Share

Countdown Cinta
Countdown Cinta
Author: Muriaz

Bab 1

Author: Muriaz
"Pak Leonard, Kakak, maaf ya. Hujannya deras sekali. Saya benar-benar nggak bisa dapat mobil."

Pintu mobil terbuka.

Angin bercampur tempias hujan menerobos masuk hingga membasahi jok kulit.

Kania Yustara menutup payungnya lalu menyelinap ke kursi belakang dengan tubuh yang masih basah kuyup.

Blus sifon putihnya menempel erat di tubuh, sementara air terus menetes dari rambutnya.

Penampilannya benar-benar acak-acakan.

Namun senyumnya tetap cerah.

Kedua tangan Leonard masih bertumpu di setir.

Dia bahkan tidak menoleh.

Dia hanya meraih beberapa lembar tisu dari tempat penyimpanan di samping, lalu mengulurkannya ke kursi belakang melewati bahuku.

"Lap dulu. Nanti masuk angin."

Suaranya lembut, penuh perhatian seperti biasanya.

Kania menerima tisu itu. Ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Leonard.

Namun, Leonard tidak langsung menarik tangannya.

"Terima kasih, Pak Leonard. Saya tahu Bapak memang paling perhatian sama kami para karyawan."

Kania mengatakannya sambil tersenyum, tanpa sedikit pun merasa canggung.

Barulah Leonard menarik tangannya, lalu mengusap setir perlahan dengan ujung jari.

"Nggak mudah buat perempuan harus keliling cari klien sendirian."

Aku duduk diam di kursi penumpang, menatap hujan lebat di balik kaca depan.

Wiper bergerak tanpa henti, menyapu lapisan demi lapisan air hujan.

Tepat saat Leonard mengucapkan kalimat "nggak mudah" itu,

aku melihat sendiri deretan angka merah di atas kepalanya kembali berubah.

[327 hari 4 jam 47 menit.]

Cahaya merah itu berkedip sesaat.

Lalu berubah jadi [289 hari 10 jam 12 menit.]

Hanya karena satu kalimat empati yang diucapkannya dengan ringan, waktu yang tersisa sebelum dia meninggalkanku kembali berkurang lebih dari satu bulan.

Aku memejamkan mata, sementara perutku mulai terasa mulas.

"Apa AC-nya terlalu dingin?" tanya Leonard tiba-tiba.

Kukira dia sedang bertanya padaku.

Aku bahkan sudah hendak menjawab, "Nggak kok."

Namun dari kursi belakang terdengar Kania bersin.

"Iya, agak dingin. Baju saya basah kuyup. Kena angin sedikit saja langsung menggigil."

Pandangan Leonard beralih ke panel tengah.

Dia memutar kenop AC dan menaikkan suhunya tiga derajat.

Setelah itu, matanya jatuh pada selimut kasmir yang berada di pangkuanku.

Selimut itu baru beberapa hari lalu kusimpan di mobil untuk menghangatkan kaki.

"Yona."

Dia memanggilku.

"Kasih selimut itu ke Kania. Nanti dia keburu kedinginan."

Aku menoleh menatapnya.

Cahaya di dalam mobil redup, sementara sorot lampu jalan silih berganti melintasi wajah tampannya.

Ekspresinya begitu tenang, seolah permintaan itu adalah hal yang paling biasa.

Tak ada sedikit pun kesan pilih kasih. Semuanya tampak begitu tulus dan wajar.

Begitulah Leonard.

Pria sempurna yang dipuji semua orang. Lembut, penuh perhatian, dan selalu memancarkan kebaikan yang terkadang terasa begitu menyakitkan bagiku.

Tanpa berkata apa-apa, aku mengambil selimut kasmir dari pangkuanku lalu menyerahkannya ke kursi belakang.

"Terima kasih, Kak!"

Kania langsung membungkus tubuhnya dengan selimut itu tanpa sungkan.

"Kakak baik banget. Pak Leonard benar-benar beruntung bisa menikah sama Kakak."

Dia mengusap hidungnya, lalu mengembuskan napas panjang dengan wajah sangat puas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Countdown Cinta   Bab 12

    Anehnya, melihatnya seperti itu sama sekali tidak membuatku merasa puas.Yang ada hanya rasa lelah yang begitu dalam."Leonard, jangan bikin keributan lagi."Perlahan, aku melepaskan jari-jarinya dari pergelangan tanganku satu per satu."Sudahlah. Jangan bikin dirimu makin menyedihkan."Aku berbalik dan berjalan menuju pintu kamar rawat."Kalau besok kamu nggak datang ...."Aku berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang."Seumur hidup, kamu nggak akan pernah ketemu aku lagi."Keesokan paginya, cuaca akhirnya kembali cerah.Musim hujan di kota ini seolah berakhir pada hari itu.Sinar matahari menembus celah awan dan menyinari tangga di depan Kantor Catatan Sipil.Pukul delapan lewat lima puluh pagi.Aku berdiri di bawah tangga sambil melihat sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan.Leonard turun dari mobil.Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus hingga wajahnya tampak berubah.Tulang pipinya makin menonjol. Setelan jas yang dulu pas di tubuhnya kini terlihat sedikit kebesaran.Dia me

  • Countdown Cinta   Bab 11

    "Lagi-lagi kamu merasa semua yang kamu lakuin itu begitu berarti."Aku melihat wajahnya yang seketika memucat dan kehilangan harapan."Pulanglah.""Kamu mau ngelakuin apa pun, aku nggak akan pernah kembali."Kemudian, aku berbalik dan berjalan menuju lorong apartemen."Brak."Pintu unit kututup rapat.Memisahkan hujan dan angin di luar, sekaligus memutus pandangan penuh keputusasaan Leonard.Malam itu, Leonard berdiri di bawah gedung sepanjang malam.Keesokan paginya, dia dibawa pergi dengan ambulans.Demam tinggi Leonard berkembang menjadi pneumonia akut.Dia tidak sadarkan diri di rumah sakit selama satu hari satu malam.Miko Herdian, sahabat terbaiknya, meneleponku.Begitu panggilan tersambung, dia langsung memarahiku habis-habisan."Yona, apa kamu benar-benar nggak punya hati?""Dia sampai mempertaruhkan nyawanya demi kamu, tapi kamu bahkan nggak mau datang jenguk dia ke rumah sakit?""Waktu sedang demam tinggi pun dia manggil nama kamu terus. Apa kamu baru puas kalau dia sudah ben

  • Countdown Cinta   Bab 10

    Dia memiringkan payungnya ke arahku, membuat sebagian besar tubuhnya sendiri terkena hujan."Yona, jangan marah. Aku nggak nyuruh dia datang.""Mulai sekarang, dia nggak akan pernah muncul lagi."Dia menatapku dengan harapan yang penuh kehati-hatian di matanya."Malam ini ... mau makan malam bersama?"Aku menatapnya.Menatap bahunya yang basah karena hujan."Leonard," kataku pelan."Caramu mendorongnya tadi benar-benar kelihatan buruk."Tubuh Leonard langsung menegang.Jari-jarinya yang menggenggam gagang payung mengeras hingga memutih."Yona ...."Suaranya bergetar, dipenuhi rasa takut yang sulit disembunyikan."Aku sedang ngelindungin kamu.""Melindungi aku?"Aku tertawa kecil, lalu melangkah keluar dari bayangan payungnya."Kamu bukan sedang melindungiku. Kamu hanya sedang nutupin kebodohanmu sendiri.""Kamu yang buat dia mendekat, ngasih harapan yang nggak seharusnya ada, lalu sekarang kamu hancurin dia hanya untuk buktiin kesetiaanmu padaku.""Leonard, kekejamanmu terhadap dia dan

  • Countdown Cinta   Bab 9

    Aku tidak memakannya.Semua makanan itu kubuang ke tempat sampah di bawah gedung.Melihatku membuang kotak makanan yang begitu rapi dan mahal tanpa ragu, Monik sampai tak tahan untuk menggeleng kagum."Ck ck, ternyata adegan ngejar istri demi nebus kesalahan benar-benar dia nikmati."Aku menepuk kedua tanganku."Cinta yang datang terlambat sudah nggak ada artinya."Awalnya aku pikir dia tidak akan bertahan lebih dari beberapa hari sebelum akhirnya menyerah.Bagaimanapun, sejak kecil dia hidup dalam kemewahan dan selalu dimanja. Jauh di dalam dirinya, dia adalah orang yang sangat angkuh.Akan tetapi, Leonard tidak menyerah.Dia bahkan mulai diam-diam mengikuti mobilku saat aku pulang kerja.Menjaga jarak, tidak terlalu dekat tetapi juga tidak terlalu jauh.Tidak menggangguku, tetapi juga tidak pergi.Seperti hantu keras kepala yang terus membuntuti.Hari ke-20 masa tunggu perceraian.Kota ini kembali diguyur hujan.Saat aku baru keluar dari lobi lantai satu sepulang kerja, aku melihat s

  • Countdown Cinta   Bab 8

    "Lambungmu nggak kuat. Jangan minum yang dingin."Dia berusaha membangkitkan ingatanku lewat perhatian-perhatian kecil seperti itu.Namun, aku tidak menyentuh segelas susu di depanku itu."Bicara saja."Leonard menatap wajahku yang dingin.Kedua tangannya mengepal erat di bawah meja."Kania ... sudah aku pecat."Dia menarik napas dalam-dalam, seolah keputusan itu membutuhkan keberanian besar."Kerugian yang ditimbulkannya juga nggak aku bebanin sepenuhnya ke dia. Aku hanya minta dia ninggalin perusahaan."Dia menatapku, seakan menunggu pujian dariku."Sekarang, sudah nggak ada lagi penghalang di antara kita.""Pulang ya, sama aku?"Aku menatapnya.Lalu menatap angka di atas kepalanya yang melonjak drastis menjadi [412 hari] setelah dia memecat Kania.Namun, yang kurasakan hanya betapa menggelikannya semua ini."Leonard, apa kamu benar-benar berpikir kalau nggak ada Kania, kita bisa kembali kayak dulu?"Leonard tertegun."Bukankah memang gitu? Bukannya kamu bertengkar denganku karena d

  • Countdown Cinta   Bab 7

    Namun, semuanya sudah terlambat."Lepaskan."Aku menatapnya dengan dingin.Jari-jari Leonard seketika membeku.Dia belum pernah melihat tatapan sedingin itu dariku."Yona ...."Tiba-tiba, suara ceria terdengar dari samping."Pak Leonard?"Aku menoleh.Kania berdiri tidak jauh dari kami sambil membawa dua gelas kopi. Wajahnya tampak sangat terkeut.Pandangannya bergantian melihat Leonard dan aku."Kak, ada apa?"Dia segera menghampiri dengan ekspresi polos sekaligus khawatir."Apa Kakak marah sama Pak Leonard karena kejadian kemarin yang melibatkan saya?""Kalau memang ada yang salah, semuanya salah saya. Pak Leonard benar-benar orang baik, jadi jangan salahin beliau, ya."Dia menyerahkan salah satu gelas kopi kepada Leonard."Pak Leonard, semalam Bapak nggak tidur sama sekali. Minum kopi dulu supaya lebih segar."Leonard menatap gelas kopi itu, lalu menatapku.Tanpa sadar, dia melepaskan genggaman di pergelangan tanganku."Kania, kenapa kamu ada di sini?"Kania tersenyum tenang."Saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status