LOGINAku melotot kesal pada Mikael yang dengan santainya menumpuk beberapa kardus di depan kamar yang nantinya akan kutinggali.
“Rongsokan dari mana ini?” tanyanya dengan nada seenaknya, seolah tak bersalah.
Aku mendengus, menahan emosi yang hampir meledak. Tanpa menjawab, aku berjongkok, memunguti baju-bajuku yang tercecer dari dalam kardus.
“Iya, iya! Memang mirip sampah! Tapi kalau kamu membuangnya, aku harus pakai apa?” Aku mengembalikan baju-baju itu ke dalam kardus, mengusap noda bekas sepatunya yang tertinggal di beberapa bagian kain.
Mikael mendecih, wajahnya terlihat tak suka. “Jangan terbiasa hidup miskin. Menjadi menantu keluarga Aryasatya itu tak pantas pakai sampah ini. Buang semuanya!”
Aku menunduk. Kata-katanya memang tidak salah. Baju-bajuku lusuh, sebagian besar adalah pemberian para santri senior di pondok. Selama enam tahun ini, aku tak pernah membeli baju baru. Semua yang kupakai adalah pakaian bekas orang lain yang masih layak.
“Tapi, Kak….”
“Buang! Aku akan menggantinya dengan yang baru!”
Nada suaranya tegas, tak bisa dibantah. Aku mengepalkan jemari, menahan rasa perih yang tiba-tiba muncul. Akhirnya, aku menurut. Dengan langkah berat, aku mengangkat kardus itu dan membawanya ke tempat sampah.
Saat kembali, Mikael sudah berdiri di dekat pintu, mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Sebuah kartu berwarna hitam dengan logo eksklusif berkilauan.
“Limitnya 100 juta. Belikan semua keperluanmu.” Ia menyerahkan kartu itu padaku. “Aku harus pergi.”
Setelah mengatakan itu, dia langsung melangkah keluar. Aku terpaku, menatap kartu di tanganku dengan mata melebar. Seratus juta… buat belanja? Apa aku nggak salah dengar?
Mobil Mikael melaju keluar gerbang. Namun, tak lama setelah itu, sebuah mobil lain berhenti tepat di depan rumah. Aku mengintip dari balik tirai ruang tamu. Seorang pria turun dari mobil, mengenakan celana selutut dan kaus bercorak pelangi.
Dia bahkan nggak mengetuk pintu?!
Aku semakin curiga saat melihatnya membuka pintu begitu saja lalu masuk dengan santainya.
“Kamu Safira, kan? Calon istrinya Mika?”
Aku masih berdiri di dekat pintu masuk, menatapnya dengan bingung. Pria itu tersenyum. Dan… astaga. Tampan sekali.
Aku bahkan bisa melihat sekilas lesung pipinya saat dia tersenyum lebar.
“Duduklah, aku sudah bawakan makan siang untukmu.”
Aku masih terdiam. Pria itu berjalan ke meja makan, mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantongnya.
“Mika pasti nggak beliin kamu makanan, kan?”
Aku mengangguk lemah. Bukan karena lapar, tapi karena masih terkesima oleh ketampanannya. Ini orang bidadara atau semacam malaikat, ya?
Dia mendorong salah satu kotak makanan ke arahku, menyuruhku untuk segera makan.
Aku menelan ludah, lalu akhirnya membuka suara. “Kamu apanya Kak Mika?”
Dia terkekeh kecil, lalu tersenyum lagi. “Kita sudah ketemu dua kali. Kamu nggak sadar?”
Aku menyipitkan mata, mencoba mengingat. Dua kali? Kapan?
Tatapanku mengarah ke langit-langit rumah, berusaha memutar ulang ingatan. Lalu… aku teringat sosok pria yang pernah masuk ke ruang kerja Mikael, mengenakan hoodie dan masker hitam.
Aku menoleh cepat. “Kamu… pacarnya Kak Mika?” dia tak menanggai pertanyaanku dan masih fokus untuk memakan makanan dihadapannya.
Aku menatap pria di depanku dengan sedikit waspada.
"Kamu tinggal di sini?" tanyaku ragu.
Dia mengangguk santai. "Jonas," katanya memperkenalkan diri dengan suara lembut namun penuh percaya diri. "Aku ada di kamar lantai dua. Tak perlu membersihkan kamarku, cukup siapkan makanan untukku."
Aku menelan ludah berkali-kali. Satu pria seperti Mikael saja sudah membuatku kewalahan, kenapa sekarang ada lagi?
"Itu…?"
"Tenang saja, aku akan membayarmu selama mau mengurus keseharianku di sini."
Aku mengerutkan kening. Tapi kata "membayar" adalah sesuatu yang membuatku sedikit bersemangat. Apa yang lebih membahagiakan dalam hidup selain uang?
"Baiklah, sepakat," ujarku akhirnya.
Dia tersenyum, dan untuk kesekian kalinya, aku terpesona oleh lesung pipinya yang membuatnya terlihat semakin tampan.
Setelah itu, dia meminta nomor ponselku. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Aku membelalakkan mata membaca daftar panjang yang dikirimnya. Semua makanan di daftar itu berkelas dan mahal.
"Kirim nomor rekeningmu. Aku akan transfer uang untuk belanja. Di depan kompleks ini ada swalayan serba ada, kau bisa ke sana sendiri, kan?"
Aku mengangguk. "Baiklah, aku akan belanja setelah kuliah."
"Oke, jam berapa kuliahmu?"
"Jam empat sore."
"Kamu bisa berangkat bersamaku. Bersiap-siaplah."
Akhirnya aku setuju. Tumpangan gratis berarti penghematan, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Selama perjalanan, aku diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Jonas ini sungguh tampan. Wajahnya lembut, berbeda dengan Mikael yang selalu terlihat tegang. Ada kesan ramah yang membuatnya lebih mudah didekati.
"Kak, serius kamu dan Kak Mika pacaran?" tanyaku iseng, mencoba mencairkan suasana. Dia hanya tersenyum, tidak menjawab.
Aku mendecak pelan. "Padahal kalian sama-sama tampan. Apa tidak ada cewek yang menyukaimu?"
Jonas menoleh padaku, lalu mengibaskan rambutnya dengan gerakan yang sangat anggun. Aku langsung terpana melihat caranya melakukannya dengan begitu natural.
"Dan kamu? Memangnya tidak ada yang menaksirmu sampai mau menikah dengan pria homo seperti Mika?" tanyanya dengan nada menggoda.
Aku mendengus kesal. Pertanyaan telak. Benar juga, kenapa aku harus mau?
"Karena uang?"
Dia tertawa keras, sepertinya menyindirku. Namun, setelahnya...
Aku mengangguk paham saat Jonas berkata akan mengantarku belanja. Ah, lelaki ini memang selalu membuatku gugup.Toko ini bukan sekadar swalayan biasa, melainkan lebih mirip dengan pusat perbelanjaan kelas atas. Saat menatap harga-harga yang tertera di rak, aku tersadar, tentu saja, ini kompleks perumahan mewah. Barang-barang di sini pun memiliki harga yang sangat premium."Apa yang kamu lihat?" Jonas bertanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memilih paprika merah yang terlihat segar."Kaget dengan harganya?" lanjutnya dengan nada mengejek. "Sebagai istri Mika, kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal mahal."Nada bicaranya seolah ingin menekanku. Aku melengos, mendorong troli ke depan tanpa menjawab. Mungkin dia cemburu padaku karena aku adalah istri dari pacarnya. Ya, pacar prianya."Safira? Kamu kok di sini?"Aku mendongak, mendapati Viona berdiri di depanku, memegang keranjang belanjaan. Seketika, tubuhku menegang. Duh, bagaimana aku harus menjelaskan keberadaanku di sini?"Kamu kerj
Aku mengangguk mantap. "Kamu benar, aku memang suka uang."Jonas hanya menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya, seolah menyimpan pemikiran yang hanya dia sendiri yang tahu. "Tak salah Mika memilihmu."Aku mengabaikan nada misterius dalam ucapannya. "Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam. Kalau masih keburu, aku akan membelanjakan semuanya. Jika tak keburu, boleh besok saja?"Dia mengangguk santai. "Terserah kamu. Aku tidak terburu-buru."Aku turun dari mobil putih terang itu, lalu berjalan memasuki area kampus. Baru saja melewati gerbang, Viona sudah menghadang langkahku dengan senyum menyebalkan."Taksi online lagi? Sepertinya kamu sangat beruntung ya, Fir. Setiap hari numpang mobil mewah," sindirnya.Aku menanggapinya dengan senyum merekah tanpa berkata apa-apa, memilih untuk berjalan melewatinya."Oh ya, jangan lupa. Besok aku ada acara di kafe tempatmu bekerja," ucapnya lagi dengan nada meremehkan.Langkahku terhenti. "Aduh, Viona, maaf. Aku sudah pindah kerja, jadi nggak
Aku melotot kesal pada Mikael yang dengan santainya menumpuk beberapa kardus di depan kamar yang nantinya akan kutinggali.“Rongsokan dari mana ini?” tanyanya dengan nada seenaknya, seolah tak bersalah.Aku mendengus, menahan emosi yang hampir meledak. Tanpa menjawab, aku berjongkok, memunguti baju-bajuku yang tercecer dari dalam kardus.“Iya, iya! Memang mirip sampah! Tapi kalau kamu membuangnya, aku harus pakai apa?” Aku mengembalikan baju-baju itu ke dalam kardus, mengusap noda bekas sepatunya yang tertinggal di beberapa bagian kain.Mikael mendecih, wajahnya terlihat tak suka. “Jangan terbiasa hidup miskin. Menjadi menantu keluarga Aryasatya itu tak pantas pakai sampah ini. Buang semuanya!”Aku menunduk. Kata-katanya memang tidak salah. Baju-bajuku lusuh, sebagian besar adalah pemberian para santri senior di pondok. Selama enam tahun ini, aku tak pernah membeli baju baru. Semua yang kupakai adalah pakaian bekas orang lain yang masih layak.“Tapi, Kak….”“Buang! Aku akan menggantin
Aku duduk bersimpuh di atas permadani tebal dengan motif klasik berwarna emas. Di sampingku, Bu Nyai tersenyum lembut, tangannya mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang."Gimana, Saf? Kamu siap kan jadi istrinya Mas Mika?" tanyanya dengan suara lembut, seolah memahami gejolak batinku.Aku tersenyum kecil. Siap atau tidak, aku harus siap. Kekayaan terbentang di depan mata, kehidupan yang nyaman sudah menungguku. Dengan menikahi Mikael, aku tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah, tempat tinggal, atau bahkan makan sehari-hari. Ini seperti keberuntungan yang datang tanpa harus kucari."Iya, Umi," jawabku pelan.Bu Nyai kembali mengusap punggungku, seolah menyalurkan kehangatan yang selama ini tak pernah kurasakan dari seorang ibu. Selama enam tahun aku mengabdi di keluarga Kyai, bertahan di pondok dengan segala keterbatasan. Bukan hanya karena aku ingin belajar agama, tapi juga karena aku tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap bertahan hidup
Mikael akhirnya menghela napas panjang, lalu meneguk air sparkling dalam botol kaca. Aku menunggu hingga dia selesai sebelum mendekat dan berbisik pelan di telinganya."Kak, kamu kaya banget ya? Kamu nggak berniat nikahin aku sekalian jadiin tumbal pesugihan, kan?"Tepat saat itu, Mikael tersedak, batuk-batuk hingga wajahnya sedikit memerah. Aku langsung panik, buru-buru menepuk punggungnya."Jangan ngawur!" dengusnya setelah akhirnya bisa bernapas normal.Aku memasang wajah sedih. "Aku memang nggak punya orang tua, Kak. Tapi jangan gitu amat dong."Mikael mendengus, lalu menunjuk keningku dan menekannya sedikit lebih kuat dari yang seharusnya. "Hilangkan pikiran kotormu itu!"Aku meringis kesakitan, sementara dia melirik pegawai yang tadi membantuku mencoba gaun. Dengan sekali isyarat, pegawai itu langsung mengajakku masuk kembali ke ruang ganti.Aku mengusap pelan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dadanya, mengagumi keindahannya. "Aku jarang lihat orang nikah pakai b
“Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masu







