Share

Bab 2

Author: Muriaz
Aku menatap angka di atas kepala Leonard.

[260 hari 5 jam 08 menit.]

Berkurang dua puluh sembilan hari lagi.

Suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan. Yang terdengar hanya derasnya hujan di luar dan suara ban yang membelah genangan air.

Di depan, sebuah persimpangan dengan lampu lalu lintas menunggu keputusan.

Belok kiri menuju restoran mewah yang sudah kupesan sejak dua minggu lalu.

Lurus menuju kawasan permukiman tempat Kania menyewa kamar.

Leonard menyalakan lampu sein ke arah lurus.

Aku menatap panah hijau yang berkedip di panel instrumen.

"Kita nggak jadi ke restoran?"

Suaraku begitu pelan hingga hampir tenggelam oleh suara hujan.

Leonard menginjak rem lalu menoleh kepadaku.

Ada sedikit rasa bersalah di matanya.

"Hujannya terlalu deras. Jalan ke sana juga jelek. Nggak aman kalau dia pulang sendirian."

Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan,

"Kita antar dia dulu. Nggak masalah kalau sedikit terlambat ke restoran, 'kan."

Aku menatapnya tanpa berkedip.

"Reservasinya cuma sampai jam delapan. Sekarang sudah setengah delapan."

Leonard mengernyit tipis.

"Yona, Kania itu karyawanku. Aku nggak mungkin biarin dia sendirian di tengah hujan kayak begini."

"Ini cuma makan malam. Kalau hari ini batal, besok aku ganti."

Dia memang selalu seperti itu. Selalu merasa dirinya berada di pihak yang benar.

Karena dalam pikirannya, semua yang dia lakukan berangkat dari niat baik tanpa pamrih.

Akibatnya, siapa pun yang menghalanginya justru terlihat seperti orang yang tidak masuk akal.

Kania menyembulkan kepalanya dari kursi belakang.

"Pak Leonard, gimana kalau saya turun di stasiun MRT depan saja? Jangan sampai mengganggu perayaan hari jadi Bapak dan Kak Yona."

Nada bicaranya terdengar tulus.

Padahal di sekitar sini bahkan tidak ada stasiun MRT.

Benar saja, kerutan di dahi Leonard makin dalam.

"Jangan asal ngomong. Hujan sederas ini memangnya kamu mau naik MRT dari mana?"

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Leonard melepas rem dan menginjak pedal gas.

Mobil melaju lurus melewati persimpangan itu.

Makin jauh meninggalkan restoran yang telah kupesan.

Angka di atas kepalanya kembali berubah. [201 hari 2 jam 30 menit.]

"Terima kasih, Pak Leonard."

Setelah mengantar Kania pulang, waktu sudah lewat pukul setengah sembilan.

Bukannya reda, hujan justru makin deras.

Mobil berhenti di parkiran bawah tanah apartemen.

Leonard mematikan mesin.

Dia berbalik, lalu mengulurkan tangan untuk melepaskan sabuk pengamanku.

"Maaf, Yona."

Punggung tangannya menyentuh tulang selangkaku. Hangat.

"Besok aku batalin semua rapat. Aku temani kamu makan di restoran itu, ya?"

Aku menatap wajahnya dari jarak begitu dekat.

Tujuh tahun kami menikah.

Wajah itu masih setampan dulu, masih menyimpan kelembutan yang begitu kukenal.

Tatapannya padaku pun tetap setulus biasanya.

Namun cahaya merah menyala di atas kepalanya membuatku tak sanggup memercayai semua itu.

[198 hari 11 jam 45 menit.]

Aku melepaskan sabuk pengaman lalu membuka pintu mobil.

"Nggak usah. Aku capek dan mau istirahat."

Malam itu, tak ada lagi percakapan di antara kami.

Seusai mandi, kepalaku mulai terasa berat dan tenggorokanku pun perih.

Mungkin tadi aku masuk angin karena kedinginan di mobil.

Leonard keluar dari dapur sambil membawa segelas air hangat.

Begitu melihat wajahku yang pucat, dia langsung menghampiri dan menempelkan punggung tangannya ke dahiku.

"Kok panas banget?"

Alisnya langsung bertaut.

"Kamu masuk angin gara-gara tadi di mobil?"

Dengan sangat hati-hati dia membantuku duduk di sofa, seolah aku benda rapuh yang mudah pecah.

Setelah itu dia mengambil kotak P3K, mengeluarkan obat penurun demam dan obat flu.

Kemudian dia kembali ke dapur untuk menuangkan air hangat.

"Minum obatnya dulu."

Dia meletakkan obat di telapak tanganku dan memastikan aku benar-benar menelannya.

"Aku bikinin wedang jahe biar badanmu hangat. Kamu istirahat saja di kamar."

Aku bersandar di kepala ranjang sambil mendengarkan suara pisau mengiris jahe dari dapur.

Disusul bunyi spatula yang beradu dengan wajan, lalu suara air yang mulai mendidih.

Begitulah Leonard.

Dia tidak pernah memukul atau membentakku. Dia juga tak pernah pelit mengeluarkan uang untukku.

Saat aku sakit, dia akan merawatku tanpa mengeluh. Saat hujan, dia selalu datang membawakan payung.

Dia adalah suami yang nyaris sempurna.

Mungkin karena itulah, selama tujuh tahun aku begitu tenggelam dalam kebahagiaan yang membuatku lengah.

Sampai akhirnya hitung mundur itu muncul.

Leonard masuk sambil membawa semangkuk wedang jahe, lalu meletakkannya perlahan di atas nakas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Countdown Cinta   Bab 12

    Anehnya, melihatnya seperti itu sama sekali tidak membuatku merasa puas.Yang ada hanya rasa lelah yang begitu dalam."Leonard, jangan bikin keributan lagi."Perlahan, aku melepaskan jari-jarinya dari pergelangan tanganku satu per satu."Sudahlah. Jangan bikin dirimu makin menyedihkan."Aku berbalik dan berjalan menuju pintu kamar rawat."Kalau besok kamu nggak datang ...."Aku berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang."Seumur hidup, kamu nggak akan pernah ketemu aku lagi."Keesokan paginya, cuaca akhirnya kembali cerah.Musim hujan di kota ini seolah berakhir pada hari itu.Sinar matahari menembus celah awan dan menyinari tangga di depan Kantor Catatan Sipil.Pukul delapan lewat lima puluh pagi.Aku berdiri di bawah tangga sambil melihat sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan.Leonard turun dari mobil.Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus hingga wajahnya tampak berubah.Tulang pipinya makin menonjol. Setelan jas yang dulu pas di tubuhnya kini terlihat sedikit kebesaran.Dia me

  • Countdown Cinta   Bab 11

    "Lagi-lagi kamu merasa semua yang kamu lakuin itu begitu berarti."Aku melihat wajahnya yang seketika memucat dan kehilangan harapan."Pulanglah.""Kamu mau ngelakuin apa pun, aku nggak akan pernah kembali."Kemudian, aku berbalik dan berjalan menuju lorong apartemen."Brak."Pintu unit kututup rapat.Memisahkan hujan dan angin di luar, sekaligus memutus pandangan penuh keputusasaan Leonard.Malam itu, Leonard berdiri di bawah gedung sepanjang malam.Keesokan paginya, dia dibawa pergi dengan ambulans.Demam tinggi Leonard berkembang menjadi pneumonia akut.Dia tidak sadarkan diri di rumah sakit selama satu hari satu malam.Miko Herdian, sahabat terbaiknya, meneleponku.Begitu panggilan tersambung, dia langsung memarahiku habis-habisan."Yona, apa kamu benar-benar nggak punya hati?""Dia sampai mempertaruhkan nyawanya demi kamu, tapi kamu bahkan nggak mau datang jenguk dia ke rumah sakit?""Waktu sedang demam tinggi pun dia manggil nama kamu terus. Apa kamu baru puas kalau dia sudah ben

  • Countdown Cinta   Bab 10

    Dia memiringkan payungnya ke arahku, membuat sebagian besar tubuhnya sendiri terkena hujan."Yona, jangan marah. Aku nggak nyuruh dia datang.""Mulai sekarang, dia nggak akan pernah muncul lagi."Dia menatapku dengan harapan yang penuh kehati-hatian di matanya."Malam ini ... mau makan malam bersama?"Aku menatapnya.Menatap bahunya yang basah karena hujan."Leonard," kataku pelan."Caramu mendorongnya tadi benar-benar kelihatan buruk."Tubuh Leonard langsung menegang.Jari-jarinya yang menggenggam gagang payung mengeras hingga memutih."Yona ...."Suaranya bergetar, dipenuhi rasa takut yang sulit disembunyikan."Aku sedang ngelindungin kamu.""Melindungi aku?"Aku tertawa kecil, lalu melangkah keluar dari bayangan payungnya."Kamu bukan sedang melindungiku. Kamu hanya sedang nutupin kebodohanmu sendiri.""Kamu yang buat dia mendekat, ngasih harapan yang nggak seharusnya ada, lalu sekarang kamu hancurin dia hanya untuk buktiin kesetiaanmu padaku.""Leonard, kekejamanmu terhadap dia dan

  • Countdown Cinta   Bab 9

    Aku tidak memakannya.Semua makanan itu kubuang ke tempat sampah di bawah gedung.Melihatku membuang kotak makanan yang begitu rapi dan mahal tanpa ragu, Monik sampai tak tahan untuk menggeleng kagum."Ck ck, ternyata adegan ngejar istri demi nebus kesalahan benar-benar dia nikmati."Aku menepuk kedua tanganku."Cinta yang datang terlambat sudah nggak ada artinya."Awalnya aku pikir dia tidak akan bertahan lebih dari beberapa hari sebelum akhirnya menyerah.Bagaimanapun, sejak kecil dia hidup dalam kemewahan dan selalu dimanja. Jauh di dalam dirinya, dia adalah orang yang sangat angkuh.Akan tetapi, Leonard tidak menyerah.Dia bahkan mulai diam-diam mengikuti mobilku saat aku pulang kerja.Menjaga jarak, tidak terlalu dekat tetapi juga tidak terlalu jauh.Tidak menggangguku, tetapi juga tidak pergi.Seperti hantu keras kepala yang terus membuntuti.Hari ke-20 masa tunggu perceraian.Kota ini kembali diguyur hujan.Saat aku baru keluar dari lobi lantai satu sepulang kerja, aku melihat s

  • Countdown Cinta   Bab 8

    "Lambungmu nggak kuat. Jangan minum yang dingin."Dia berusaha membangkitkan ingatanku lewat perhatian-perhatian kecil seperti itu.Namun, aku tidak menyentuh segelas susu di depanku itu."Bicara saja."Leonard menatap wajahku yang dingin.Kedua tangannya mengepal erat di bawah meja."Kania ... sudah aku pecat."Dia menarik napas dalam-dalam, seolah keputusan itu membutuhkan keberanian besar."Kerugian yang ditimbulkannya juga nggak aku bebanin sepenuhnya ke dia. Aku hanya minta dia ninggalin perusahaan."Dia menatapku, seakan menunggu pujian dariku."Sekarang, sudah nggak ada lagi penghalang di antara kita.""Pulang ya, sama aku?"Aku menatapnya.Lalu menatap angka di atas kepalanya yang melonjak drastis menjadi [412 hari] setelah dia memecat Kania.Namun, yang kurasakan hanya betapa menggelikannya semua ini."Leonard, apa kamu benar-benar berpikir kalau nggak ada Kania, kita bisa kembali kayak dulu?"Leonard tertegun."Bukankah memang gitu? Bukannya kamu bertengkar denganku karena d

  • Countdown Cinta   Bab 7

    Namun, semuanya sudah terlambat."Lepaskan."Aku menatapnya dengan dingin.Jari-jari Leonard seketika membeku.Dia belum pernah melihat tatapan sedingin itu dariku."Yona ...."Tiba-tiba, suara ceria terdengar dari samping."Pak Leonard?"Aku menoleh.Kania berdiri tidak jauh dari kami sambil membawa dua gelas kopi. Wajahnya tampak sangat terkeut.Pandangannya bergantian melihat Leonard dan aku."Kak, ada apa?"Dia segera menghampiri dengan ekspresi polos sekaligus khawatir."Apa Kakak marah sama Pak Leonard karena kejadian kemarin yang melibatkan saya?""Kalau memang ada yang salah, semuanya salah saya. Pak Leonard benar-benar orang baik, jadi jangan salahin beliau, ya."Dia menyerahkan salah satu gelas kopi kepada Leonard."Pak Leonard, semalam Bapak nggak tidur sama sekali. Minum kopi dulu supaya lebih segar."Leonard menatap gelas kopi itu, lalu menatapku.Tanpa sadar, dia melepaskan genggaman di pergelangan tanganku."Kania, kenapa kamu ada di sini?"Kania tersenyum tenang."Saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status