LOGIN
Bab 1
"Ajukan keberatanmu sekarang Nara, atau biarkan aku memenangkan mosi ini dalam tiga puluh detik!" Suara berat itu memotong keheningan ruang simulasi sidang Fakultas Hukum Universitas Garuda. Dingin, datar, dan sarat akan intimidasi. Nara Anindita mengepalkan tinjunya di bawah meja kayu mahoni. Dia mendongak, menatap langsung ke arah pria yang berdiri di podium seberang. Arkananta Dewangga, senior semester tujuh, bintang debat kampus dan musuh bebuyutannya. "Saya belum selesai, Pimpinan sidang!" tukas Nara, suaranya naik satu oktav. Dia berdiri menatap Arkan dengan kilat amarah. "Dasar hukum yang digunakan Saudara Arkan cacat logika. Pasal 1365 KUHPerdata tentang perbuatan melawan hukum tidak bisa diterapkan begitu saja tanpa pembuktian kerugian yang nyata!" Arkan tidak berkedip, ia hanya menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis yang sangat menyebalkan muncul di sudut bibirnya. "Nyata?" Arkan melangkah maju, mengetukkan ujung pulpennya ke meja. Tok. Tok. "Kerugiannya ada di depan matamu, Nara. Hanya saja ambisimu terlalu besar sampai membuat analisismu buta." "Apa kamu bilang?" jawab Nara penuh amarah. "Sudah, sudah! Cukup!" Dosen pembimbing di kursi tengah mengetukkan palu sidang dua kali. "Nara, Arkan, ini cuma simulasi kelas mandiri, bukan sidang pidana korupsi. Tensi kalian berdua selalu saja membuat ruangan ini mau meledak." Seisi ruangan menghela napas lega. Citra, yang duduk di sebelah Nara berbisik lirih, "Gila Nar, Kamu kalau menatap Kak Arkan seperti mau menelan orang hidup-hidup." "Dia yang mulai duluan, Cit," desis Nara. Matanya masih mengawasi Arkan yang kini sedang merapikan berkas-berkasnya ke dalam tas kulit hitam dengan sangat tenang. "Tapi harus kuakui, dia sangat tampan kalau lagi arogan begitu," goda Citra lagi. Nara hanya mendengus, langsung menyambar tas ranselnya dan berjalan keluar ruangan tanpa mempedulikan Arkan lagi. Tiga jam kemudian, badai berlangsung hingga malam. Hujan deras mengguyur area parkir luar kampus. Nara berdiri di bawah lobi gedung fakultas, menatap langit dengan frustrasi. Sialnya, Nara tidak membawa payung dan ojek daring selalu membatalkan pesanannya. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan lobi. Kaca jendela kiri depan diturunkan perlahan. "Masuk!" ucap pria di dalam mobil. Nara menoleh dan mendapati bahwa pria itu adalah Arkan. Wajahnya yang diterangi lampu dasbor mobil terlihat sama dinginnya dengan saat di kelas tadi. "Enggak perlu! Aku bisa naik taksi," jawab Nara ketus sambil membuang muka. "Jangan keras kepala! Ini sudah jam delapan malam, jalanan banjir." Arkan membuka kunci pintu mobil dari dalam. "Masuk Nara! Atau aku harus turun dan menyeretmu?" “Kamu gak punya hak buat mengaturku, Arkan!" "Aku punya," sahut Arkan cepat, suaranya mendadak berubah berat dan dalam. "Masuk sekarang, Papa dan mamamu sudah menunggu di meja makan." Nara menggigit bibir bawahnya. Kata Papa dan Mama selalu berhasil menjadi skakmat yang melumpuhkan egonya. Dengan hentakan kaki kesal, Nara membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang samping Arkan. Dia membanting pintu agak keras."Bisa rusak kalau kamu banting begitu," komentar Arkan tenang, sambil melajukan mobilnya membelah rintik hujan. "Biarin, biar tahu rasa," gumam Nara, menatap lurus ke kaca depan. Ia menolak untuk menoleh ke samping. Suasana di dalam mobil menjadi sunyi, hanya menyisakan suara wiper dan ketukan air hujan. Jantung Nara mendadak berdegup lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena atmosfer di dalam mobil ini terasa terlalu sempit dan intim. Sangat kontras dengan ruang sidang kampus tadi. "Analisis hukummu tadi sebenarnya bagus," suara Arkan memecah keheningan setelah sepuluh menit perjalanan. Nara menoleh cepat, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa? Kamu lagi mengejekku?" tanya Nara tidak percaya. "Aku memujimu." Arkan tetap fokus pada jalanan di depan. "Tapi kamu terlalu emosional, kamu menyerangku secara personal, bukan argumenku," lanjut Arkan. "Karena kamu memancingku! Kamu selalu menyudutkanku di depan dosen!" saut Nara marah. "Kalau aku tidak menyudutkanmu, kamu tidak akan berkembang, Nara. Kamu terlalu manja dengan nilai-nilai sempurnamu itu." Nara tertawa sarkas. "Manja? Kamu gak tau apa-apa tentang aku, Arkan. Aku harus belajar sampai jam tiga pagi setiap malam cuma buat meraih nilai yang sama sepertimu! Aku gak mau dianggap numpang hidup di rumah keluargamu!" Mobil mendadak mengerem sedikit tajam saat berbelok memasuki gerbang sebuah perumahan elite. Arkan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah megah berlantai dua. Dia mematikan mesin, namun tidak segera membuka kunci pintu. Arkan memutar tubuhnya menghadap Nara. Tatapan matanya yang tadi dingin kini berubah menjadi gelap dan intens. "Numpang hidup?" Arkan mengulang kata-kata Nara dengan nada rendah yang berbahaya. "Siapa yang menganggapmu begitu?" ucap Arkan penuh penekanan. "Semua orang! Papamu dekan, kamu bintang kampus. Sementara aku dan ibuku cuma…" "Nara." Arkan memotong kalimat gadis itu. Dia memajukan tubuhnya, membuat Nara terdesak hingga punggungnya menempel pada pintu mobil. Jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Sehingga Nara bisa merasakan deru napas hangat Arkan di kulit wajahnya. "K-kamu mau apa? Buka kuncinya, aku mau turun," bisik Nara mendadak gugup setengah mati. Jantungnya berpacu liar. "Dengar baik-baik," Arkan berbisik tepat di depan bibir Nara, matanya terkunci pada manik mata gadis itu yang bergetar. "Jangan pernah sebut rumah ini bukan tempatmu. Dan berhenti memikirkan apa kata orang kampus." "Kenapa kamu peduli? Kamu kan cuma kakak tiriku!" Nara menggunakan kata 'kakak tiri' sebagai benteng terakhirnya yang telah gemetar hebat. Seringai Arkan runtuh, matanya menatap tajam sarat akan rasa frustrasi yang mendalam. Jari-jemarinya yang panjang bergerak, mencengkeram dagu Nara dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatapnya lebih dalam. "Itu masalahnya Nara," desis Arkan, suaranya serak. "Aku tidak pernah sedetik pun menganggapmu sebagai adikku dan aku muak mendengar kata itu keluar dari bibirmu." Nara tertegun, nafasnya tertahan di tenggorokan. Sebelum dia bisa mencerna arti kalimat itu, lampu teras rumah mendadak menyala terang. Pintu utama rumah terbuka, menampilkan sosok Ibu kandung Nara yang melambaikan tangan ke arah mobil. Arkan langsung melepaskan cengkeramannya, kembali ke posisi duduknya semula dengan sangat cepat seolah tidak terjadi apa-apa. Klik … Bunyi kunci pintu mobil terbuka. "Turun!" ucap Arkan, suaranya kembali dingin dan datar, seolah badai intensitas di antara mereka beberapa detik lalu hanyalah ilusi, "Mama sudah menunggumu." Nara mematung di tempatnya, memegang dadanya yang bergemuruh hebat, menatap Arkan dengan rasa syok yang luar biasa. Nara melangkah turun dari mobil dengan lutut yang terasa lemas, mengabaikan seruan hangat ibunya yang menyambut di teras rumah. Namun, tepat sebelum dia melangkah masuk ke dalam rumah, sebuah notifikasi pesan masuk bergetar di ponselnya dari nomor tidak dikenal, menampilkan sebaris kalimat yang membuat jantungnya seketika berdegup kencang. "Aku tahu rahasia besar tentang apa yang terjadi antara kamu dan Kakak tirimu di parkiran kampus tadi siang, Nara pilihannya cuma dua, mundur dari seleksi Beasiswa London atau foto-foto ini menyebar ke grup angkatan besok pagi."Bab 9 Nara melangkah dengan hentakan kaki yang menggema di koridor basemen gedung fakultas. Lorong menuju ruang loker debat dan riset hukum sore itu sangat sepi, kontras dengan keriuhan di lantai atas. Dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun, Nara mendorong pintu ruang loker hingga membentur dinding dengan keras. Brak! Pria yang sedang merapikan dasi hitamnya di depan cermin menoleh dengan sangat tenang. Arkan bahkan tidak terkejut melihat nafas Nara yang memburu di ambang pintu. "Kamu gila, Arkan! Benar-benar gila!" teriak Nara, membanting tas ranselnya ke atas bangku kayu panjang. Arkan memutar tubuhnya, memasukkan kedua tangan ke saku celana bahan hitamnya. "Gila di bagian mana, Nara? Aku cuma menjalankan tugasku sebagai penguji." "Tugas?" Nara maju beberapa langkah, menunjuk dada Arkan dengan jari yang bergetar. "Kamu sengaja membantaiku di depan Papa! Kamu sengaja bikin argumenku kelihatan cacat supaya mereka punya alasan buat menggagalkan aku!" "Kalau aku mau mengga
Bab 8 Malam kian larut, namun Nara masih terjaga. Pukul satu dini hari, dia berdiri di balkon kamarnya, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang lelah. Tiba-tiba, suara pintu penghubung balkon di sebelahnya bergeser pelan. Arkan berdiri di sana, hanya terpisah oleh pagar besi setinggi dada. Pria itu menyandarkan kedua lengannya di pagar, menatap Nara dengan rokok yang belum dinyalakan di jarinya. "Belum tidur? Berkas wawancaramu sesulit itu?" tanya Arkan, suaranya berat membelah keheningan malam. Nara menoleh ketus, "Gimana aku bisa tidur kalau ada orang gila yang terus meneror ponselku?" Arkan terkekeh pelan, seringai tipisnya terlihat samar di bawah temaram lampu balkon. "Aku tidak menerormu, Nara. Aku cuma mengingatkan agar kamu realistis." "Realistis?" Nara melangkah mendekati pagar pembatas, menatap Arkan dengan mata menyala. "Realistis versi kamu itu artinya aku harus menyerah pada mimpiku? Aku harus tinggal di rumah ini, pura-pura jadi adik tiri yang manis, sementara
Bab 7 Suara deburan hujan yang menghantam atap mobil sedan hitam milik Arkan menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan di sepanjang jalan pulang. Nara duduk menyamping, menempelkan keningnya pada kaca jendela yang dingin, sengaja melempar pandangannya jauh ke luar. Matanya masih sedikit sembap dan dadanya masih terasa sesak oleh sisa amarah di parkiran kampus tadi. Arkan mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu pada sandaran lengan. Pandangannya lurus menatap jalanan yang mulai tergenang air. "Sampai kapan kamu mau mendiamkanku?" suara berat Arkan memecah keheningan, memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka. Nara tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. "Jangan ajak aku bicara." "Kita akan sampai di rumah dalam sepuluh menit, Nara. Hapus air matamu kalau kamu tidak mau Mama berpikiran yang tidak-tidak," ucap Arkan, nadanya kembali datar dan dingin, seolah ledakan emosinya beberapa saat lalu telah menguap
Bab 6 Nara menatap papan pengumuman digital di lobi Fakultas Hukum dengan mata tak berkedip. Di baris paling atas hasil seleksi tertulis Global Prestise Scholarship, namanya tercetak jelas. Nara Anindita (NIM: 2024011032) – Skor: 95 Kevin Mahendra (NIM: 2022011005) – Skor: 90 Arkananta Dewangga (NIM: 2022011001) – Skor: 89 "Nar! Kamu peringkat pertama!" Citra mengguncang bahu Nara dengan histeris. "Kamu mengalahkan Kak Kevin dan Kak Arkan sekaligus! Gila, kamu resmi jadi legenda baru fakultas!" Nara tidak bersorak, jantungnya justru mencelos melihat angka 89 di samping nama Arkan. Sembilan puluh lima berbanding delapan puluh sembilan? Jarak angka itu terlalu jauh untuk standar seorang Arkananta. "Cit, aku ke ruang panitia dulu," ucap Nara datar, melepaskan cengkeraman tangan sahabatnya. "Eh? Mau ngapain? Bukannya harusnya merayakan?" "Ada berkas administrasi yang mau kupastikan." Nara setengah berlari menyusuri koridor lantai dua menuju ruang dosen panitia beasiswa. R
Bab 5 Atmosfer Aula Utama Lantai 4 Gedung Rektorat pagi ini terasa seperti ruang eksekusi. Bau kertas ujian yang khas berbaur dengan ketegangan dari lima puluh mahasiswa terbaik fakultas. Nara melirik jam dinding besi di atas mimbar. 08.55 WIB. Lima menit sebelum ujian seleksi tertulis Global Prestise Scholarship dimulai. "Nar, tanganmu dingin banget," bisik Citra, yang duduk di baris meja sebelah kanan Nara. "Kamu sudah belajar semua studi kasus hukum internasional yang keluar tahun lalu, kan?" Nara memaksakan senyum, meremas jemarinya yang mendadak beku. "Sudah, Cit. Cuma ... atmosfer ruangan ini agak bikin sesak." "Bukan ruangannya yang bikin sesak, tapi orang di baris depan itu," timpal Citra sambil memajukan dagunya ke arah baris terdepan, tepat di nomor kursi 01. Arkananta Dewangga, Pria itu duduk dengan punggung tegak, memutar-mutar pulpen hitamnya dengan gerakan ritmis yang sangat tenang. Tidak ada buku di mejanya. Tidak ada guratan panik di wajahnya. Seolah ujian penent
Bab 4 Matahari pagi belum sepenuhnya menghalau sisa dingin bekas hujan semalam, namun atmosfer di koridor Gedung B Fakultas Hukum sudah terasa membakar bagi Nara. Langkah kakinya terasa berat, tetapi cengkraman tangan Arkan di pergelangan tangannya memaksanya untuk terus maju. "Arkan, lepas! Kita sudah di koridor kampus," bisik Nara setengah mendesis, mencoba menyentak tangannya. "Kalau ada anak angkatan kita yang lihat, selesai sudah." Arkan tidak melepaskannya. Pria itu terus berjalan lurus menatap pintu kayu ruang Senat Mahasiswa di ujung lorong. "Jam menunjukkan pukul 09.05, Nara. Kita punya waktu kurang dari satu jam sebelum tenggat waktu si pemeras habis. Kamu masih mau peduli soal gosip?" "Tapi …," Braak! Arkan mendorong pintu ruang Senat tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sentakan keras itu membuat satu-satunya orang di dalam ruangan, yang sedang santai menyesap kopi di balik meja kerja, tersentak kaget hingga hampir menumpahkan minumannya. Kevin Mahendra. Sang Golden Bo







