cukup intens. Aku menoleh dan memberikan senyuman tipis saat menyadari pandangannya. Walaupun dia tidak membalas senyumanku, aku tidak ambil pusing. Aku tetap melayaninya dengan baik seperti biasa.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya pelan.

“Baik, Pak,” jawabku sambil menyodorkan semangkuk salad buah segar yang sudah kuposisikan sesuai arahan Bu Ratih.

Pak Jeremy tidak langsung menyentuh makanannya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Boss!   66: Ayo Kita Lanjutkan

    Jemari Pak Jeremy tidak berhenti di paha. Sentuhannya yang merayap makin ke atas di balik lipatan kain rokku membuat napasku tersengal dan putus-putus. Usapan itu lambat, pasti, dan sangat mengintimidasi—seolah ia paham betul titik-titik mana di tubuhku yang langsung menyerah tanpa syarat.“P-Pak… jangan… ada Pak Supri di depan…” cicitku tertahan, meremas kulit jok mobil hingga buku-buku jariku memutih.Layar sekat di balik kemudi memang terpasang kencang, meredam suara, tapi tetap saja bayangan ketahuan membuat seluruh sarafku tegang luar biasa. Bukannya berhenti, Pak Jeremy justru sengaja memiringkan tubuhnya, menghalangi pandangan dari sudut mana pun sambil menatap mataku lekat-lekat.“Kalau begitu, jangan sampai dia tahu” bisiknya.Jemarinya menyusup makin dalam, menyentuh titik paling sensitif yang mendadak basah dan hangat.“M-mmh…” Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat demi menahan desahan yang nyaris meloloskan diri. Gejolak panas mendadak meletup di perut bawahku, menjalar ce

  • Satu Kali Lagi, Boss!   65: Bisa Jadi!

    “Pokoknya kamu harus jelaskan padaku, Sien! Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu! Aku nggak mau tahu!”Pesan singkat dari Nina itu muncul beruntun di layar ponselku. Mobil yang kami tumpangi masih membelah jalanan menuju kantor. Nina memang tipe orang yang pantang menyerah kalau belum mendapatkan kebenaran. Akan tetapi, aku sama sekali tidak marah dengan sikapnya yang terkesan ikut campur, karena bagaimanapun, dialah tempat utamaku menumpahkan segala kegelisahan selama ini.Aku melirik Pak Jeremy di sisiku. Pria itu duduk tenang, bersandar santai di jok mobil seolah-olah di dalam kabin ini hanya ada dirinya seorang.“Dia bukan pacarku,” balasku cepat pada Nina.“Apa? Yang benar saja, dong! Pantes dia marah! Terus kok kamu jawab iya-iya aja pas aku tanya apa dia pacar kamu?” balas Nina lagi. Dari ketikannya saja aku sudah bisa merasakan emosi yang meletup-letup.“Aku nggak pernah bilang iya, lho… Kamu sendiri yang berasumsi.” Aku membalas santai agar tidak makin memancing emosiny

  • Satu Kali Lagi, Boss!   64: Bukan Masalah Yudha

    “Kamu dan Yudha pacaran? Sejak kapan? Kenapa saya nggak tahu masalah ini?” tanya Pak Jeremy begitu pintu mobil sedan mewah itu tertutup rapat, meredam seluruh bising jalanan malam di luar kantor polisi. Pak Supri sudah duduk di balik kemudi depan, melajukan kendaraan membelah jalanan kota yang makin lengang.Suasana di dalam mobil mendadak menjadi drop. Aku mau narik napas pun terasa tersangkut di tenggorokan.Pak Jeremy duduk bersandar di sisiku. Meskipun ada jarak selapis jok di antara kami, aura dominan dan dingin dari pria itu sanggup membuat udara di sekitar kami mendadak terasa makin tipis. Ia merengkuh keheningan itu beberapa saat, sebelum akhirnya memutar tubuhnya sedikit ke arahku.“Tidak ada penjelasan?,” suara Pak Jeremy meluncur rendah, hampir berupa bisikan tipis, namun sarat ancaman yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia jelas tahu diri ada Pak Supri di depan, sehingga intonasinya begitu terkontrol.Aku meremas tali tas di pangkuanku, tidak berani mengangkat kepala terlal

  • Satu Kali Lagi, Boss!   63: Jelaskan!

    “Maksud saya, apakah usia menjadi penentu seseorang cocok atau nggak dalam sebuah hubungan?” jawabku cepat, sengaja memutar arah untuk menutupi kegugupan.“Hubungan?” ulang Pak Jeremy.“Iya, hubungan… seperti yang Bapak bilang tadi. Usia saya dan Chloe tidak terpaut jauh,” jelasku. Padahal, bukan itu maksudku tadinya. Namun, karena dia tidak peka sama sekali, ya sudah… biarkan saja jadi salah paham.“Ooh… itu. Tentu saja masalah. Kesenjangan usia pasti membawa perbedaan mencolok dalam hal pengalaman, cara berpikir, dan yang paling kentara, cara komunikasi,” jawabnya serius.Aku mengangguk kaku lalu tersenyum tipis. “Saya mengerti, Pak.”“Hm…” Ia mengangguk. “Kamu tidak sedang punya fantasi tentang kita, bukan?”Aku terkekeh kaku. “Tentu tidak. Bapak terus-menerus mengingatkan batasannya, jadi saya tahu diri, kok…”Pak Jeremy menaikkan sebelah alisnya. Ia menatapku dengan sorot aneh yang memilih diabaikan saja.Di tengah keheningan canggung itu, ponsel di atas meja bergetar. Pak Jeremy

  • Satu Kali Lagi, Boss!   62: Batas Yang Berubah

    “Kalau Pak Jeremy bersikap kadang hangat, kadang dingin, itu artinya dia sudah mulai nyaman sama kamu,” cetus Yudha santai sebelum melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.Aku mengelus dada. Oh, aku baru tahu ternyata indikator 'rasa nyaman' seorang bos besar ditunjukkan lewat sikap yang plin-plan.Aku menghembuskan napas berat, mengamati bayanganku di pantulan kaca pintu. Kebetulan tadi pagi aku berdandan seadanya karena panik mencari keberadaan Chloe. Baru sekarang aku sadar—ada beberapa bercak kemerahan yang tercetak samar di area leherku.Gawat!Pantas saja tadi Yudha menatapku sambil tersenyum-senyum ga jelas, ternyata dia melihat ini.Dengan sigap aku menarik helaian rambut panjangku ke depan, berusaha menutupi bekas gigitan dan gigitan kecil yang tertinggal di sana.Belum sempat aku menarik kursi untuk duduk, suara denting lift khusus direksi di ujung lorong berbunyi. Pintu logam itu terbuka, menampilkan sosok Pak Jeremy yang baru saja tiba.Kemejanya tidak serapi tadi pagi. Le

  • Satu Kali Lagi, Boss!   61: Imajinasi Liar

    “Chloe?” bisik Pak Jeremy. Suaranya serak.Aku menyentuh lengan Pak Jeremy perlahan. “Biar saya yang turun dan bicara padanya. Bapak tunggu di sini.”Pak Jeremy tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Dia mematikan mesin mobil, sementara aku melangkah keluar dan berjalan mendekat. Namun, makin rapat jarak kami, langkahku makin melambat.Chloe duduk diam, menatap lurus ke depan dengan air mata yang mengalir deras tanpa suara. Dia cuma menangis dalam hening, tenggelam dalam pikirannya sendiri—bahkan tidak sadar aku sudah berdiri di dekatnya.Aku berdiri membeku menatapnya. Kenapa melihat Chloe menangis rasanya persis seperti melihat diriku sendiri? Terasing di tengah hiruk-pikuk dunia, seolah tidak punya tempat untuk berbagi.“Chloe…” panggilku pelan.Aku melangkah mendekat, merapikan rokku, lalu duduk di sampingnya. Chloe menoleh dengan mata sembab yang memerah.“Kak Sien…” cicitnya lirih.Aku mengangguk, lalu merangkul bahunya dan menariknya ke dalam pelukan. Meskipun pelukan tidak bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status