Share

Bab 3

Author: Muriaz
"Tunggu sebentar sebelum diminum. Masih agak panas."

Dia duduk di tepi ranjang, menggenggam tanganku.

"Masih marah sama aku?"

Sambil tersenyum, dia mencubit pelan jemariku.

"Aku beneran cuma kasihan sama dia yang masih gadis muda. Sumpah, di hatiku cuma ada kamu."

Aku menatapnya.

Benarkah hanya ada aku di hatinya?

Pandanganku beralih ke angka di atas kepalanya.

[198 hari 10 jam 20 menit.]

Angka itu tidak bertambah.

Rasa bersalah dan sikapnya yang berusaha menyenangkanku ternyata tidak membuat hitungan itu bertambah, bahkan sedetik pun.

Aku memejamkan mata, lalu menarik tanganku dari genggamannya.

"Aku nggak marah."

Tepat saat itu, ponselnya berdering.

Di kamar yang sunyi, nada dering itu terdengar begitu nyaring.

Leonard terdiam sesaat sebelum meraih ponsel di atas nakas.

Saat layar menyala, aku melihat nama peneleponnya.

Kania.

Leonard melirik ke arahku. Sorot matanya tampak agak menghindar.

Dia tidak menolak panggilan itu. Sebaliknya, dia langsung menjawabnya sambil menyalakan pengeras suara.

Dia memang selalu bersikap seterbuka ini untuk membuktikan bahwa dirinya tidak menyembunyikan apa pun.

"Pak Leonard ...."

Dari seberang telepon terdengar suara gadis yang sesenggukan.

"Ada apa?" Nada suara Leonard langsung menegang.

"Saya ... saya dikunci di luar kamar sama teman sekamar saya."

Suara Kania bergetar hebat, diiringi suara hujan deras di latar belakang.

"Tadi waktu mandi saya baru sadar lupa bawa handuk. Jadi saya keluar cuma pakai handuk mandi, tapi pintunya malah tertiup angin sampai tertutup."

"Kunci dan ponsel saya masih di dalam. Saya pinjam telepon dari pemilik warung di bawah buat ngubungin Bapak."

"Maaf, Pak Leonard. Saya benar-benar nggak tahu harus ngubungin siapa lagi."

Leonard langsung berdiri.

"Tunggu di warung itu. Jangan ke mana-mana!"

Nada cemasnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.

"Aku segera ke sana."

Setelah menutup telepon, dia berbalik mengambil jaket yang tergantung di gantungan.

"Yona, Kania sedang kena masalah. Aku harus ke sana sebentar," ucapnya sambil mengenakan jaket.

Aku tetap bersandar di kepala ranjang sambil menatapnya.

"Di luar masih hujan deras."

"Aku tahu."

"Aku masih demam."

Gerakan Leonard yang sedang mengenakan jaket seketika terhenti.

Dia kembali menghampiri ranjang, lalu mengulurkan tangan menyentuh wajahku.

"Kamu sudah minum obat. Tidurlah yang nyenyak. Besok pasti sembuh."

"Dia sendirian di luar cuma pakai handuk mandi. Kalau aku nggak pergi, bisa-bisa terjadi sesuatu sama dia."

Nada bicaranya penuh rasa tanggung jawab yang terdengar begitu meyakinkan.

"Tunggu aku di rumah. Begitu urusannya selesai, aku langsung pulang."

Setelah berkata begitu, dia berbalik dan melangkah lebar keluar kamar.

Pintu depan menutup keras disertai bunyi "Brak".

Aku menatap semangkuk wedang jahe di atas nakas yang masih mengepulkan uap.

Lalu pandanganku beralih ke tempat yang baru saja dia tinggalkan.

Di udara seolah masih tersisa cahaya merah dari hitungan mundur itu.

[120 hari 8 jam 15 menit.]

"Baik. Aku akan nunggu kamu."

Keesokan paginya, demamku sudah turun.

Namun suaraku masih serak hingga sulit bicara.

Leonard tidak pulang semalaman.

Tepat pukul enam pagi, dia mengirim pesan kepadaku.

[Telepon pemilik kos nggak bisa dihubungi, jadi semalam aku bawa dia nginap di hotel budget dekat sana. Aku baru sampai kantor. Jangan lupa minum obat.]

Aku menatap tulisan di layar.

Hotel budget.

Seorang pria dan seorang wanita berdua saja.

Sebenarnya aku tidak meragukan apa pun yang mereka lakukan. Leonard punya batasannya sendiri.

Namun, kalimat itu saja sudah cukup menyakitkan untuk kubaca.

Sore harinya, aku pergi ke kantornya.

Kemarin Monik meminjam mobilku. Hari ini dia bilang akan mengembalikannya di depan kantor Leonard. Sekaligus, dia memintaku membawakan beberapa dokumen Leonard yang tertinggal di rumah.

Saat kudorong pintu kaca ruang direktur utama, suasana di dalam sangat tenang.

Leonard sedang menghadiri rapat.

Kania duduk di meja kerja asisten di ruang luar sambil mengetik di depan keyboard.

Begitu melihatku, dia langsung berdiri.

"Kak, kok datang ke sini? Sudah sembuh?"

Dia tersenyum cerah, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Hari itu dia mengenakan jaket gunung pria yang kebesaran.

Meski lengan jaketnya sudah digulung dua kali, ukurannya tetap terlihat longgar.

Itu jaket yang dikenakan Leonard saat keluar rumah semalam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Countdown Cinta   Bab 12

    Anehnya, melihatnya seperti itu sama sekali tidak membuatku merasa puas.Yang ada hanya rasa lelah yang begitu dalam."Leonard, jangan bikin keributan lagi."Perlahan, aku melepaskan jari-jarinya dari pergelangan tanganku satu per satu."Sudahlah. Jangan bikin dirimu makin menyedihkan."Aku berbalik dan berjalan menuju pintu kamar rawat."Kalau besok kamu nggak datang ...."Aku berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang."Seumur hidup, kamu nggak akan pernah ketemu aku lagi."Keesokan paginya, cuaca akhirnya kembali cerah.Musim hujan di kota ini seolah berakhir pada hari itu.Sinar matahari menembus celah awan dan menyinari tangga di depan Kantor Catatan Sipil.Pukul delapan lewat lima puluh pagi.Aku berdiri di bawah tangga sambil melihat sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan.Leonard turun dari mobil.Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus hingga wajahnya tampak berubah.Tulang pipinya makin menonjol. Setelan jas yang dulu pas di tubuhnya kini terlihat sedikit kebesaran.Dia me

  • Countdown Cinta   Bab 11

    "Lagi-lagi kamu merasa semua yang kamu lakuin itu begitu berarti."Aku melihat wajahnya yang seketika memucat dan kehilangan harapan."Pulanglah.""Kamu mau ngelakuin apa pun, aku nggak akan pernah kembali."Kemudian, aku berbalik dan berjalan menuju lorong apartemen."Brak."Pintu unit kututup rapat.Memisahkan hujan dan angin di luar, sekaligus memutus pandangan penuh keputusasaan Leonard.Malam itu, Leonard berdiri di bawah gedung sepanjang malam.Keesokan paginya, dia dibawa pergi dengan ambulans.Demam tinggi Leonard berkembang menjadi pneumonia akut.Dia tidak sadarkan diri di rumah sakit selama satu hari satu malam.Miko Herdian, sahabat terbaiknya, meneleponku.Begitu panggilan tersambung, dia langsung memarahiku habis-habisan."Yona, apa kamu benar-benar nggak punya hati?""Dia sampai mempertaruhkan nyawanya demi kamu, tapi kamu bahkan nggak mau datang jenguk dia ke rumah sakit?""Waktu sedang demam tinggi pun dia manggil nama kamu terus. Apa kamu baru puas kalau dia sudah ben

  • Countdown Cinta   Bab 10

    Dia memiringkan payungnya ke arahku, membuat sebagian besar tubuhnya sendiri terkena hujan."Yona, jangan marah. Aku nggak nyuruh dia datang.""Mulai sekarang, dia nggak akan pernah muncul lagi."Dia menatapku dengan harapan yang penuh kehati-hatian di matanya."Malam ini ... mau makan malam bersama?"Aku menatapnya.Menatap bahunya yang basah karena hujan."Leonard," kataku pelan."Caramu mendorongnya tadi benar-benar kelihatan buruk."Tubuh Leonard langsung menegang.Jari-jarinya yang menggenggam gagang payung mengeras hingga memutih."Yona ...."Suaranya bergetar, dipenuhi rasa takut yang sulit disembunyikan."Aku sedang ngelindungin kamu.""Melindungi aku?"Aku tertawa kecil, lalu melangkah keluar dari bayangan payungnya."Kamu bukan sedang melindungiku. Kamu hanya sedang nutupin kebodohanmu sendiri.""Kamu yang buat dia mendekat, ngasih harapan yang nggak seharusnya ada, lalu sekarang kamu hancurin dia hanya untuk buktiin kesetiaanmu padaku.""Leonard, kekejamanmu terhadap dia dan

  • Countdown Cinta   Bab 9

    Aku tidak memakannya.Semua makanan itu kubuang ke tempat sampah di bawah gedung.Melihatku membuang kotak makanan yang begitu rapi dan mahal tanpa ragu, Monik sampai tak tahan untuk menggeleng kagum."Ck ck, ternyata adegan ngejar istri demi nebus kesalahan benar-benar dia nikmati."Aku menepuk kedua tanganku."Cinta yang datang terlambat sudah nggak ada artinya."Awalnya aku pikir dia tidak akan bertahan lebih dari beberapa hari sebelum akhirnya menyerah.Bagaimanapun, sejak kecil dia hidup dalam kemewahan dan selalu dimanja. Jauh di dalam dirinya, dia adalah orang yang sangat angkuh.Akan tetapi, Leonard tidak menyerah.Dia bahkan mulai diam-diam mengikuti mobilku saat aku pulang kerja.Menjaga jarak, tidak terlalu dekat tetapi juga tidak terlalu jauh.Tidak menggangguku, tetapi juga tidak pergi.Seperti hantu keras kepala yang terus membuntuti.Hari ke-20 masa tunggu perceraian.Kota ini kembali diguyur hujan.Saat aku baru keluar dari lobi lantai satu sepulang kerja, aku melihat s

  • Countdown Cinta   Bab 8

    "Lambungmu nggak kuat. Jangan minum yang dingin."Dia berusaha membangkitkan ingatanku lewat perhatian-perhatian kecil seperti itu.Namun, aku tidak menyentuh segelas susu di depanku itu."Bicara saja."Leonard menatap wajahku yang dingin.Kedua tangannya mengepal erat di bawah meja."Kania ... sudah aku pecat."Dia menarik napas dalam-dalam, seolah keputusan itu membutuhkan keberanian besar."Kerugian yang ditimbulkannya juga nggak aku bebanin sepenuhnya ke dia. Aku hanya minta dia ninggalin perusahaan."Dia menatapku, seakan menunggu pujian dariku."Sekarang, sudah nggak ada lagi penghalang di antara kita.""Pulang ya, sama aku?"Aku menatapnya.Lalu menatap angka di atas kepalanya yang melonjak drastis menjadi [412 hari] setelah dia memecat Kania.Namun, yang kurasakan hanya betapa menggelikannya semua ini."Leonard, apa kamu benar-benar berpikir kalau nggak ada Kania, kita bisa kembali kayak dulu?"Leonard tertegun."Bukankah memang gitu? Bukannya kamu bertengkar denganku karena d

  • Countdown Cinta   Bab 7

    Namun, semuanya sudah terlambat."Lepaskan."Aku menatapnya dengan dingin.Jari-jari Leonard seketika membeku.Dia belum pernah melihat tatapan sedingin itu dariku."Yona ...."Tiba-tiba, suara ceria terdengar dari samping."Pak Leonard?"Aku menoleh.Kania berdiri tidak jauh dari kami sambil membawa dua gelas kopi. Wajahnya tampak sangat terkeut.Pandangannya bergantian melihat Leonard dan aku."Kak, ada apa?"Dia segera menghampiri dengan ekspresi polos sekaligus khawatir."Apa Kakak marah sama Pak Leonard karena kejadian kemarin yang melibatkan saya?""Kalau memang ada yang salah, semuanya salah saya. Pak Leonard benar-benar orang baik, jadi jangan salahin beliau, ya."Dia menyerahkan salah satu gelas kopi kepada Leonard."Pak Leonard, semalam Bapak nggak tidur sama sekali. Minum kopi dulu supaya lebih segar."Leonard menatap gelas kopi itu, lalu menatapku.Tanpa sadar, dia melepaskan genggaman di pergelangan tanganku."Kania, kenapa kamu ada di sini?"Kania tersenyum tenang."Saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status