ANMELDENBab 4
Matahari pagi belum sepenuhnya menghalau sisa dingin bekas hujan semalam, namun atmosfer di koridor Gedung B Fakultas Hukum sudah terasa membakar bagi Nara. Langkah kakinya terasa berat, tetapi cengkraman tangan Arkan di pergelangan tangannya memaksanya untuk terus maju. "Arkan, lepas! Kita sudah di koridor kampus," bisik Nara setengah mendesis, mencoba menyentak tangannya. "Kalau ada anak angkatan kita yang lihat, selesai sudah." Arkan tidak melepaskannya. Pria itu terus berjalan lurus menatap pintu kayu ruang Senat Mahasiswa di ujung lorong. "Jam menunjukkan pukul 09.05, Nara. Kita punya waktu kurang dari satu jam sebelum tenggat waktu si pemeras habis. Kamu masih mau peduli soal gosip?" "Tapi …," Braak! Arkan mendorong pintu ruang Senat tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sentakan keras itu membuat satu-satunya orang di dalam ruangan, yang sedang santai menyesap kopi di balik meja kerja, tersentak kaget hingga hampir menumpahkan minumannya. Kevin Mahendra. Sang Golden Boy kampus. "Arkan? Nara?" Kevin mengerutkan kening, mencoba menguasai keterkejutannya dengan senyum ramah andalannya. "Ada apa ini? Datang-datang langsung dobrak pintu. Kelihatan tegang banget, ada masalah riset?" ujar Kevin berpura-pura tidak tau. Arkan melepaskan tangan Nara, lalu melangkah maju, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja kerja Kevin. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap Kevin dengan pandangan dingin yang mematikan. "Jangan berlagak bodoh, Vin, serahkan file aslinya!" ucap Arkan tenang namun penuh penekanan. Senyum Kevin perlahan memudar, digantikan oleh kerutan bingung yang tampak sangat natural. "File? File apa maksudmu, Arkan? Kalau soal berkas Beasiswa London, panitia yang pegang, bukan aku." Nara maju selangkah di samping Arkan, mengeluarkan ponselnya dan membantingnya ke atas meja tepat di hadapan Kevin. Layarnya menampilkan foto parkiran semalam. "Ini, Ini file yang kami maksud, Kevin." Kevin melirik ponsel itu, lalu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat renyah dan meremehkan. "Wah, foto apa ini? Siluet dua orang di dalam mobil? Kenapa kalian tunjukkan ini padaku? Memangnya aku fotografer keliling?" "NIM kamu, Kevin," potong Arkan, suaranya sangat rendah namun bergetar penuh ancaman. "NIM kamu tercatat di log server Wifi Gedung B lantai dua tepat jam delapan malam tadi. Kamu mengunggah foto ini ke server hosting nomor virtual menggunakan akun kampusmu." Raut wajah Kevin seketika mengeras. Topeng ramahnya runtuh dalam satu detik. Dia bersandar di kursinya, melipat tangan di dada, lalu menatap Arkan dan Nara bergantian dengan pandangan sinis. "Wah, wah. Bintang debat kita ternyata merangkap jadi peretas sekarang? Hebat juga." "Jadi benar kamu?" Nara menatap Kevin tidak percaya, matanya memanas karena rasa kecewa. "Kamu sekotor ini cuma demi menyingkirkan aku dari peringkat pertama beasiswa?" "Kotor?" Kevin mendengus, bangkit dari kursinya hingga tinggi badannya sejajar dengan Arkan. "Jangan munafik, Nara. Kamu pikir caramu mendapatkan peringkat pertama itu bersih? Semua orang di fakultas ini tahu siapa papamu, Dekan! Kamu pikir mereka percaya kamu dapat nilai murni tanpa bantuan orang dalam?" "Aku belajar sampai jam tiga pagi setiap hari!" teriak Nara, air matanya mulai menggenang. "Papaku tidak pernah menyentuh satu pun nilai ujianku!" "Siapa yang peduli?" Kevin tersenyum puas, menatap Nara dengan tatapan mengejek. "Dunia ini melihat rumor, Nara, bukan kenyataan. Dan foto di ponselmu itu ... kalau sampai menyebar, judulnya bukan lagi bantuan nilai, tapi skandal moral keluarga Dekan. Bayangkan apa yang terjadi dengan jabatan papamu besok pagi." Nara melangkah mundur, tubuhnya gemetar. Kata-kata Kevin menghantam tepat di ulu hatinya. "Kamu tidak akan menyebarkannya, Kevin," ucap Arkan tenang, terlalu tenang untuk situasi yang sedang memanas. Kevin menaikkan sebelah alisnya, menatap Arkan menantang. "Oh ya? Apa yang membuatmu seyakin itu? Jam sembilan lewat lima belas menit sekarang. Tinggal empat puluh lima menit lagi sebelum draf email otomatis itu terkirim ke komite etik dan grup angkatan. Surat mundur si Nara mana?" Arkan tidak menjawab secara verbal. Dia merosotkan tubuhnya ke kursi di depan meja Kevin, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk perak dari saku celananya dan meletakkannya di meja. "Apa itu?" tanya Kevin, matanya menyipit curiga. "Data keuangan Senat Mahasiswa periode ini," jawab Arkan santai, memutar-mutar flashdisk tersebut dengan jari-jarinya. "Khususnya bagian dana hibah riset eksternal yang kamu cairkan bulan lalu. Mau aku sebutkan ke mana aliran dana dua puluh lima juta yang tidak masuk ke laporan itu pergi, Vin?" Wajah Kevin seketika memucat, jauh lebih pucat daripada wajah Nara semalam. "Dari mana kamu ... itu rahasia internal pengurus inti!" "Di fakultas hukum, semua orang saling injak demi ambisi. Bukankah itu katamu tadi?" Arkan meniru kalimat Kevin dengan nada sarkas yang sempurna. Dia berdiri kembali, menatap Kevin dari atas ke bawah. "Satu klik dari laptopku, dan data korupsi dana Senat ini akan sampai ke meja Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan sebelum jam sepuluh. Pilihannya mudah, Kevin. Kita hancur bersama, atau kamu hapus draft email itu sekarang juga." Kevin mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, matanya memancarkan rasa frustrasi yang luar biasa. Dia menatap Arkan dengan kebencian mendalam, lalu melirik Nara yang masih mematung. "Kalian berdua ... benar-benar gila," desis Kevin. Dengan tangan gemetar, dia membuka laptopnya yang ada di meja, mengetik dengan kasar selama beberapa detik, lalu memutar layarnya ke arah Arkan dan Nara. "Lihat ini. Draf penghapusan otomatis sudah selesai. Videonya, fotonya, semuanya sudah kuhapus permanen dari server." Nara mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Lututnya terasa lemas. "Bagus," ucap Arkan dingin. Dia menyambar kembali ponsel Nara dan flashdisk peraknya. "Satu hal lagi, Kevin. Kalau sampai ada satu saja rumor aneh tentang Nara di kampus ini setelah hari ini ... aku tidak akan segan-segan mengirimmu langsung ke ruang sidang nyata." Arkan berbalik, mencengkeram lembut pundak Nara dan menuntunnya keluar dari ruangan yang mendadak terasa pengap itu. Begitu pintu ruang Senat tertutup di belakang mereka, Nara langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor yang sepi. "Arkan ... dari mana kamu dapat data dana Senat itu?" tanya Nara dengan suara berbisik, karena masih syok. Arkan memasukkan tangannya ke saku celana, menatap Nara dengan tatapan yang kembali melunak. "Aku tidak punya data apa-apa, Nara. Flashdisk itu cuma berisi draf tugas akhirku yang belum selesai." Nara membelalakkan matanya. "Kamu ... kamu menggertaknya? Kamu berbohong?" ucap Nara tidak percaya. "Dalam hukum, gertakan yang meyakinkan sering kali lebih mematikan daripada bukti yang lemah," Arkan tersenyum tipis, sebuah seringai yang membuat jantung Nara berdegup aneh. "Kevin itu penakut, dia punya terlalu banyak hal yang dipertaruhkan, jadi dia tidak akan berani mengambil resiko." Nara menatap pria di depannya dengan perasaan campur aduk. Rasa kagum, lega, dan rasa takut yang aneh karena menyadari betapa berbahayanya jalan pikiran Arkan. "Terima kasih," kata Nara lirih, menundukkan kepalanya. "Kamu benar-benar menyelesaikan ini." "Aku belum menyelesaikannya, Nara," bisik Arkan. Pria itu tiba-tiba melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga punggung Nara kembali terbentur dinding koridor kampus. Di lorong sepi yang remang-remang ini, Arkan menundukkan kepalanya, menatap langsung ke dalam manik mata Nara yang bergetar. "Masalah dengan Kevin sudah selesai. Tapi masalah di antara kita berdua... baru saja dimulai."Bab 102 "Susu untukmu bisa menunggu, Nara. Tapi memeluk istriku di pagi hari adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Pria tegap itu justru mempererat kuncian lengannya, menundukkan wajahnya untuk mengecup bahu Nara yang terbuka dengan kecupan mesra. Nara tertawa kecil, memutar tubuhnya di dalam kekangan lengan Arkan agar bisa menghadap suaminya seutuhnya. "Kamu ini tidak berubah ya, Pak Pengawas. Selalu saja suka memaksakan kehendak." "Itu hanya berlaku khusus untukmu, sayang," bisik Arkan lembut tepat di depan bibir Nara. Baru saja Arkan hendak menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Nara, suara tangisan bayi yang nyaring mendadak terdengar dari arah kamar sebelah lewat perangkat monitor bayi di meja rias. Oeeek ... Oeeek ... Nara seketika menahan dada bidang Arkan sambil tersenyum menggoda. "Nah, dengar itu? Pangeran kecilmu, Elang Arkananta Dewangga, sudah bangun. Tugas pengawas pribadiku sekarang adalah menggend
Bab 101 Brak! Pintu ganda ya g terdapat pada klinik di pinggiran Den Haag itu didobrak dengan sangat keras. Arkananta Dewangga berdiri di ambang pintu dengan nafas memburu dan tatapan mata gelap yang sangat mengerikan. Setelan jas hitamnya yang berantakan justru menambah pekat aura intimidasi yang memancar dari tubuh tegapnya. Adrian Vance langsung berdiri tegak di depan ranjang rawat Nara, ia memasang badan untuk melindungi Nara dengan ekspresi tegang. "Mr.Dewangga jaga sikap anda! Anda tidak boleh merusak fasilitas medis!" "Menyingkir dari hadapanku, Vance, sebelum aku benar-benar menghancurkan kariermu!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang menggelegar. Adrian tidak mundur satu inci pun. "Aku tidak akan membiarkanmu membawa Nara pergi dalam kondisi rapuh seperti ini! Kamu egois, Arkan! Kamu hampir mengorbankan keselamatan bayimu demi egomu!" Bugh! Satu pukulan kuat dari kepalan tangan kokoh Arkan mendarat telak di rahang Adrian, membuat pria baik-baik itu terhuyu
Bab 100 Wajah Felicia seketika pucat pasi, tangannya gemetar hebat karena tidak menyangka Nara yang sedang lemas di atas ranjang masih bisa melayangkan serangan balik yang sangat presisi dan mematikan. Menyadari dirinya kalah telak, Felicia menyambar tas mewahnya dan berbalik berlari cepat keluar dari kamar dengan rasa malu yang pekat. Setelah Felicia pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Adrian menatap Nara dengan tatapan takjub. "Kamu benar-benar luar biasa, Nara. Bahkan dalam kondisi seperti ini." Nara perlahan menarik tangannya secara halus dari genggaman Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata pria baik-baik itu dengan senyuman yang teramat manis. "Terima kasih, Adrian. Kamu adalah pria yang sangat baik, dan aku sangat menghargai bantuanmu hari ini. Tapi ... aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk tinggal di sini," ucap Nara tegas. Adrian tertegun, matanya meredup karena kecewa. "Kenapa, Nara? Arkan sudah membuatmu terluka." "Karena sekeras apa pun Arkan mend
Bab 99 Dua jam berlalu dengan sangat mencekam di apartemen mereka dekat kanal. Arkananta berdiri di tengah ruang tengah dengan kemeja yang berantakan dan nafas yang memburu. Di atas meja kaca, tergeletak ponsel milik Nara beserta cincin berlian biru safir yang sengaja dilepaskan dari jari manis istrinya. Nara menghilang tanpa jejak, semua sistem pelacakan digital yang biasanya diandalkan Arkan tidak berfungsi karena Nara dengan sengaja mematikan seluruh akses GPS rumah dan apartemen menggunakan keahlian digitalnya sendiri. Sang pengawas yang biasanya selalu bersikap percaya diri dan memiliki kendali penuh, kini benar-benar didera kebingungan dan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Brak. Pintu depan terbuka, Thomas masuk dengan wajah pucat. "Mr.Dewangga! Tim keamanan sudah memeriksa seluruh stasiun dan bandara di Den Haag, tapi nama Nyonya Nara tidak terdaftar di mana pun!" "Cari lagi, Thomas!" bentak Arkan, suaranya meninggi karena frustrasi hingga urat-urat di lehernya menegan
Bab 98 Felicia terkekeh pelan, melangkah satu kali lagi hingga jaraknya dengan Arkan terasa begitu tipis. "Tenang saja, aku ke sini justru untuk membersihkan nama baik keluargaku dari kebodohan Kevin. Aku profesional, Arkan. Dan kurasa ... aku bisa menjadi rekan kerja yang jauh lebih sepadan untukmu di Den Haag daripada mempertahankan analis yang sedang tidak produktif." Nara tertegun di balik pintu, pandangannya turun menatap gaun hamil longgarnya, lalu beralih pada sosok Felicia yang tampak begitu sempurna, langsing, dan memiliki kendali penuh atas karier internasionalnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Nara Anindita sang peraih nilai pleno tertinggi Oxford, merasa tidak percaya diri. Rasa mual di perutnya mendadak berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Nara memilih mundur perlahan, namun langkah kakinya yang berat terdengar oleh Arkan. Klak. Pintu kaca langsung ditarik terbuka dari dalam, Arkan berdiri di ambang pintu, mata elangnya seketika menangk
Bab 97 "Aku hanya bisa tenang jika kamu dan anak kita berada di bawah perlindunganku, Cantik," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Nara. "Katakan padaku, Nyonya Dewangga ... siapa pemilik hatimu sekarang?" Nara tersenyum dengan manis, lalu menyentuh ujung hidung suaminya. "Kamu, Arkananta. Hanya kamu yang memegang kendali atas hidup dan matiku," ucap Nara. Pagi harinya di dapur rumah milik Nara, sinar matahari menembus jendela kaca, menerangi cangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap panas. Nara sedang berada di kamar mandi untuk mengatasi mual paginya. Di meja makan, ponsel Nara bergetar pendek. Arkan yang sedang mengancingkan kemeja hitamnya, langsung melirik ponsel tersebut. Mata elangnya menyipit tajam, tanpa ragu tangan kokohnya menyambar benda itu. Layar ponsel Nara menampilkan ruang obrolan dari Adrian Vance. Dengan raut wajah kesalnya, ia mengetuk layar dan mengetikkan balasan dengan gerakan yang cepat menggu







