MasukPukul 07.15 WIB. Gedung Graha Nusantara, Jakarta Pusat.Suasana di luar gedung pencakar langit itu seperti medan perang. Puluhan preman sewaan berjas hitam milik Tuan Wijaya memblokir gerbang utama, sementara puluhan wartawan berjejal di balik pagar barikade."Laporan langsung dari lokasi RUPS! Pihak Tuan Wijaya baru saja menyatakan bahwa rapat pemungutan suara Direktur Utama akan dimulai tepat pukul delapan pagi tanpa kehadiran Reno Dirgantara yang diduga kabur bersama buronan—"WUSH-WUSH-WUSH!Suara kibasan baling-baling helikopter memotong laporan reporter itu. Sebuah helikopter komersial berwarna hitam legam bertuliskan logo Dirgantara Group menukik turun dari langit pagi Jakarta, mendarat mulus tepat di helipad atap gedung!Para pengawal Tuan Wijaya di atap kaget setengah mati. Belum sempat mereka bereaksi, pintu helikopter terbuka. Tiga belas pengawal pribadi berseragam taktis turun duluan, membanting barikade atap dan membuka jalan.Reno keluar lebih dulu dengan jas abu-abu gel
"Jangan ngawur, Reno! Kamu mau dikeroyok puluhan polisi?!" seru Anindya panik. Tangannya makin erat meremas kemeja hitam Reno.Reno membalikkan badan, lalu menangkup kedua pipi Anindya dengan hangat. "Dengar saya. Mereka ke sini bawa surat perintah atas nama kamu, bukan saya. Selama mereka nggak punya izin geledah resmi yang ditandatangani hakim malam ini, mereka nggak bisa asal masuk. Saya cuma perlu ulur waktu sepuluh menit.""Tapi—""Lari, Anin. Sekarang!" potong Reno tegas.Anindya menyambar tas dokumennya dari kursi, lalu berlari kencang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa begitu berat karena rasa takut yang membakar dada.BRAMMM!Di bawah, pintu utama vila dibuka lebar oleh Reno. Suara gemuruh hujan dan raungan sirene langsung menerobos masuk ke dalam vila.Dari balik celak celak pembatas tangga lantai dua, Anindya mengintip dengan napas terengah-engah.Dion berdiri di paling depan bersama Pengacara Wijaya dan lima petug
"Surat perintah penangkapan...?" cicit Anindya. Suaranya bergetar hebat. Sendok di tangannya terlepas, jatuh terbentur piring porselen dengan bunyi nyaring.Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Reno memintanya menikah, dan kini ia menjadi buronan atas tuduhan kejahatan berat yang tidak pernah ia lakukan."Pak Bagas, ini nggak salah?!" desak Anindya panik, matanya berkaca-kaca menatap ponsel di meja. "Saya bahkan nggak pernah pegang dokumen asli milik almarhum Ayah Pak Reno!""Skenario Tuan Wijaya sangat rapi, Nona Anindya!" seru Bagas dari balik telepon. "Dia memanfaatkan pengacara lama keluarga untuk bikin draf warisan palsu, lalu memotong video rekaman CCTV kantor seolah Nona menyusup ke ruang arsip! Media sudah menggoreng beritanya, dan polisi dalam perjalanan ke Surabaya setelah melacak sinyal terakhir!"Napas Anindya memburu, kepalanya mendadak pusing membayangkan dirinya diborgol di depan media seluruh Indonesia."Bagas," potong Reno dingin, memutus histeria
"Pak, gimana ini?! Kalender jam lima pagi mereka udah siap bikin beritanya melayang ke mana-mana!" Anindya panik setengah mati seraya meremas map dokumennya.Reno dengan cepat memancing kancing kemeja hitamnya sampai rapi, lalu mengenakan jasnya kembali. Wajahnya begitu tenang, tapi sorot matanya tajam bagai belati."Tenang, Anin. Ikut saya lewat lorong evakuasi belakang," bisik Reno seraya meraih jemari Anindya."Tapi dokumennya—""Dokumen itu tetap aman sama kamu. Mari kita kasih Dion dan media pertunjukan yang beda."Lewat pintu rahasia staf hotel dan pengawalan ketat tim cadangan, mereka berhasil mengecoh massa Dion dan keluar dari area hotel tanpa tercium media. Namun, menyadari perjalanan kembali ke Jakarta masih berbahaya dan waktu RUPS tinggal menghitung jam besok pagi, Reno membawa Anindya ke sebuah vila pribadi milik keluarga inti yang tersembunyi di pinggiran Surabaya.Pukul tujuh malam. Vila Kayu, Surabaya.Keheningan melingkupi vila mewah berdinding kaca itu. Hujan gerimi
"Serahkan tas itu, Anindya!" bentak Dion seraya memberi isyarat pada anak buahnya.Suara benturan besi dan teriakan pecah di tengah rintik hujan. Maya dan dua pengawal pria bertarung habis-habisan menahan belasan preman."Nona! Lari!" teriak Maya seraya mengunci pergerakan dua anak buah Dion.Tanpa berpikir panjang, Anindya memeluk tas dokumennya erat-erat dan berlari menembus kegelapan pinggir jalan tol. Napasnya memburu, kakinya yang terluka akibat benturan terasa makin perih. Di belakangnya, suara derap langkah Dion dan dua preman terdengar makin mendekat.BIP-BIP!Tiba-tiba, sebuah mobil van hitam melaju kencang dari arah belakang, membanting stir dan berhenti tepat di samping Anindya. Pintu geser terbuka lebar."Nona Anindya, cepat naik!" teriak seorang pria berseragam pengawal tim cadangan Reno.Tanpa ragu, Anindya melompat masuk. Mobil langsung tancap gas, meninggalkan Dion yang memaki habis-habisan di tengah hujan. Anindya menyandarkan punggungnya, dadanya naik turun tajam. Ia
"Pak Reno! Keputusannya harus sekarang!" desak Bagas dengan wajah pucat pasi. "Pintu RUPS sudah dikunci dari dalam oleh orang-orang Tuan Wijaya. Kalau Bapak tidak masuk sekarang, pemungutan suara akan dianggap sah tanpa sanggahan!"Anindya meremas jemari Reno yang makin teraba dingin. "Pak... Ibu. Nyonya Besar lebih butuh Bapak sekarang."Reno memejamkan mata sejenak. Tarikan napasnya terasa amat berat, seolah beban seluruh dunia dihantamkan ke pundaknya. Begitu matanya kembali terbuka, kilat tegas dan dingin terpancar jelas dari manik hitamnya."Bagas,dobrak pintu RUPS itu pakai pengawal," perintah Reno dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Tahan mereka. Jangan biarkan ada satu pun kertas hasil pemungutan suara yang ditandatangani sampai saya kembali.""Tapi Pak—""Lakukan sekarang!" potong Reno tanpa bantahan. Ia lalu menoleh lurus pada Anindya. "Anin, kamu ikut saya ke rumah sakit.""I-iya, Pak!"Anindya langsung menyambar map tebalnya dan berlari kecil menyamai langkah tegap







