LOGINAdrian membawa foto itu turun ke lobi dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Reza berjalan di sampingnya, ponsel menempel di telinga, memberi instruksi pada tim untuk menyisir setiap pintu keluar gedung—meski ia sendiri sudah tahu kemungkinan besar sudah terlambat. “Tidak ada jejak,” lapor salah satu anggota tim lewat radio. “Kamera parkiran belakang mati sejak lima belas menit lalu.” “Disengaja?” tanya Reza. “Kemungkinan besar.” Adrian menutup mata sesaat, mencoba menenangkan diri sebelum menghubungkan kembali panggilan video ke rumah Windrayana. Di layar ponsel, wajah Ferdinand masih pucat pasi, seperti orang yang baru melihat hantu masa lalunya berjalan hidup-hidup. “Papa,” kata Alessia pelan, “tolong jelaskan. Siapa yang sebenarnya meninggal malam itu?” Ferdinand tidak langsung menjawab. Ia menatap foto yang ditunjukkan Adrian lewat kamera—lima wajah muda di depan gerbang Aurora, tersenyum tanpa tahu apa yang menanti mereka. “Namanya Yusuf,” kata Ferdinand akhirnya, sua
“Itu tidak mungkin,” kata Alessia, suaranya nyaris pecah. “Rasyid meninggal dua puluh tahun lalu. Papa sendiri yang bilang begitu.” Ferdinand tidak bisa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Wajah pria di rekaman CCTV itu terus berputar—senyum singkat pada resepsionis, langkah tenang menuju lift, seolah gedung itu miliknya sendiri. “Aku melihat jasadnya,” bisik Ferdinand. “Aku ada di sana malam itu.” “Mungkin Papa salah lihat,” kata Marlena, meski suaranya sendiri tidak yakin. “Sudah dua puluh tahun. Orang bisa berubah banyak.” “Aku tidak salah lihat wajahnya, Lena.” Ferdinand menggeleng pelan. “Aku salah tentang siapa yang sebenarnya mati malam itu.” Di layar panggilan video, Adrian dan Reza masih berdiri di ruang keamanan gedung Windrayana Group, menatap rekaman yang sama. “Lantai berapa lift itu berhenti?” tanya Adrian pada petugas keamanan. “Lantai tujuh, Pak. Ruang arsip lama.” “Bawa tim ke sana sekarang. Jangan gunakan tangga darurat yang bisa dia lihat dari kamera li
“Semua orang di kantor,” kata Adrian cepat, “evakuasi sekarang. Jangan biarkan siapa pun tahu alasannya.” Reza sudah menghubungi timnya sebelum Adrian selesai bicara. “Sedang saya lakukan, Pak. Tapi butuh waktu. Windrayana Group punya lebih dari dua ratus karyawan di gedung itu.” “Berapa lama sebelum mobil itu tiba?” tanya Alessia. “Sepuluh menit, mungkin kurang.” Ferdinand mencoba berdiri dari kursi rodanya, tapi Marlena langsung menahan bahunya. “Aku harus ke sana,” kata Ferdinand. “Papa baru saja pulang dari rumah sakit,” Alessia menatapnya tajam. “Dan Papa baru saja bilang akan mengaku di depan media. Kalau Papa mati sekarang, semua itu percuma.” Kalimat itu membuat Ferdinand terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Alessia kembali ke Arcadia, papanya tidak membantah. Adrian sudah mengambil kunci mobil dari meja. “Aku ke kantor.” “Saya ikut,” kata Alessia. “Tidak.” “Itu kantor keluarga saya.” “Dan itu alasan kenapa kau harus tetap di sini,” jawab Adrian. “Kalau
Ferdinand tidak langsung menjawab. Ia menatap map kosong di pangkuannya, seolah berharap jawaban bisa muncul dari sana. "Suara yang sama?" ulang Adrian. "Anda yakin, Bu Marlena?" "Aku yakin," jawab Marlena. "Nada bicaranya, cara dia berhenti sebelum kalimat penting—aku sudah dengar suara itu sekali sebelumnya, di telepon, enam bulan lalu." "Kenapa Mama tidak pernah cerita?" tanya Alessia. "Karena aku pikir itu hanya orang iseng," kata Marlena. "Seseorang yang tahu sejarah keluarga kita dan ingin memancing masalah. Aku tidak menganggapnya serius sampai Wulan benar-benar diculik." Broto melangkah mendekat, wajahnya keras. "Kalau begitu, orang ini sudah merencanakan semua ini sejak lebih dari enam bulan lalu. Bukan baru sekarang." "Mungkin lebih lama dari itu," kata Ferdinand pelan. "Mungkin sejak Aurora runtuh." Cassandra, yang masih berdiri di samping Alessia, akhirnya angkat bicara. "Kalau memang sudah direncanakan selama itu, berarti dia tahu persis kapan harus bergerak. Dia m
Adrian menahan napas sesaat sebelum menjawab. “Siapa Anda?” “Nama saya tidak penting,” jawab suara itu. “Yang penting, Anda sudah bicara dengan Ayah Anda pagi ini. Dan sekarang Anda tahu tentang Herman.” Alessia merasa tengkuknya dingin. Orang ini tahu percakapan yang baru saja terjadi di ruangan itu—percakapan yang bahkan belum lima menit selesai. “Anda mendengarkan kami?” tanya Adrian, suaranya menajam. “Aku tidak perlu mendengarkan. Aku hanya perlu tahu Broto Kertanegara selalu mengulang cerita yang sama setiap kali merasa terpojok. Menyalahkan diri sedikit, lalu berjanji memperbaiki semuanya sebelum siang.” Suara itu terdengar geli. “Dia bilang begitu pada investor Aurora dua puluh tahun lalu juga.” Broto berdiri kaku di dekat jendela, wajahnya memucat. “Apa maumu sebenarnya?” tanya Broto, mengambil alih pembicaraan. “Ah, akhirnya Anda bicara.” Jeda sebentar. “Aku tidak menginginkan uang, Pak Broto. Uang Aurora sudah habis sejak lama, dan lagipula aku tidak butuh alasan fin
Alessia menatap pesan itu berulang kali. *Broto benar. Tapi dia tidak tahu satu hal—aku tidak pernah bekerja sendiri.* Ia menunjukkan layarnya pada Adrian tanpa berkata apa-apa. Broto ikut membaca dari balik bahu putranya, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah itu, wajahnya benar-benar kehilangan ketenangannya. “Siapa maksudnya ‘tidak bekerja sendiri’?” tanya Marlena, suaranya bergetar. “Entah,” jawab Alessia. “Tapi dia ingin kita tahu ada orang lain.” Adrian mengetik sesuatu di ponselnya, mengirim tangkapan layar pesan itu ke Reza. Balasan datang hanya dalam hitungan detik. *Sedang saya lacak. Tunggu sebentar.* Mereka menunggu dalam diam. Broto duduk kembali di sofa, kali ini tanpa sisa kewibawaan yang tadi ia bawa masuk. Ia menatap tangannya sendiri, seolah mencoba mengingat sesuatu yang sudah lama ia kubur. “Ayah,” kata Adrian akhirnya, “kalau memang ada yang bekerja bersama Damar, siapa yang paling mungkin?” Broto tidak langsung menjawab. “Ada satu nama,” katany







