"Pengaman?!" Pekikan Alya menggema pelan di lorong. Tanpa berpikir panjang, dengan wajah memerah tahan malu dan jijik, Alya langsung merampas kotak itu dan melemparkannya begitu saja ke dalam tempat sampah terdekat. Namun, dengan gerakan cepat dan santai, Dewa justru segera mengambilnya kembali dari dalam tempat sampah. "Hadiah dari staf kenapa dibuang? Bukankah dia sangat pengertian, Sayang?" goda Dewa sambil mengibaskan kotak itu ringan dan tersenyum miring. "Tapi ini tidak pantas, Mas!" protes Alya panik, matanya membelalak tak percaya melihat tingkah santai pria di hadapannya. "Apanya yang tidak pantas? Kita bisa mencobanya saat terapi berikutnya," balas Dewa enteng, binar kejahilan terpancar jelas di matanya. Alya menghela napas panjang, menatap Dewa dengan raut memohon. "Mas Dewa, aku mau pulang." Mendengar ucapan itu, raut wajah Dewa seketika berubah. Senyum godanya luntur, digantikan ekspresi tak senang yang begitu tegas. "Jangan. Aku khawatir pria brengsek itu
Last Updated : 2026-09-06 Read more