"Lepasin! Pak Reno gila! Bapak udah gila!" jerit Anindya meronta-ronta dari cengkraman Reno.Anindya memukul dada tegap Reno dengan membabi buta, melampiaskan rasa takut dan gemetar hebat di sekujur tubuhnya. Tatapan mata Reno yang dingin bagai es membuat napasnya terasa kian sesak.Namun, alih-alih makin memperketat cengkramannya, tangan Reno perlahan melonggar. Pria itu menghela napas panjang, lalu melangkah mundur satu langkah.Tiba-tiba, sudut bibir Reno terangkat tipis. Tatapan dinginnya mencair, berganti menjadi riak geli yang tak bisa ditutupi."Pukulan kamu pelan banget," gumam Reno santai. "Latihan muaythai kamu waktu kuliah ternyata nggak ada gunanya."Anindya terpaku dengan dada kembang kempis. "M-maksud Bapak apa?! Jangan ngalihin pembicaraan ya! Bapak tadi bilang—""Saya cuma akting," potong Reno cepat. Pria itu berjalan santai menuju meja kerja, menyandarkan pinggulnya di tepi meja lalu melipat kedua tangan di dada. "Saya cuma mau lihat, seberapa takut kamu kalau saya be
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-13 อ่านเพิ่มเติม