Deg. Jantung Raia berhenti berdetak. Jemarinya kaku. Rupanya, Leo memperhatikan apa yang ia bawa pagi tadi. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Menatap manik Leo penuh kilatan tak sabar menuntut jawaban.“B-bukan, Pak,” lirih Raia, samar. “Itu ... hanya draft evaluasi internal yang belum selesai,” lanjutnya, menjaga nada suaranya.“Bawa ke sini,” potong Leo datar. Tangannya terulur di atas meja. “Saya mau periksa sejauh mana draft yang kamu kerjakan.”Napas Raia tercekat. Surat pengunduran diri itu ... berada di waktu yang tidak tepat. Jika Leo membaca isi map itu sekarang, tentu ia akan menolaknya mentah-mentah.“Eum—”Melihat raut kebingungan Raia, Gavi terkekeh sambil menepuk bahu Leo. “Sudahlah, Leo, saya sangat lapar,” lanjutnya memegang perut ya. “Urusan pekerjaan dan berkas lainnya, bisa diurus setelah makan siang. Ayo berangkat sekarang ... reservasi sudah menunggu kita.”“B-baik, Pak Gavi,” sambut Raia tanpa beprikir dua kali. “Saya ambil tas sebentar,” lanjut Raia, menya
Last Updated : 2026-08-19 Read more