LOGINBab 2
Nara mematung di ambang pintu masuk. Layar ponselnya yang meredup menyisakan bayangan siluet intim dirinya dan Arkan di parkiran kampus tadi siang. "Nara? Kenapa melamun di sana? Ayo masuk, Sayang, makanannya keburu dingin." Suara lembut Ratna mamanya, memecah keheningan. Nara tersentak, buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana. "Ah... iya, Ma! Ini baru mau duduk." Di meja makan, Baskoro tampak berwibawa melirik jam dinding, sementara Arkan sudah duduk tenang di seberang kursi Nara. Pria itu memotong daging steaknya dengan gerakan yang teratur, sangat santai seolah tidak terjadi apa-apa beberapa menit lalu di dalam mobil. "Bagaimana simulasi sidangnya tadi, Nara? Arkan?" Baskoro meletakkan dokumen hukumnya. "Kalian berada di tim mosi yang berseberangan, kan?" Nara menelan ludah yang terasa kesat. "Lancar, Pa. Tapi... argumen Kak Arkan memang masih sulit ditembus," jawab Nara, sengaja menekan kata 'Kak' dengan bibir yang sedikit gemetar. Arkan menghentikan garpunya. Dia mendongak, menatap Nara lurus-lurus dengan pandangan menusuk. "Nara terlalu emosional malam ini, Pa. Dia kehilangan fokus di tengah sidang hanya karena masalah sepele." Nara mengepalkan tangannya di bawah meja. ‘Masalah sepele?’ batinnya geram. "Emosional bagaimana, Arkan?" tanya Ratna sambil menuangkan air ke gelas Baskoro. "Nara biasanya sangat tenang kalau presentasi." "Dia menyerang personal Ma, bukan substansi hukumnya," sahut Arkan datar, tatapannya tidak lepas dari wajah Nara yang mulai memucat. "Sifat seperti itu bisa berbahaya kalau dia menghadapi kasus nyata nanti," sambung Arkan. "Aku cuma mempertahankan posisiku!" potong Nara cepat, suaranya naik satu oktav, memicu kerutan di dahi Baskoro. "Nara," tegur Baskoro lembut namun tegas. "Dengarkan masukan kakakmu. Arkan sudah semester tujuh, jam terbangnya di kompetisi debat jauh lebih banyak dari kamu." "Tapi, Pa, dia sengaja memotong penjelasanku sebelum waktunya habis. Itu manipulasi interupsi!" bela Nara, matanya menantang Arkan. Arkan mendengus pelan, meletakkan pisaunya hingga berdenting pelan di atas piring porselen. "Dalam sidang nyata, lawan tidak akan menunggumu menyelesaikan kalimat jika format hukum yang kamu bawa sejak awal sudah keliru, Nara. Kamu harus belajar menerima kritik tanpa perlu memasukkannya ke dalam hati," ucap Arkan "Aku tidak memasukkannya ke dalam hati!" "Sudah, sudah. Di meja makan tidak ada hakim dan terdakwa," sela Ratna mencoba menenangkan suasana. "Arkan, jangan terlalu keras pada adikmu. Nara baru semester tiga, dia masih butuh banyak bimbingan." "Justru karena dia masih semester tiga, Ma," jawab Arkan, nadanya mendadak melunak namun tetap terdengar intens di telinga Nara. "Aku tidak ingin dia membuat kesalahan di luar sana. Standar di luar jauh lebih kejam." Baskoro mengangguk setuju. "Papa sependapat dengan Arkan. Oh ya, Nara, bagaimana persiapan berkas untuk Global Prestise Scholarship? Papa dengar kuota jurusan kita tahun ini sangat ketat." Jantung Nara mencelos mendengarnya. "Sudah lengkap semua, Pa. Tinggal menunggu pengumuman seleksi wawancara besok pagi." "Bagus. Arkan juga ikut seleksi itu, kan?" Baskoro beralih pada anak kandungnya. "Iya, Pa. Berkas saya sudah diverifikasi sore tadi," jawab Arkan tenang. Ratna tersenyum bangga. "Wah, kalian berdua bersaing lagi? Seru sekali ya. Siapa pun yang berangkat ke London nanti, kalian harus saling mendukung. Kalau bisa, kalian berdua lolos bersama." "Beasiswa itu hanya mengambil satu orang terbaik dari fakultas kita Ma," tukas Nara dengan nada getir yang tidak bisa dia sembunyikan. "Hanya ada satu pemenang dan satu orang yang lain, harus merelakan mimpinya.” Arkan menatap Nara, matanya menggelap di bawah temaram lampu gantung ruang makan. Bzzzt. Ponsel di dalam saku celana Nara kembali bergetar panjang. Tangan Nara yang memegang garpu bergetar hebat hingga garpu itu mengetuk tepi piring dengan nyaring. "Sepuluh menit lagi, Nara. Surat pengunduran diri, atau karir Dekan tersayangmu hancur besok pagi bersama foto ini. Jangan coba-coba mengabaikan aku," bunyi pesan dari orang yang tidak dikenal. Nara buru-buru menurunkan tangannya ke bawah meja, menyembunyikan getaran yang kian tak terkendali. Peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. Sisa waktu makin menipis menuju pukul sembilan malam. "Nara? Kamu benar-benar tidak menyentuh makananmu?" Ratna menyipitkan mata, menatap cemas ke arah piring Nara yang masih utuh. "Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit, Nak?" "Enggak, Ma. Nara... Nara cuma sedikit pusing karena kehujanan di lobi kampus tadi," jawab Nara berbohong, suaranya terdengar parau dan menjauh. Baskoro mengalihkan pandangan dari tabletnya sejenak. "Kalau pusing, minumlah obat lalu langsung istirahat. Besok pagi kamu butuh stamina penuh untuk pengumuman." "Iya, Pa. Nara... Nara izin ke kamar duluan ya. Mau langsung tidur," ucap Nara terburu-buru sambil mendorong kursinya ke belakang hingga berderit nyaring. "Obatnya mau Mama bawakan ke kamar nanti?" tanya Ratna setengah berdiri dari kursinya. "Tidak usah, Ma. Nara cuma butuh tidur. Permisi, Pa, Ma." Nara memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat janggal sebelum melangkah cepat meninggalkan ruang makan. Saat Nara berbalik menuju tangga, dia bisa merasakan sepasang mata Arkan terus mengikat punggungnya dengan tatapan penuh selidik. Namun Nara tidak peduli lagi. Kepalanya dipenuhi oleh rasa takut yang luar biasa. Begitu sampai di lantai dua, Nara langsung menerobos masuk ke kamarnya dan memutar kunci pintu dua kali. Klik. Klik. Dia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang kokoh, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai aspal kamar yang dingin. Napasnya memburu kencang. Dibukanya kembali ponsel itu dengan jemari yang basah oleh keringat. ‘Apa yang harus aku lakukan? pikirnya frustrasi. Mundur dan menyerah pada pemeras ini? Atau... mendatangi kamar Arkan?’ 20.51 WIB. Sembilan menit tersisa. Layar ponselnya menampilkan ruang obrolan dari nomor misterius tersebut. Pilihan di depannya terasa seperti buah simalakama yang siap menghancurkan hidupnya dari sisi mana pun dia memilih. "Kenapa harus sekarang...?" bisik Nara lirih, air mata frustrasinya mulai menggenang di sudut mata. "Kenapa di saat aku sudah sedekat ini dengan mimpiku...?" Jika dia mengetik surat pengunduran diri sekarang, seluruh kerja kerasnya selama berbulan-bulan akan sia-sia. Dia akan tetap terjebak di rumah ini, di bawah bayang-bayang Arkan, memikul beban sebagai anak tiri yang tidak memiliki pencapaian apa-apa. Namun jika dia bertahan, foto itu akan menyebar. Reputasi ayahnya sebagai Dekan terhormat akan hancur seketika oleh isu miring mengenai hubungan tidak wajar di antara anak-anak mereka. Nara menjambak rambutnya sendiri, merutuki kebodohan Arkan yang bersikap impulsif di parkiran tadi siang. Mengapa pria itu harus mengonfrontasinya di tempat terbuka? Mengapa Arkan harus mengatakan kalimat-kalimat gila yang menghancurkan batas persaudaraan mereka? Bzzzt. Ponselnya kembali menyala. Tidak dikenal "Lima menit lagi, Nara Anindita. Aku sudah menyusun draf email untuk dikirim ke grup angkatan angkatan 2024, 2023 dan komite etik fakultas. Pilihan ada di tanganmu." Nara bangkit berdiri dengan sisa keberanian yang dia miliki. Logika hukum yang biasa dia agungkan di kampus mendadak lumpuh total. Dia tahu dia tidak bisa menyelesaikan ini sendirian. Menyerah bukan karakter seorang Nara Anindita, tetapi menghadapi ancaman ini tanpa sekutu adalah tindakan bunuh diri. Nara menatap pintu kamarnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah koridor luar. Di ujung lorong itu, ada kamar Arkan. Pria yang memicu seluruh badai ini. Pria yang tadi dengan angkuhnya menceramahi dirinya di meja makan tentang bagaimana menghadapi tekanan di dunia nyata. Nara menarik napas dalam-dalam, menghapus air mata di pipinya dengan kasar. "Kamu yang memulai kekacauan ini, Arkan. Jadi kamu juga harus ikut bertanggung jawab," desis Nara tajam. Dengan langkah cepat dan penuh determinasi, Nara membuka kunci kamarnya, melangkah keluar membelah keheningan koridor lantai dua, menuju satu-satunya orang yang paling dia benci sekaligus satu-satunya orang yang bisa dia mintai pertolongan malam iniBab 9 Nara melangkah dengan hentakan kaki yang menggema di koridor basemen gedung fakultas. Lorong menuju ruang loker debat dan riset hukum sore itu sangat sepi, kontras dengan keriuhan di lantai atas. Dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun, Nara mendorong pintu ruang loker hingga membentur dinding dengan keras. Brak! Pria yang sedang merapikan dasi hitamnya di depan cermin menoleh dengan sangat tenang. Arkan bahkan tidak terkejut melihat nafas Nara yang memburu di ambang pintu. "Kamu gila, Arkan! Benar-benar gila!" teriak Nara, membanting tas ranselnya ke atas bangku kayu panjang. Arkan memutar tubuhnya, memasukkan kedua tangan ke saku celana bahan hitamnya. "Gila di bagian mana, Nara? Aku cuma menjalankan tugasku sebagai penguji." "Tugas?" Nara maju beberapa langkah, menunjuk dada Arkan dengan jari yang bergetar. "Kamu sengaja membantaiku di depan Papa! Kamu sengaja bikin argumenku kelihatan cacat supaya mereka punya alasan buat menggagalkan aku!" "Kalau aku mau mengga
Bab 8 Malam kian larut, namun Nara masih terjaga. Pukul satu dini hari, dia berdiri di balkon kamarnya, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang lelah. Tiba-tiba, suara pintu penghubung balkon di sebelahnya bergeser pelan. Arkan berdiri di sana, hanya terpisah oleh pagar besi setinggi dada. Pria itu menyandarkan kedua lengannya di pagar, menatap Nara dengan rokok yang belum dinyalakan di jarinya. "Belum tidur? Berkas wawancaramu sesulit itu?" tanya Arkan, suaranya berat membelah keheningan malam. Nara menoleh ketus, "Gimana aku bisa tidur kalau ada orang gila yang terus meneror ponselku?" Arkan terkekeh pelan, seringai tipisnya terlihat samar di bawah temaram lampu balkon. "Aku tidak menerormu, Nara. Aku cuma mengingatkan agar kamu realistis." "Realistis?" Nara melangkah mendekati pagar pembatas, menatap Arkan dengan mata menyala. "Realistis versi kamu itu artinya aku harus menyerah pada mimpiku? Aku harus tinggal di rumah ini, pura-pura jadi adik tiri yang manis, sementara
Bab 7 Suara deburan hujan yang menghantam atap mobil sedan hitam milik Arkan menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan di sepanjang jalan pulang. Nara duduk menyamping, menempelkan keningnya pada kaca jendela yang dingin, sengaja melempar pandangannya jauh ke luar. Matanya masih sedikit sembap dan dadanya masih terasa sesak oleh sisa amarah di parkiran kampus tadi. Arkan mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu pada sandaran lengan. Pandangannya lurus menatap jalanan yang mulai tergenang air. "Sampai kapan kamu mau mendiamkanku?" suara berat Arkan memecah keheningan, memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka. Nara tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. "Jangan ajak aku bicara." "Kita akan sampai di rumah dalam sepuluh menit, Nara. Hapus air matamu kalau kamu tidak mau Mama berpikiran yang tidak-tidak," ucap Arkan, nadanya kembali datar dan dingin, seolah ledakan emosinya beberapa saat lalu telah menguap
Bab 6 Nara menatap papan pengumuman digital di lobi Fakultas Hukum dengan mata tak berkedip. Di baris paling atas hasil seleksi tertulis Global Prestise Scholarship, namanya tercetak jelas. Nara Anindita (NIM: 2024011032) – Skor: 95 Kevin Mahendra (NIM: 2022011005) – Skor: 90 Arkananta Dewangga (NIM: 2022011001) – Skor: 89 "Nar! Kamu peringkat pertama!" Citra mengguncang bahu Nara dengan histeris. "Kamu mengalahkan Kak Kevin dan Kak Arkan sekaligus! Gila, kamu resmi jadi legenda baru fakultas!" Nara tidak bersorak, jantungnya justru mencelos melihat angka 89 di samping nama Arkan. Sembilan puluh lima berbanding delapan puluh sembilan? Jarak angka itu terlalu jauh untuk standar seorang Arkananta. "Cit, aku ke ruang panitia dulu," ucap Nara datar, melepaskan cengkeraman tangan sahabatnya. "Eh? Mau ngapain? Bukannya harusnya merayakan?" "Ada berkas administrasi yang mau kupastikan." Nara setengah berlari menyusuri koridor lantai dua menuju ruang dosen panitia beasiswa. R
Bab 5 Atmosfer Aula Utama Lantai 4 Gedung Rektorat pagi ini terasa seperti ruang eksekusi. Bau kertas ujian yang khas berbaur dengan ketegangan dari lima puluh mahasiswa terbaik fakultas. Nara melirik jam dinding besi di atas mimbar. 08.55 WIB. Lima menit sebelum ujian seleksi tertulis Global Prestise Scholarship dimulai. "Nar, tanganmu dingin banget," bisik Citra, yang duduk di baris meja sebelah kanan Nara. "Kamu sudah belajar semua studi kasus hukum internasional yang keluar tahun lalu, kan?" Nara memaksakan senyum, meremas jemarinya yang mendadak beku. "Sudah, Cit. Cuma ... atmosfer ruangan ini agak bikin sesak." "Bukan ruangannya yang bikin sesak, tapi orang di baris depan itu," timpal Citra sambil memajukan dagunya ke arah baris terdepan, tepat di nomor kursi 01. Arkananta Dewangga, Pria itu duduk dengan punggung tegak, memutar-mutar pulpen hitamnya dengan gerakan ritmis yang sangat tenang. Tidak ada buku di mejanya. Tidak ada guratan panik di wajahnya. Seolah ujian penent
Bab 4 Matahari pagi belum sepenuhnya menghalau sisa dingin bekas hujan semalam, namun atmosfer di koridor Gedung B Fakultas Hukum sudah terasa membakar bagi Nara. Langkah kakinya terasa berat, tetapi cengkraman tangan Arkan di pergelangan tangannya memaksanya untuk terus maju. "Arkan, lepas! Kita sudah di koridor kampus," bisik Nara setengah mendesis, mencoba menyentak tangannya. "Kalau ada anak angkatan kita yang lihat, selesai sudah." Arkan tidak melepaskannya. Pria itu terus berjalan lurus menatap pintu kayu ruang Senat Mahasiswa di ujung lorong. "Jam menunjukkan pukul 09.05, Nara. Kita punya waktu kurang dari satu jam sebelum tenggat waktu si pemeras habis. Kamu masih mau peduli soal gosip?" "Tapi …," Braak! Arkan mendorong pintu ruang Senat tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sentakan keras itu membuat satu-satunya orang di dalam ruangan, yang sedang santai menyesap kopi di balik meja kerja, tersentak kaget hingga hampir menumpahkan minumannya. Kevin Mahendra. Sang Golden Bo







