"Kalau pada akhirnya kamu menolak, aku sudah tidak bisa memaksa lagi, Nin," ucap Khaisar lirih, menyembunyikan rasa perih di balik suaranya. "Harapanku mungkin memang harus pupus. Berjuang lagi bersamamu mungkin memang terlalu berat bagimu. Beban yang harus kau terima memang dua kali lipat dari hubungan kita yang dulu."Mendengar nada putus asa dari pria yang selama ini menjadi pelindung rahasianya, hati Nindiya tersentak. Nindiya menoleh, menatap manik mata Khaisar dengan sungguh-sungguh. "Mas, bisakah kita membicarakan hal ini dengan lebih serius di lain kesempatan?"Seketika binar harapan yang sempat redup kembali menyala terang di mata Khaisar. Pria itu menegakkan duduknya dan tersenyum lebar. "Iya, tentu saja bisa. Bagaimana kalau kita ketemuan lagi hari Minggu ini? Kamu bisa?""Iya, Mas."Belum sempat Khaisar membalas ucapannya, ponsel di dalam tas Nindiya kembali berdering nyaring, memecah keheningan kabin. Nama sang ibu tertera jelas di layar ponsel.Nindiya segera menjawabny
Last Updated : 2026-10-11 Read more