Masuk"Buka..." teriak seseorang di balik kaca. Tuk... tuk... tuk... Mau tak mau Malik menurunkan kaca mobilnya sedikit, sekadar menyisakan celah sempit. Namun seketika mata Malik terbelalak lebar. "Malik?" sapa perempuan itu ceria, kental dengan aksen bahasa Inggris. Mendengar suara perempuan asing memanggil nama Malik, Sheila mendadak menghentikan permainan lidahnya. Ia tetap bersembunyi di bawah tanpa memunculkan wajahnya ke atas. "Aku gak menyangka kita bakal bertemu di sini!" ucap perempuan itu gembira, membuat Malik mendadak kikuk. Apalagi di bawah sana, Sheila tiba-tiba berwajah masam dan mengetatkan cengkeramannya. "Eh, iya, Miss... engh!" Napas Malik tersendat saat miliknya kembali digenggam erat dan diremas sengaja oleh Sheila dari bawah. "Ada apa? Kamu sakit?" tanya Aurora, mengernyitkan dahinya heran melihat ekspresi menahan nikmat di wajah Malik. "Gimana kalau kita makan malam bersama?" ajak Aurora antusias. "Kebetulan aku free hari ini, sekalian ngobrolin bis
"Cepat, Lik! Belokkan ke hotel terdekat!" perintah Sheila, nadanya bergetar hebat. Tangannya masih mendekap dadanya erat, seolah tak sabar ingin melepas ikatan yang menghimpitnya. "Tapi, Mbak..." "Kamu lupa tugasmu?!" "Eh, iya, Mbak," balas Malik cepat. Seluruh tubuhnya seketika menegang kuat, begitu pula dengan kejantanannya di balik celana yang mendadak mengeras kencang begitu menangkap tatapan sayu dan rintihan parau dari bibir Sheila. "Mana sih hotelnya?!" rutuk Sheila, seolah tak sanggup lagi menahan gejolak panas di dalam tubuhnya yang mendesak minta dibelai. "Sabar, Mbak... Ini masih di dalam tol," balas Malik tanpa berani berpaling, khawatir gairahnya makin liar jika terus-terusan memandangi lekuk dada Sheila yang setengah terekspos. "Gimana kalau pinggirkan saja mobilnya?" "Jangan, Mbak! Nanti ada yang lihat, gak efisien banget," protes Malik menggeleng tegas, membuat Sheila tersentak menyadari ucapan Malik ada benarnya. Tiba-tiba, jemari mulus Sheila merayap
"Mbak mau ke mana?" tanya Malik, pandangannya terkunci total pada penampilan Sheila yang luar biasa menawan. Sheila hanya tersenyum tipis, melangkah turun dengan anggun dari anak tangga hingga berdiri tepat di hadapan pria itu. Malik yang mengenakan kemeja formal tampak sangat serasi, secara tak sengaja warna pakaian mereka senada. "Tanpa sepengetahuan Aris, aku menyelinap lagi ke dunia model. Aku memanfaatkan kesibukannya, dan kamu yang bakal selalu mengantarku," ucap Sheila yang sukses membuat Malik menganga tak percaya. "Aris selalu melarangku terjun ke sana lagi. Kemarin saat aku mendapat tawaran model, dia marah besar sampai membanting barang-barang di depanku. Itu yang bikin aku takut... dan aku harap kamu bisa tutup mulut," lanjut Sheila. Malik makin terkejut mendengarnya. "Sudahlah, ayo," ucap Sheila lagi, enggan dikasihani oleh siapa pun—termasuk Malik. Malik sendiri baru mengetahui kalau wanita di depannya ini adalah seorang model profesional. "Ingat, Malik, ini
“Bagaimana bisa Juki menghilang? Dia resign atau gimana?” tanya Malik melalui sambungan telepon sambil mengemudikan mobil, berbelok menuju jalan pulang. "Saya kurang tahu, Pak Malik. Tapi tiba-tiba saja Pak Juki gak ada di lokasi. Saya juga sudah beberapa kali menelepon beliau, tapi tidak di angkat," jelas pria di seberang telepon. “Aku harus bicarakan ini dulu dengan Pak Aris. Nanti kita cari pengganti untuk posisi di bagian keuangan,” ucap Malik singkat. Ucapannya disambut anggukan patuh dari pegawainya sebelum sambungan telepon itu terputus. "Besok aku obrolkan deh," gumam Malik seraya membelokkan mobilnya masuk ke dalam garasi. Benaknya masih berkecamuk memikirkan Juki yang mendadak lenyap. Jika memang berniat resign, bukankah bisa dibicarakan baik-baik? Apa pria itu tersinggung oleh gertakannya? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di kepala Malik hingga membuatnya merasa pusing. "Ah, sudahlah. Biar besok aku pikirkan lagi," desisnya seraya membuka dua kancing kemeja t
Leo langsung menoleh. Tatapannya menunjukkan sedikit rasa terkejut melihat aura mengintimidasi yang dibawakan Malik. Meski begitu, Leo berusaha memberanikan diri untuk tetap menegakkan kepalanya. "Apa?" tanya Leo, berusaha bersikap biasa saja demi menyembunyikan kegugupannya. Ia menoleh sekilas lalu memandang lurus ke depan, seolah enggan menatap langsung wajah pria gagah di hadapannya itu. "Aku belum melihat notifikasi apa pun di grup kantor," ucap Malik tegas. Leo terkekeh pelan,suara yang nyaris sumbang dan terdengar bergetar. "Jangan harap! Enak saja, sudah susah payah aku menjatuhkan namamu, masa aku harus menaikkannya lagi?" balas Leo tajam seraya menyunggingkan senyum kemenangan. "Jangan memancing emosiku, Leo." "Kenapa? Mau main kekerasan? Ayo, satu lawan satu! Tapi jangan heran kalau nanti akhirnya kamu akan dipecat!" tantang Leo seraya memasang kuda-kuda di dalam area kantor, membuat semua mata yang melintas seketika menoleh ke arah mereka. Malik menghela napas p
"Hais, perempuan itu, Lik! Kenapa dia belum juga hamil? Bukannya kalian sering melakukannya?" tanya Aris blak-blakan, membuat tubuh Malik seketika menegang. Malik sama sekali tak berniat menjawab. "Kapan terakhir kali main? Apa pas waktu aku tonton itu?" tanya Aris lagi tanpa ragu, membuat Malik makin merasa tidak nyaman. Malik akhirnya mengangguk singkat berbohong. Dalam hati ia bernapas lega, menyadari Aris tidak tahu kalau tadi pagi ia dan Sheila baru saja melakukannya. "Aduh, Lik! Yang sering dong... aku butuh keturunan," desak Aris, membuat dahi Malik berkerut dalam. "Ya itu di luar kendaliku, Ris," balas Malik dingin. Gimana mau hamil, wong Sheilanya saja rajin minum pil KB? batin Malik berteriak, meski tak berani ia lontarkan secara terbuka. Aris mendesah kasar, mengepalkan pulpen yang sejak tadi ia genggam erat. "Papa mertuaku sepertinya ingin segera menimang cucu, Lik. Ini bakal bagus buat posisi kita. Kalau kami punya keturunan, Papa Sheila bakal dengan gampa







