"Saya tidak menyalahkan Anda, Pak," sahut Raia, membela diri.Ia menahan napas, menghembuskan dengan perlahan. "Saya hanya menyampaikan fakta,” lanjutnya geram. “Anda meminta saya tetap di sini, tapi Anda sendiri yang pergi dan membiarkan saya menghadapi Evelyn seorang diri."Leo mengamati mimik Raia yang berubah panik. "Fakta?" ulang Leo, mengulas senyum tipis di bibirnya.Raia mengepalkan tangannya, menahan emosi. “Ibu...," potong Raia. “Saya ingin bertemu Ibu.”Bukannya menjauhkan tubuhnya dari Raia, pria itu justru melingkarkan lengan kokohnya di belakang pinggang Raia, merengkuhnya erat hingga tubuh wanita itu terkunci di sisinya."Ibu masih di sana," bisik Leo tepat di pelipis Raia, membuat wanita itu meejakan matanya. "Dan kita akan menemui Beliau sekarang."Dengan posesif, Leo menuntunnya menuju area meja VIP yang terletak di sisi kiri ruangan. Raia melangkah dengan dada yang bergemuruh, berjuang keras menetralkan raut wajahnya di bawah dekapan Leo.Tatapan penuh tanya mengir
Dernière mise à jour : 2026-09-08 Read More