Brak!Dokumen tebal berkulit cokelat tua itu mendarat dengan suara cukup nyaring di atas meja kerja Hardy.Laura membuang napas kasar, memutar tubuhnya cepat, lalu menatap Hardy dengan tatapan yang bisa melubangi tembok."Hardy," panggil Laura, suaranya tertahan di tenggorokan, berusaha setengah mati untuk tidak berteriak di tengah area kantor yang agak lengang."Kenapa kamu nggak suruh aku buat pelajari dulu isi dokumen ini sebelum dibawa masuk? Maksud aku, minimal kasih tahu aku poin-poin pentingnya!"Hardy menganga. Matanya berkedip beberapa kali, memegang pulpen yang hampir terlepas dari jarinya. "Maksudnya... gimana, Laura?"Laura menggigit bibir bawahnya, tengah menahan rasa jengkel yang sudah sampai di ubun-ubun.Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan melalui hidung."Pak Jonas... dia nggak mau tanda tangan," kata Laura, suaranya kini melunak tapi sarat akan kekesalan."Dia bilang, dia nggak akan pernah menyentuh pulpen itu kalau
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-22 Mehr lesen