"Eh, Papa kok gak masuk?" tanya Sheila sedikit gugup. Tatapannya mendadak terlihat malas saat melihat wanita yang berdiri di sebelah ayahnya. "Iya, Papa lama menunggu kamu, She. Eh, ini..." Pandangan sang ayah terlempar pada Malik—pria gagah dan tampan yang mengenakan kaos hitam, membungkus ketat otot-otot tubuhnya yang menonjol. "Karyawan baru Aris?" "Eh, iya, Om. Perkenalkan, Malik," balas Malik cepat dan sopan seraya menjabat tangan kedua orang tua Sheila dengan menundukkan kepala. "Aris katanya masih mengurus lembur. Dia senang banget pemasrannya melejit gara-gara ada klien dari luar negeri. Luar biasa memang Si Aris itu. Papa semakin bangga sama dia, She," ucap sang ayah yang memang tak henti-hentinya selalu memuji Aris. Mendengar itu, Sheila mendesah pelan. "Ya sudah deh, Pah. Ayo masuk ke rumah, dingin juga di luar," sela Sheila sengaja mengubah topik. "Gak perlu, Papa cuma mampir. Ini mamamu kangen sama kamu, dia juga bawakan oleh-oleh dari Hong Kong. Papa sudah mint
Last Updated : 2026-09-17 Read more