LOGINBab 3
Nara menatap angka digital di layar ponselnya dengan panik. 20.53 WIB. Tersisa tujuh menit. Dengan tangan bergetar, dia mengetuk pintu kayu di ujung lorong dengan tidak sabaran. Tok! Tok! Tok! Pintu terbuka, Arkan berdiri di sana, sudah berganti pakaian dengan kaus rumahan hitam longgar. Alisnya bertaut melihat napas Nara yang memburu. "Nara? Katanya kamu pusing …," Nara langsung menerobos masuk, mendorong dada Arkan, lalu membanting pintu kamar pria itu hingga tertutup rapat. Klik. Dia memutar kunci dari dalam. "Kamu gila?" Arkan mundur satu langkah, menatap Nara heran. "Kalau Papa atau Mama dengar di bawah …," "Kita tamat, Arkan!" potong Nara setengah berbisik, suaranya bergetar menahan tangis. Dia menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Arkan. "Lihat ini! Lihat perbuatan egoismu tadi siang!" Arkan mengambil ponsel Nara. Matanya menyipit saat membaca deretan teks pemerasan dan melihat lampiran foto mereka di parkiran kampus. Bukannya panik, rahang Arkan justru mengeras. Atmosfer di dalam kamar seketika mendingin. "Siapa yang mengirim ini?" tanya Arkan, suaranya mendadak berat dan rendah. "Mana aku tahu!" Nara meremas ujung bajunya frustrasi. "Lihat jamnya, Arkan! Lima menit lagi! Dia minta aku mengirim surat pengunduran diri dari Beasiswa London malam ini juga, atau foto ini disebar ke grup angkatan besok pagi!" Arkan melirik jam di dinding. "Lalu? Kamu mau mundur?" "Aku gak punya pilihan!" Air mata Nara akhirnya luruh. "Kalau foto ini menyebar, gimana nasib Papa? Gimana nasib Mama? Karier Papa sebagai Dekan bisa hancur karena rumor skandal anak tiri! Dan aku ... aku nggak mau jadi konsumsi gosip menjijikkan satu kampus!" "Gila," desis Arkan, matanya berkilat marah. Dia melangkah mendekati Nara, mencengkeram kedua pundak gadis itu dengan tegas. "Dengar aku, Nara. Kamu tidak akan mundur dari beasiswa itu. Sedikit pun jangan pernah berpikir untuk menyerah." "Kamu egois!" Nara memukul dada Arkan, mencoba melepaskan cengkeraman pria itu. "Kamu enggak peduli karena kamu selalu jadi nomor satu! Kamu enggak peduli kalau namaku hancur! Lepasin!" "Nara, diam dan dengarkan aku!" bentak Arkan pelan namun penuh penekanan, membuat Nara seketika terbungkam dengan sisa isak tangisnya. Arkan menatap langsung ke dalam manik mata Nara yang basah. "Aku yang memicu ini, jadi aku yang akan membereskannya. Jangan kirim surat apa pun ke panitia." "Tapi waktunya habis, Arkan! Tinggal tiga menit lagi!" Nara menunjuk ponselnya yang masih digenggam Arkan. "Kalau dia menyebarkannya gimana?" sambung Nara dengan suara yang masih bergetar. Arkan tidak menjawab. Dia beralih mengetik sesuatu di ponsel Nara dengan cepat. "Kamu ngapain?" Nara mencoba merebut ponselnya, namun Arkan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Mengulur waktu," jawab Arkan tenang. Dia mengembalikan ponsel itu ke tangan Nara. Nara membaca pesan yang baru saja dikirim Arkan ke nomor pemeras itu. “Sistem email fakultas sedang down malam ini. Aku butuh waktu sampai besok jam 10 pagi untuk menyerahkan surat fisik langsung ke ruang dekan. Jangan sebar fotonya atau kamu tidak akan mendapatkan apa-apa.” Bzzzt. Detik itu juga, sebuah balasan masuk. Tidak dikenal "Besok jam 10 pagi. Di meja panitia. Satu menit terlambat, semua orang akan tahu kelakuan menjijikkan kalian." Nara terduduk lemas di tepi tempat tidur Arkan, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangan. "Besok jam sepuluh ... aku harus menyerahkan mimpiku ke London secara sukarela." Arkan tidak mempedulikan keluhan Nara. Dia langsung berbalik menuju meja belajarnya, membuka MacBook miliknya, dan memakai kacamata baca berbingkai hitam. Jemarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik. "Arkan, kamu mau ngapain?" tanya Nara sambil menghapus air matanya, berjalan mendekat ke belakang kursi Arkan. "Melacak nomor ini," jawab Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari barisan kode di layarnya. "Dia mengirim pesan lewat nomor virtual sekali pakai. Tapi dia ceroboh saat melampirkan foto. Metadata file-nya tidak dihapus." "Metadata? Maksudmu?" "Detail digital waktu pengambilan gambar, jenis kamera dan yang paling penting ... IP address saat file itu pertama kali diunggah ke server hosting nomor virtual itu." Arkan mengklik beberapa tombol dengan kasar. "Dia mengunggahnya menggunakan Wifi publik kampus." "Wifi kampus?" Nara mencondongkan tubuhnya ke arah layar, ikut membaca tulisan-tulisan rumit yang tidak terlalu dia pahami. "Bukannya jangkauan Wifi kampus itu luas banget?" "Jangkauan Wifi gedung B, lantai dua, lobi senat mahasiswa," ralat Arkan dengan senyum sinis yang dingin. "Dan sistem autentikasi Wifi kampus kita mewajibkan setiap mahasiswa memasukkan NIM mereka untuk bisa login." Nara menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membelalak. "Kamu ... kamu bisa meretas data log server kampus?" "Aku punya akses admin untuk server komunitas debat dan riset hukum yang terintegrasi dengan jaringan pusat. Cuma butuh sedikit penyaringan." Arkan menekan tombol Enter dengan mantap. "Ketemu!" Sebuah baris data muncul di layar, menampilkan nama pemilik NIM yang menggunakan jaringan tersebut tepat pada pukul delapan malam tadi. "Kevin Mahendra," bisik Nara, suaranya tercekat di tenggorokan. "Benar-benar Kevin? Tapi kenapa dia setega itu?" "Karena dia berada di peringkat kedua tepat di bawahmu, Nara," sahut Arkan, melepaskan kacamatanya lalu bersandar di kursi. "Jika kamu mundur sebelum jam sepuluh besok pagi, otomatis kuota beasiswa ke London jatuh ke tangannya. Licik, tapi efektif." Nara menggelengkan kepala, masih tidak percaya. "Dia selalu tersenyum manis di kampus. Dia kelihatan sangat mendukungku." "Senyum manis di kampus itu cuma topeng, Nara. Di fakultas hukum, semua orang saling injak demi ambisi," ucap Arkan sinis. Dia berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Nara hingga jarak mereka kembali mengikis. "Sekarang, kita punya kartu as untuk menghancurkannya balik," bisik Arkan. "Caranya? Kita laporkan dia ke Papa?" "Jangan bodoh! Kalau kita lapor Papa, foto itu tetap akan diperiksa. Hubungan kita di dalam mobil tetap akan dipertanyakan," tukas Arkan tajam. "Kita selesaikan ini dengan cara kita sendiri. Besok pagi, jam sembilan, temui dia di ruang senat. Bawa aku sebagai saksi," titah Arkan. Nara mendongak, menatap mata Arkan yang begitu dekat. "Kamu ... kamu benar-benar akan melindungiku?" "Aku tidak melindungimu karena aku kakakmu, Nara. Sudah kubilang berapa kali," bisik Arkan, suaranya mendadak berubah serak. Dia mengikis jarak, membuat Nara bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu. "Aku melakukan ini karena aku egois. Aku tidak suka milikku diusik orang lain." Nara menelan ludah, jantungnya kembali berdegup abnormal. "Aku bukan milikmu, Arkan." "Belum," balas Arkan dengan seringai tipis. Tok! Tok! Tok! Ketukan keras di pintu kamar Arkan seketika menghancurkan ketegangan di antara mereka. Suara Ratna terdengar dari balik pintu. "Arkan? Kamu belum tidur, Nak? Mama dengar ada suara orang mengobrol di dalam. Nara mana? Di kamarnya kok dikunci tapi lampunya mati?" Nara seketika mematung, wajahnya memucat total. Dia menatap Arkan dengan pandangan panik yang luar biasa. Jika ibunya tahu dia ada di dalam kamar Arkan jam sembilan malam dengan pintu terkunci, kesalahpahaman besar akan langsung meledak malam ini juga. "Arkan, gimana ini?" bisik Nara tanpa suara, bibirnya bergetar hebat. Arkan bergerak cepat. Dia mencengkeram pergelangan tangan Nara, menarik gadis itu ke sudut kamarnya yang temaram, tepat di balik lemari pakaian besar dan pintu kamar mandi yang terbuka. Tubuh mereka berdempetan sangat rapat di ruang sempit itu. Dada Arkan menempel sempurna pada dada Nara, membuat Nara bisa mendengar detak jantung pria itu yang ternyata sama cepatnya. "Diam! Jangan bersuara sedikit pun," bisik Arkan sangat lirih di dekat telinga Nara, nafasnya berhembus hangat di leher gadis itu. Arkan berdeham, menetralkan suaranya sebelum berteriak ke arah pintu. "Iya, Ma! Arkan lagi teleponan sama anak-anak debat bahas materi besok!" "Oh, teleponan …," suara Ratna terdengar agak ragu dari luar. "Kalau Nara, kamu tahu dia di mana? Tadi pamitnya pusing mau langsung tidur, tapi Mama ketuk kamarnya enggak ada sahutan." Nara meremas kaus hitam Arkan dengan sangat kencang, menyembunyikan wajahnya yang memerah panas di dada bidang pria itu. Dia benar-benar ketakutan setengah mati. "Tadi Nara bilang ke Arkan mau langsung minum obat tidur, Ma," jawab Arkan lagi, suaranya terdengar sangat tenang seolah tidak ada gadis yang sedang bersembunyi di pelukannya. "Mungkin dia sudah tidur pulas makanya enggak dengar." "Ya sudah kalau begitu. Kamu jangan malam-malam tidurnya, besok pagi harus ke kampus awal." "Iya, Ma." Langkah kaki Ratna perlahan menjauh dari pintu, menyusuri koridor hingga suara langkahnya menghilang di lantai bawah. Nara menghembuskan napas lega yang panjang, pundaknya melonggar. Namun, dia baru menyadari situasi mereka saat ini. Kamar Arkan sangat sunyi. Di sudut sempit yang gelap ini, Arkan masih belum melepaskan dekapannya. Kedua tangan pria itu mengunci pinggang Nara, sementara mata gelap Arkan menatapnya dengan intensitas yang sanggup meluluhkan akal sehat Nara. "Arkan... lepas," bisik Nara, mencoba mendorong dada Arkan dengan sisa tenaganya yang mendadak hilang. "Bagaimana kalau aku tidak mau?" balas Arkan, suaranya sangat rendah, menggema di dalam keheningan kamar. Wajahnya perlahan mendekat, mengunci pandangan Nara hingga gadis itu tidak bisa berpaling ke mana pun. "Ibumu sudah pergi, Nara. Tapi taruhan kita dengan Kevin baru dimulai besok pagi."Bab 9 Nara melangkah dengan hentakan kaki yang menggema di koridor basemen gedung fakultas. Lorong menuju ruang loker debat dan riset hukum sore itu sangat sepi, kontras dengan keriuhan di lantai atas. Dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun, Nara mendorong pintu ruang loker hingga membentur dinding dengan keras. Brak! Pria yang sedang merapikan dasi hitamnya di depan cermin menoleh dengan sangat tenang. Arkan bahkan tidak terkejut melihat nafas Nara yang memburu di ambang pintu. "Kamu gila, Arkan! Benar-benar gila!" teriak Nara, membanting tas ranselnya ke atas bangku kayu panjang. Arkan memutar tubuhnya, memasukkan kedua tangan ke saku celana bahan hitamnya. "Gila di bagian mana, Nara? Aku cuma menjalankan tugasku sebagai penguji." "Tugas?" Nara maju beberapa langkah, menunjuk dada Arkan dengan jari yang bergetar. "Kamu sengaja membantaiku di depan Papa! Kamu sengaja bikin argumenku kelihatan cacat supaya mereka punya alasan buat menggagalkan aku!" "Kalau aku mau mengga
Bab 8 Malam kian larut, namun Nara masih terjaga. Pukul satu dini hari, dia berdiri di balkon kamarnya, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang lelah. Tiba-tiba, suara pintu penghubung balkon di sebelahnya bergeser pelan. Arkan berdiri di sana, hanya terpisah oleh pagar besi setinggi dada. Pria itu menyandarkan kedua lengannya di pagar, menatap Nara dengan rokok yang belum dinyalakan di jarinya. "Belum tidur? Berkas wawancaramu sesulit itu?" tanya Arkan, suaranya berat membelah keheningan malam. Nara menoleh ketus, "Gimana aku bisa tidur kalau ada orang gila yang terus meneror ponselku?" Arkan terkekeh pelan, seringai tipisnya terlihat samar di bawah temaram lampu balkon. "Aku tidak menerormu, Nara. Aku cuma mengingatkan agar kamu realistis." "Realistis?" Nara melangkah mendekati pagar pembatas, menatap Arkan dengan mata menyala. "Realistis versi kamu itu artinya aku harus menyerah pada mimpiku? Aku harus tinggal di rumah ini, pura-pura jadi adik tiri yang manis, sementara
Bab 7 Suara deburan hujan yang menghantam atap mobil sedan hitam milik Arkan menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan di sepanjang jalan pulang. Nara duduk menyamping, menempelkan keningnya pada kaca jendela yang dingin, sengaja melempar pandangannya jauh ke luar. Matanya masih sedikit sembap dan dadanya masih terasa sesak oleh sisa amarah di parkiran kampus tadi. Arkan mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu pada sandaran lengan. Pandangannya lurus menatap jalanan yang mulai tergenang air. "Sampai kapan kamu mau mendiamkanku?" suara berat Arkan memecah keheningan, memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka. Nara tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. "Jangan ajak aku bicara." "Kita akan sampai di rumah dalam sepuluh menit, Nara. Hapus air matamu kalau kamu tidak mau Mama berpikiran yang tidak-tidak," ucap Arkan, nadanya kembali datar dan dingin, seolah ledakan emosinya beberapa saat lalu telah menguap
Bab 6 Nara menatap papan pengumuman digital di lobi Fakultas Hukum dengan mata tak berkedip. Di baris paling atas hasil seleksi tertulis Global Prestise Scholarship, namanya tercetak jelas. Nara Anindita (NIM: 2024011032) – Skor: 95 Kevin Mahendra (NIM: 2022011005) – Skor: 90 Arkananta Dewangga (NIM: 2022011001) – Skor: 89 "Nar! Kamu peringkat pertama!" Citra mengguncang bahu Nara dengan histeris. "Kamu mengalahkan Kak Kevin dan Kak Arkan sekaligus! Gila, kamu resmi jadi legenda baru fakultas!" Nara tidak bersorak, jantungnya justru mencelos melihat angka 89 di samping nama Arkan. Sembilan puluh lima berbanding delapan puluh sembilan? Jarak angka itu terlalu jauh untuk standar seorang Arkananta. "Cit, aku ke ruang panitia dulu," ucap Nara datar, melepaskan cengkeraman tangan sahabatnya. "Eh? Mau ngapain? Bukannya harusnya merayakan?" "Ada berkas administrasi yang mau kupastikan." Nara setengah berlari menyusuri koridor lantai dua menuju ruang dosen panitia beasiswa. R
Bab 5 Atmosfer Aula Utama Lantai 4 Gedung Rektorat pagi ini terasa seperti ruang eksekusi. Bau kertas ujian yang khas berbaur dengan ketegangan dari lima puluh mahasiswa terbaik fakultas. Nara melirik jam dinding besi di atas mimbar. 08.55 WIB. Lima menit sebelum ujian seleksi tertulis Global Prestise Scholarship dimulai. "Nar, tanganmu dingin banget," bisik Citra, yang duduk di baris meja sebelah kanan Nara. "Kamu sudah belajar semua studi kasus hukum internasional yang keluar tahun lalu, kan?" Nara memaksakan senyum, meremas jemarinya yang mendadak beku. "Sudah, Cit. Cuma ... atmosfer ruangan ini agak bikin sesak." "Bukan ruangannya yang bikin sesak, tapi orang di baris depan itu," timpal Citra sambil memajukan dagunya ke arah baris terdepan, tepat di nomor kursi 01. Arkananta Dewangga, Pria itu duduk dengan punggung tegak, memutar-mutar pulpen hitamnya dengan gerakan ritmis yang sangat tenang. Tidak ada buku di mejanya. Tidak ada guratan panik di wajahnya. Seolah ujian penent
Bab 4 Matahari pagi belum sepenuhnya menghalau sisa dingin bekas hujan semalam, namun atmosfer di koridor Gedung B Fakultas Hukum sudah terasa membakar bagi Nara. Langkah kakinya terasa berat, tetapi cengkraman tangan Arkan di pergelangan tangannya memaksanya untuk terus maju. "Arkan, lepas! Kita sudah di koridor kampus," bisik Nara setengah mendesis, mencoba menyentak tangannya. "Kalau ada anak angkatan kita yang lihat, selesai sudah." Arkan tidak melepaskannya. Pria itu terus berjalan lurus menatap pintu kayu ruang Senat Mahasiswa di ujung lorong. "Jam menunjukkan pukul 09.05, Nara. Kita punya waktu kurang dari satu jam sebelum tenggat waktu si pemeras habis. Kamu masih mau peduli soal gosip?" "Tapi …," Braak! Arkan mendorong pintu ruang Senat tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sentakan keras itu membuat satu-satunya orang di dalam ruangan, yang sedang santai menyesap kopi di balik meja kerja, tersentak kaget hingga hampir menumpahkan minumannya. Kevin Mahendra. Sang Golden Bo







