Suasana di dalam ruangan isolasi itu perlahan mendingin, meninggalkan sisa napas terengah dan aroma antiseptik yang bercampur keringat. Zea bergerak gelisah di atas dada bidang Daren, mencoba menarik tubuhnya menjauh. Wajahnya memerah padam, bukan karena sisa gairah, melainkan karena gelombang rasa malu yang tiba-tiba menghantam akal sehatnya."Jangan melihatku seperti itu!" sergah Zea ketus, menarik kerah bajunya tinggi-tinggi untuk menutupi lehernya yang penuh tanda merah. "Aku tidak sengaja! Maksudku, keadaan darurat! Jangan besar kepala, Tuan Elvano!"Daren tidak bergeming dari posisinya di atas brankar. Pria itu menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain terulur santai menarik ujung kemeja Zea agar wanita itu tidak bergeser terlalu jauh."Kau baru saja menyelamatkan nyawaku dengan cara paling intim di muka bumi ini, Zea," suara Daren terdengar rendah, serak, namun penuh ejekan halus yang membuat darah Zea mendidih. "Dan sekarang kau bertingkah seolah-ola
Dernière mise à jour : 2026-09-11 Read More