Raia memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya, meski dadanya terasa semakin sesak. "Iya, Suster ... Sangat spesial," cicitnya pelan, mengelus permukaan liontin perak itu dengan jemari yang masih bergetar.Ia tak sanggup menambahkan bahwa pemilik asli kalung itu kini telah tiada—menyisakan ruang hampa di hatinya yang ironisnya mulai terisi perlahan oleh atasannya sendiri.Suster Pearly menangkap perubahan raut wajah Raia. Ia memasang senyum di wajahnya, tidak melontarkan pertanyaan lebih jauh."Baiklah, Nona Raia. Kompres hangatnya sudah pas, bantal penyangga tulang belakangnya juga sudah terpasang rapi. Sekarang Nona istirahat ya, jangan memikirkan hal yang berat-berat dulu,” tutur Suster Pearly menenangkan, ia menepuk selimut Raia dengan pelan. “Saya bawa suntikan ini ke nurse station untuk kroscek langsung ke dokter jaga," lanjut Suster Pearly lembut."Terima kasih banyak, Suster Pearly," balas Raia tulus.Suster Pearly mengangguk ramah, memutar tubuhnya, lalu mendorong troli medi
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-02 อ่านเพิ่มเติม