Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 70 - Saya Terima, Pak.

Share

Bab 70 - Saya Terima, Pak.

Author: Anidania
last update publish date: 2026-09-13 17:10:33

Pria itu memalingkan pandangannya kembali pada sekretaris ibunya dengan tatapan mengintimidasi. "Sebutkan di mana ibu berada. Sekarang."

Sekretaris itu menelan ludah susah payah, jemarinya saling bertaut di depan tubuhnya. "D-di lounge eksklusif lantai tiga Xavierezen Mall, Pak ...."

Tanpa menunggu lebih lama, Leo menarik pergelangan tangan Raia sedikit kasar, memaksa wanita itu setengah berlari menyeimbangi langkah lebarnya menuju arah parkiran eksekutif. Kepanikan yang merayapi kepalanya memb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Day We Do It   Bab 75 - Tidak Semua Harus Dijawab

    "Pelepasan jabatan saya adalah keputusan strategis yang direncanakan secara terstruktur di waktu yang tepat, di saat Vaneric berada di puncak kejayaannya," lanjut Leo begitu lugas. Ia mengatakan dengan penuh bangga pencapaian dirinya di Vaneric Group."Saya yang menentukan arah transisi perusahaan ini, dan saya sendiri yang memegang kendali penuh atas siapa yang layak menggantikan saya. Dan yang jelas ... itu bukan kamu, Sandy," pungkasnya, terdengar sinis.Sandy mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras karena menyadari pengakuan Leo justru tidak memberi ruang sedikit pun baginya untuk mengambil alih kekuasaan. Ia menatap Leo dan Raia bergantian dengan wajah geram. Tahu bahwa rencananya untuk mempermalukan Leo berbalik menjadi penegasan kekuasaan sang CEO, membuat pria itu akhirnya mendengkus kasar."Kita lihat saja nanti di rapat komisaris, Leo!" bisik Sandy penuh kedengkian. Pria itu berbalik, melangkah keluar dengan hentakan kaki penuh amarah tanpa satu patah kata pun.Setelah kep

  • The Day We Do It   Bab 74 - Leo Akhirnya Mengaku

    "Calon tunangan?" cibir Sandy, memajukan wajahnya dengan raut tidak percaya. "Jangan asal mengarang, Raia. Berkas yang saya baca itu jelas-jelas tentang studi teologi pastoral,” lanjutnya tak mau kalah.Raia melongo mendengar ucapan Sandy yang ... terlalu menyakitkan. Dadanya tiba-tiba sesak seperti dihantam batu yang begitu besar. Apakah ... bosnya sudah melangkah sejauh itu tanpa ia ketahui? Apakah ia kecolongan, lagi?Sandy tersenyum puas menatap wajah Raia yang terkejut, ia berdeham, berusaha mengembalikan fokus wanita itu. “Setahu saya ... studi itu bukan main-main. Gimana bisa kamu putar balikkan jadi bimbingan pra-nikah? Kalian bahkan belum pernah ada bimbingan apa-apa, kan?" tanyanya memicingkan mata, memojokkan posisi Raia.Leo menoleh, menatap Raia dengan raut wajah yang tertekan. Rahangnya mengerat. Sorot matanya begitu tajam, dan dadanya bergerak naik turun tak beraturan. Dalam hatinya, ia memaki Sandy yang terlalu frontal memojokan dirinya.Raia membalas tatapan Leo denga

  • The Day We Do It   Bab 73 - Calon Tunangan?

    "Mengambil alih?" desis Leo, melangkah maju hingga Sandy terpaksa mendongak untuk menatap matanya."Kamu terlalu cepat bermimpi, Sandy. Bahkan sebelum kamu menyentuh kursi CEO itu, saya akan memastikan kamu tidak punya celah sedikit pun untuk melangkah lebih jauh di gedung ini."Sandy melangkah mundur, lalu tertawa pelan. Seolah ia tak takut dengan ancaman Leo."Gertakan yang bagus, Leo," bisik Sandy, mengejek. "Tapi kalau kamu memang berniat mempertahankan kursi CEO itu, lalu ... bagaimana dengan rencana pendidikan pastor kamu?" tanyanya, menaikkan sebelah alisnya.Kalimat itu membuat keduanya terkejut."Pendidikan pastor?" lirih Raia, menatap Leo penuh tanda tanya.Raut wajah Leo seketika berubah. Matanya tajam, rahangnya mengeras. "Kamu ..." Leo menelan ludah, menatap Sandy dengan tatapan tak percaya. "... kamu tahu dari mana?"Sandy menyeringai lebar, menikmati raut panik yang berhasil ia pancing dari pria yang selama ini begitu sulit disentuh."Dunia ini sempit, Leo. Kamu pikir k

  • The Day We Do It   Bab 72 - Kesempatan Emas Sandy

    Terlalu jauh? Leo membatin, menelan ludah dengan tenggorokan yang mendadak terasa kering.Raia benar-benar tidak menyadarinya. Wanita itu terlalu polos—atau mungkin menolak—bahwa bagi Leo, situasi ini bukanlah awal dari sebuah sandiwara gila.Pria tegap itu tidak memundurkan tubuhnya sedikit pun. Leo justru makin mencondongkan badan di atas meja, memangkas jarak di antara keduanya hingga tatapan mereka beradu."Ini memang bukan sekadar alibi di atas kertas, Rai," desis Leo. "Saya ingin kamu membiasakan diri dari sekarang... karena begitu ketika berada di hadapan ibu, saya tidak akan menahan diri untuk tidak memperlakukan kamu seperti milik saya."Leo mengetuk meja dengan jemarinya, menatap Raia beberapa detik, lalu memundurkan tubuhnya. "Habiskan makanamu, Raia."....."Raia! Baguslah sudah kembali," celetuk Sinta setengah berbisik, wanita itu menghampiri Raia yang hendak masuk ke dalam lift, menyusul Leo yang sudah masuk terlebih dahulu. "Di ruang tamu, ada Pak Sandy yang sudah menun

  • The Day We Do It   Bab 71 - Terlalu Jauh?

    Leo tertegun. Tatapannya tertuju pada Raia yang perlahan bisa mengendalikan deru napasnya."Saya janji, Rai," tutur Leo menganggukkan kepala. "Saya tidak akan membuang waktu yang kamu berikan," lanjutnya penuh percaya diri.Raia menghembuskan napas panjang, merapikan blazer dan tas bahunya."Bagus," ucap Raia, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Bapak dari pagi belum menyentuh makanan sama sekali, kan? Emosi Bapak kacau juga gara-gara perut kosong."Leo mengerutkan dahinya sejenak, sedikit terkejut dengan peralihan topik Raia yang mendadak."Kita tidak bisa menyusun strategi dengan kepala panas dan perut lapar," lanjut Raia tegas. "Kita cari tempat makan dan bahas semua aturan pertunangan ini sembari makan siang."Leo tak memprotes ucapan Raia. Kehadiran Raia yang tiba-tiba mengambil alih kendali justru memberinya rasa aman. Pria tegap itu mengangguk, dan membimbing Raia menuju mobilnya.Tanpa menunggu lama, mereka sudah berada di sebuah private room restoran Jepang yang tak j

  • The Day We Do It   Bab 70 - Saya Terima, Pak.

    Pria itu memalingkan pandangannya kembali pada sekretaris ibunya dengan tatapan mengintimidasi. "Sebutkan di mana ibu berada. Sekarang."Sekretaris itu menelan ludah susah payah, jemarinya saling bertaut di depan tubuhnya. "D-di lounge eksklusif lantai tiga Xavierezen Mall, Pak ...."Tanpa menunggu lebih lama, Leo menarik pergelangan tangan Raia sedikit kasar, memaksa wanita itu setengah berlari menyeimbangi langkah lebarnya menuju arah parkiran eksekutif. Kepanikan yang merayapi kepalanya membuat Leo tak lagi bisa berpikir logis."Pak Leo, lepas! Pak!" pekik Raia sambil berusaha menarik tangannya.Namun, tenaga Leo jauh lebih kuat. Pria itu menahan lengan Raia, terus menyeretnya menyusuri lorong. Raia akhirnya memusatkan seluruh tenaganya dan menghentakkan tangan dengan sentakan keras, hingga cengkeraman Leo terlepas total."Pak Leo, stop!" sela Raia tegas. Ia berdiri tegak dengan dada yang naik-turun kasar menahan napas."Jika dari awal Bapak memang berniat mundur dari perusahaan in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status