Share

Bab 2

Penulis: PUCHA
last update Tanggal publikasi: 2026-08-19 22:45:45

Bab 2

Nara mematung di ambang pintu masuk. Layar ponselnya yang meredup menyisakan bayangan siluet intim dirinya dan Arkan di parkiran kampus tadi siang.

"Nara? Kenapa melamun di sana? Ayo masuk, Sayang, makanannya keburu dingin." Suara lembut Ratna mamanya, memecah keheningan.

Nara tersentak, buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana. "Ah... iya, Ma! Ini baru mau duduk."

Di meja makan, Baskoro tampak berwibawa melirik jam dinding, sementara Arkan sudah duduk tenang di seberang kursi Nara. Pria itu memotong daging steaknya dengan gerakan yang teratur, sangat santai seolah tidak terjadi apa-apa beberapa menit lalu di dalam mobil.

"Bagaimana simulasi sidangnya tadi, Nara? Arkan?" Baskoro meletakkan dokumen hukumnya. "Kalian berada di tim mosi yang berseberangan, kan?"

Nara menelan ludah yang terasa kesat. "Lancar, Pa. Tapi... argumen Kak Arkan memang masih sulit ditembus," jawab Nara, sengaja menekan kata 'Kak' dengan bibir yang sedikit gemetar.

Arkan menghentikan garpunya. Dia mendongak, menatap Nara lurus-lurus dengan pandangan menusuk. "Nara terlalu emosional malam ini, Pa. Dia kehilangan fokus di tengah sidang hanya karena masalah sepele."

Nara mengepalkan tangannya di bawah meja. ‘Masalah sepele?’ batinnya geram.

"Emosional bagaimana, Arkan?" tanya Ratna sambil menuangkan air ke gelas Baskoro. "Nara biasanya sangat tenang kalau presentasi."

"Dia menyerang personal Ma, bukan substansi hukumnya," sahut Arkan datar, tatapannya tidak lepas dari wajah Nara yang mulai memucat. "Sifat seperti itu bisa berbahaya kalau dia menghadapi kasus nyata nanti," sambung Arkan.

"Aku cuma mempertahankan posisiku!" potong Nara cepat, suaranya naik satu oktav, memicu kerutan di dahi Baskoro.

"Nara," tegur Baskoro lembut namun tegas. "Dengarkan masukan kakakmu. Arkan sudah semester tujuh, jam terbangnya di kompetisi debat jauh lebih banyak dari kamu."

"Tapi, Pa, dia sengaja memotong penjelasanku sebelum waktunya habis. Itu manipulasi interupsi!" bela Nara, matanya menantang Arkan.

Arkan mendengus pelan, meletakkan pisaunya hingga berdenting pelan di atas piring porselen. "Dalam sidang nyata, lawan tidak akan menunggumu menyelesaikan kalimat jika format hukum yang kamu bawa sejak awal sudah keliru, Nara. Kamu harus belajar menerima kritik tanpa perlu memasukkannya ke dalam hati," ucap Arkan

"Aku tidak memasukkannya ke dalam hati!"

"Sudah, sudah. Di meja makan tidak ada hakim dan terdakwa," sela Ratna mencoba menenangkan suasana. "Arkan, jangan terlalu keras pada adikmu. Nara baru semester tiga, dia masih butuh banyak bimbingan."

"Justru karena dia masih semester tiga, Ma," jawab Arkan, nadanya mendadak melunak namun tetap terdengar intens di telinga Nara. "Aku tidak ingin dia membuat kesalahan di luar sana. Standar di luar jauh lebih kejam."

Baskoro mengangguk setuju. "Papa sependapat dengan Arkan. Oh ya, Nara, bagaimana persiapan berkas untuk Global Prestise Scholarship? Papa dengar kuota jurusan kita tahun ini sangat ketat."

Jantung Nara mencelos mendengarnya. "Sudah lengkap semua, Pa. Tinggal menunggu pengumuman seleksi wawancara besok pagi."

"Bagus. Arkan juga ikut seleksi itu, kan?" Baskoro beralih pada anak kandungnya.

"Iya, Pa. Berkas saya sudah diverifikasi sore tadi," jawab Arkan tenang.

Ratna tersenyum bangga. "Wah, kalian berdua bersaing lagi? Seru sekali ya. Siapa pun yang berangkat ke London nanti, kalian harus saling mendukung. Kalau bisa, kalian berdua lolos bersama."

"Beasiswa itu hanya mengambil satu orang terbaik dari fakultas kita Ma," tukas Nara dengan nada getir yang tidak bisa dia sembunyikan. "Hanya ada satu pemenang dan satu orang yang lain, harus merelakan mimpinya.”

Arkan menatap Nara, matanya menggelap di bawah temaram lampu gantung ruang makan.

Bzzzt.

Ponsel di dalam saku celana Nara kembali bergetar panjang. Tangan Nara yang memegang garpu bergetar hebat hingga garpu itu mengetuk tepi piring dengan nyaring.

"Sepuluh menit lagi, Nara. Surat pengunduran diri, atau karir Dekan tersayangmu hancur besok pagi bersama foto ini. Jangan coba-coba mengabaikan aku," bunyi pesan dari orang yang tidak dikenal.

Nara buru-buru menurunkan tangannya ke bawah meja, menyembunyikan getaran yang kian tak terkendali. Peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. Sisa waktu makin menipis menuju pukul sembilan malam.

"Nara? Kamu benar-benar tidak menyentuh makananmu?" Ratna menyipitkan mata, menatap cemas ke arah piring Nara yang masih utuh. "Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit, Nak?"

"Enggak, Ma. Nara... Nara cuma sedikit pusing karena kehujanan di lobi kampus tadi," jawab Nara berbohong, suaranya terdengar parau dan menjauh.

Baskoro mengalihkan pandangan dari tabletnya sejenak. "Kalau pusing, minumlah obat lalu langsung istirahat. Besok pagi kamu butuh stamina penuh untuk pengumuman."

"Iya, Pa. Nara... Nara izin ke kamar duluan ya. Mau langsung tidur," ucap Nara terburu-buru sambil mendorong kursinya ke belakang hingga berderit nyaring.

"Obatnya mau Mama bawakan ke kamar nanti?" tanya Ratna setengah berdiri dari kursinya.

"Tidak usah, Ma. Nara cuma butuh tidur. Permisi, Pa, Ma." Nara memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat janggal sebelum melangkah cepat meninggalkan ruang makan.

Saat Nara berbalik menuju tangga, dia bisa merasakan sepasang mata Arkan terus mengikat punggungnya dengan tatapan penuh selidik. Namun Nara tidak peduli lagi. Kepalanya dipenuhi oleh rasa takut yang luar biasa.

Begitu sampai di lantai dua, Nara langsung menerobos masuk ke kamarnya dan memutar kunci pintu dua kali. Klik. Klik.

Dia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang kokoh, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai aspal kamar yang dingin. Napasnya memburu kencang. Dibukanya kembali ponsel itu dengan jemari yang basah oleh keringat.

‘Apa yang harus aku lakukan? pikirnya frustrasi. Mundur dan menyerah pada pemeras ini? Atau... mendatangi kamar Arkan?’

20.51 WIB.

Sembilan menit tersisa. Layar ponselnya menampilkan ruang obrolan dari nomor misterius tersebut. Pilihan di depannya terasa seperti buah simalakama yang siap menghancurkan hidupnya dari sisi mana pun dia memilih.

"Kenapa harus sekarang...?" bisik Nara lirih, air mata frustrasinya mulai menggenang di sudut mata. "Kenapa di saat aku sudah sedekat ini dengan mimpiku...?"

Jika dia mengetik surat pengunduran diri sekarang, seluruh kerja kerasnya selama berbulan-bulan akan sia-sia. Dia akan tetap terjebak di rumah ini, di bawah bayang-bayang Arkan, memikul beban sebagai anak tiri yang tidak memiliki pencapaian apa-apa.

Namun jika dia bertahan, foto itu akan menyebar. Reputasi ayahnya sebagai Dekan terhormat akan hancur seketika oleh isu miring mengenai hubungan tidak wajar di antara anak-anak mereka.

Nara menjambak rambutnya sendiri, merutuki kebodohan Arkan yang bersikap impulsif di parkiran tadi siang. Mengapa pria itu harus mengonfrontasinya di tempat terbuka? Mengapa Arkan harus mengatakan kalimat-kalimat gila yang menghancurkan batas persaudaraan mereka?

Bzzzt.

Ponselnya kembali menyala.

Tidak dikenal "Lima menit lagi, Nara Anindita. Aku sudah menyusun draf email untuk dikirim ke grup angkatan angkatan 2024, 2023 dan komite etik fakultas. Pilihan ada di tanganmu."

Nara bangkit berdiri dengan sisa keberanian yang dia miliki. Logika hukum yang biasa dia agungkan di kampus mendadak lumpuh total. Dia tahu dia tidak bisa menyelesaikan ini sendirian. Menyerah bukan karakter seorang Nara Anindita, tetapi menghadapi ancaman ini tanpa sekutu adalah tindakan bunuh diri.

Nara menatap pintu kamarnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah koridor luar. Di ujung lorong itu, ada kamar Arkan. Pria yang memicu seluruh badai ini. Pria yang tadi dengan angkuhnya menceramahi dirinya di meja makan tentang bagaimana menghadapi tekanan di dunia nyata.

Nara menarik napas dalam-dalam, menghapus air mata di pipinya dengan kasar. "Kamu yang memulai kekacauan ini, Arkan. Jadi kamu juga harus ikut bertanggung jawab," desis Nara tajam.

Dengan langkah cepat dan penuh determinasi, Nara membuka kunci kamarnya, melangkah keluar membelah keheningan koridor lantai dua, menuju satu-satunya orang yang paling dia benci sekaligus satu-satunya orang yang bisa dia mintai pertolongan malam ini

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Aksara_Semesta
suka suka suka.... tapi gak suka sama pemerasnya ...
goodnovel comment avatar
Semicolon
jadi penasaran siapa yang akhirnya menang
goodnovel comment avatar
SiapaSaya
meja makan yang sederhana tapi terasa tegang huhu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 102

    Bab 102 "Susu untukmu bisa menunggu, Nara. Tapi memeluk istriku di pagi hari adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Pria tegap itu justru mempererat kuncian lengannya, menundukkan wajahnya untuk mengecup bahu Nara yang terbuka dengan kecupan mesra. Nara tertawa kecil, memutar tubuhnya di dalam kekangan lengan Arkan agar bisa menghadap suaminya seutuhnya. "Kamu ini tidak berubah ya, Pak Pengawas. Selalu saja suka memaksakan kehendak." "Itu hanya berlaku khusus untukmu, sayang," bisik Arkan lembut tepat di depan bibir Nara. Baru saja Arkan hendak menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Nara, suara tangisan bayi yang nyaring mendadak terdengar dari arah kamar sebelah lewat perangkat monitor bayi di meja rias. Oeeek ... Oeeek ... Nara seketika menahan dada bidang Arkan sambil tersenyum menggoda. "Nah, dengar itu? Pangeran kecilmu, Elang Arkananta Dewangga, sudah bangun. Tugas pengawas pribadiku sekarang adalah menggend

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 101

    Bab 101 Brak! Pintu ganda ya g terdapat pada klinik di pinggiran Den Haag itu didobrak dengan sangat keras. Arkananta Dewangga berdiri di ambang pintu dengan nafas memburu dan tatapan mata gelap yang sangat mengerikan. Setelan jas hitamnya yang berantakan justru menambah pekat aura intimidasi yang memancar dari tubuh tegapnya. Adrian Vance langsung berdiri tegak di depan ranjang rawat Nara, ia memasang badan untuk melindungi Nara dengan ekspresi tegang. "Mr.Dewangga jaga sikap anda! Anda tidak boleh merusak fasilitas medis!" "Menyingkir dari hadapanku, Vance, sebelum aku benar-benar menghancurkan kariermu!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang menggelegar. Adrian tidak mundur satu inci pun. "Aku tidak akan membiarkanmu membawa Nara pergi dalam kondisi rapuh seperti ini! Kamu egois, Arkan! Kamu hampir mengorbankan keselamatan bayimu demi egomu!" Bugh! Satu pukulan kuat dari kepalan tangan kokoh Arkan mendarat telak di rahang Adrian, membuat pria baik-baik itu terhuyu

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 100

    Bab 100 Wajah Felicia seketika pucat pasi, tangannya gemetar hebat karena tidak menyangka Nara yang sedang lemas di atas ranjang masih bisa melayangkan serangan balik yang sangat presisi dan mematikan. Menyadari dirinya kalah telak, Felicia menyambar tas mewahnya dan berbalik berlari cepat keluar dari kamar dengan rasa malu yang pekat. Setelah Felicia pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Adrian menatap Nara dengan tatapan takjub. "Kamu benar-benar luar biasa, Nara. Bahkan dalam kondisi seperti ini." Nara perlahan menarik tangannya secara halus dari genggaman Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata pria baik-baik itu dengan senyuman yang teramat manis. "Terima kasih, Adrian. Kamu adalah pria yang sangat baik, dan aku sangat menghargai bantuanmu hari ini. Tapi ... aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk tinggal di sini," ucap Nara tegas. Adrian tertegun, matanya meredup karena kecewa. "Kenapa, Nara? Arkan sudah membuatmu terluka." "Karena sekeras apa pun Arkan mend

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 99

    Bab 99 Dua jam berlalu dengan sangat mencekam di apartemen mereka dekat kanal. Arkananta berdiri di tengah ruang tengah dengan kemeja yang berantakan dan nafas yang memburu. Di atas meja kaca, tergeletak ponsel milik Nara beserta cincin berlian biru safir yang sengaja dilepaskan dari jari manis istrinya. Nara menghilang tanpa jejak, semua sistem pelacakan digital yang biasanya diandalkan Arkan tidak berfungsi karena Nara dengan sengaja mematikan seluruh akses GPS rumah dan apartemen menggunakan keahlian digitalnya sendiri. Sang pengawas yang biasanya selalu bersikap percaya diri dan memiliki kendali penuh, kini benar-benar didera kebingungan dan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Brak. Pintu depan terbuka, Thomas masuk dengan wajah pucat. "Mr.Dewangga! Tim keamanan sudah memeriksa seluruh stasiun dan bandara di Den Haag, tapi nama Nyonya Nara tidak terdaftar di mana pun!" "Cari lagi, Thomas!" bentak Arkan, suaranya meninggi karena frustrasi hingga urat-urat di lehernya menegan

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 98

    Bab 98 Felicia terkekeh pelan, melangkah satu kali lagi hingga jaraknya dengan Arkan terasa begitu tipis. "Tenang saja, aku ke sini justru untuk membersihkan nama baik keluargaku dari kebodohan Kevin. Aku profesional, Arkan. Dan kurasa ... aku bisa menjadi rekan kerja yang jauh lebih sepadan untukmu di Den Haag daripada mempertahankan analis yang sedang tidak produktif." Nara tertegun di balik pintu, pandangannya turun menatap gaun hamil longgarnya, lalu beralih pada sosok Felicia yang tampak begitu sempurna, langsing, dan memiliki kendali penuh atas karier internasionalnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Nara Anindita sang peraih nilai pleno tertinggi Oxford, merasa tidak percaya diri. Rasa mual di perutnya mendadak berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Nara memilih mundur perlahan, namun langkah kakinya yang berat terdengar oleh Arkan. Klak. Pintu kaca langsung ditarik terbuka dari dalam, Arkan berdiri di ambang pintu, mata elangnya seketika menangk

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 97

    Bab 97 "Aku hanya bisa tenang jika kamu dan anak kita berada di bawah perlindunganku, Cantik," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Nara. "Katakan padaku, Nyonya Dewangga ... siapa pemilik hatimu sekarang?" Nara tersenyum dengan manis, lalu menyentuh ujung hidung suaminya. "Kamu, Arkananta. Hanya kamu yang memegang kendali atas hidup dan matiku," ucap Nara. Pagi harinya di dapur rumah milik Nara, sinar matahari menembus jendela kaca, menerangi cangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap panas. Nara sedang berada di kamar mandi untuk mengatasi mual paginya. Di meja makan, ponsel Nara bergetar pendek. Arkan yang sedang mengancingkan kemeja hitamnya, langsung melirik ponsel tersebut. Mata elangnya menyipit tajam, tanpa ragu tangan kokohnya menyambar benda itu. Layar ponsel Nara menampilkan ruang obrolan dari Adrian Vance. Dengan raut wajah kesalnya, ia mengetuk layar dan mengetikkan balasan dengan gerakan yang cepat menggu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status