Share

PL 7

Author: Piki Chan
last update publish date: 2026-09-04 16:15:03

Aku mengangguk paham saat Jonas berkata akan mengantarku belanja. Ah, lelaki ini memang selalu membuatku gugup.

Toko ini bukan sekadar swalayan biasa, melainkan lebih mirip dengan pusat perbelanjaan kelas atas. Saat menatap harga-harga yang tertera di rak, aku tersadar, tentu saja, ini kompleks perumahan mewah. Barang-barang di sini pun memiliki harga yang sangat premium.

"Apa yang kamu lihat?" Jonas bertanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memilih paprika merah yang terlihat segar.

"Kaget dengan harganya?" lanjutnya dengan nada mengejek. "Sebagai istri Mika, kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal mahal."

Nada bicaranya seolah ingin menekanku. Aku melengos, mendorong troli ke depan tanpa menjawab. Mungkin dia cemburu padaku karena aku adalah istri dari pacarnya. Ya, pacar prianya.

"Safira? Kamu kok di sini?"

Aku mendongak, mendapati Viona berdiri di depanku, memegang keranjang belanjaan. Seketika, tubuhku menegang. Duh, bagaimana aku harus menjelaskan keberadaanku di sini?

"Kamu kerja jadi pembantu di kompleks ini?" tanyanya dengan nada merendahkan.

Aku tersenyum kecil dan mengangguk. Sudah kuduga, pandangan menghina itu selalu ada setiap kali bertemu dengannya.

"Kalau kamu jadi pembantu, apa aku harus izin dulu ke majikanmu supaya kamu bisa datang ke pesta ulang tahunku besok?"

Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Tapi tiba-tiba, suara lain menyela dari sampingku.

"Datanglah, aku sudah mengizinkanmu." Jonas. Dia meletakkan paprika ke dalam troli, lalu menatap Viona dengan ekspresi santai namun tajam.

"Jam berapa? Perlu kuantar?" tanyanya tenang.

Aku buru-buru menggeleng dan mengangkat tangan, menolak tawaran itu. Tapi Viona justru tampak lebih terkejut.

"Jonas Wiraguna?"

*

Aku mengerjapkan mata dengan malas, lalu mematikan alarm ponselku. Setelah bangun, aku segera menuju kamar mandi. Ini adalah malam pertamaku tinggal di rumah ini. Aku berada di lantai satu, sementara Mika dan Jonas, pasangan pria itu, tinggal di lantai atas.

Aku terbiasa bangun malam untuk sholat tahajud di pondok. Tapi karena sedang berhalangan, aku hanya duduk di tempat tidur dengan malas, melirik jam digital di meja yang menunjukkan pukul tiga dini hari.

Aku menghela napas, memandangi rumah mewah yang sunyi ini. Apa yang bisa kulakukan? Aku tahu diriku tidak akan bisa tidur lagi, jadi aku berinisiatif membersihkan rumah dan memasak sesuatu.

Dengan ponsel di tangan, aku menuju dapur. Kubuka platform video dan memutar bacaan Al-Qur’an yang biasa menemani hari-hariku.

Saat membuka kulkas, aku cukup terkejut melihat banyaknya bahan makanan yang tersimpan rapi di dalamnya. Ini bukan hanya milik Jonas. Apakah Mika yang biasa menyiapkannya? Entahlah. Yang jelas, tugasku di rumah ini hanya menjadi pembantu berkedok istri. Tidak masalah, karena bayarannya tidak main-main.

Yasin. Wal-Qur’anil Hakim. Innaka laminal mursalin. 'Alaa shiraathim mustaqim. Tanzilal 'azizir rahim.

Tiba-tiba, pemutar videoku berhenti. Aku menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

"Apa yang kamu lakukan semalam ini?" Suara berat itu berasal dari Jonas, yang kini berdiri di ambang pintu dapur.

"Aku sedang memasak," jawabku singkat.

Dia mengerutkan kening. "Masak? Untuk siapa?"

"Untuk kita," balasku, tetap sibuk dengan bahan-bahan yang kusiapkan.

Alih-alih membalas, dia tersenyum kecil lalu menghampiriku.

"Memangnya kamu tidak bisa memasak nanti pagi saja? Ini masih malam. Dan suara yang kamu putar cukup mengganggu tidurku."

Aku mencibir mendengar protesnya. "Itu bukan musik, Jonas. Itu bacaan Al-Qur’an. Jangan bilang kamu kepanasan mendengarnya."

Dia menatapku sejenak sebelum berbalik. Tak lama kemudian, dia kembali dengan sebuah headset di tangan. Dengan ekspresi datar, dia menyodorkannya padaku.

"Aku baru saja pulang tengah malam dan kamu mengganggu tidurku. Pakai ini kalau mau memutar sesuatu."

Setelah berkata begitu, dia benar-benar kembali ke kamarnya di lantai atas, meninggalkanku yang hanya bisa menghela napas kasar. Lelaki ini… memang menyebalkan.

*

“Saf, mau bareng aku, gak?” Faizah meneleponku. Aku hanya menghela napas kesal. Yah, haruskah aku datang ke pesta ulang tahun Viona kali ini?

“Aku belum beli kado, aku tak punya baju juga.”

“Kita bisa beli bersama. Apa kamu pinjam uangku dulu? Belikan yang biasa saja, aku yakin sudah banyak yang memberinya kado mewah.”

Aku kembali menghela napas. Setelah menyetujuinya, aku langsung bersiap. Masih jam 3 sore, aku menemui Faizah di sebuah mall. Ini pertama kalinya aku ke sini untuk belanja. Biasanya aku hanya membeli es teh satu cup dan berkeliling untuk melihat-lihat saja.

Kami memilih cukup lama. Faizah menyarankan kami untuk membeli yang serupa. Yah, ide yang bagus. Daripada aku datang tanpa kado, pasti dia akan semakin merendahkanku.

Setelah urusan kado ini beres, aku dan Faizah menuju kafe milik Mikael. Semuanya sudah dihias sedemikian rupa. Bahkan tak hanya teman-teman kampus yang hadir, banyak sekali anak orang kaya lainnya yang juga datang. Mereka membawa kado besar-besar dan tentunya diantar oleh mobil-mobil mewah.

“Oh, ini acara temanmu?”

Aku ingat suara itu, seniorku saat aku magang di sini. Aku hanya mengangguk melihat tatapan sinisnya. Dia sengaja menyenggol pundakku seolah menyuruhku minggir.

Yah, sebenarnya aku sangat malas menceritakan detail acara ini. Sudah tentu, si bintang acara yang tak lain adalah Viona, begitu muncul langsung disambut suara riuh pujian karena kecantikannya.

“Makan gratis dong, kamu?”

Kembali Mbak Sita meledekku. Aku sengaja mengambil satu potong buah yang tersaji, lalu melahapnya seolah pamer di hadapannya.

“Ya, begitulah. Tak mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan.” Ejekku.

Dia nampak kesal walaupun terlihat profesional dengan menata hidangan di meja.

“Namanya orang bawah, jangan harap bisa naik ke tempat yang bukan seharusnya.” Dia menyindirku.

“Benar juga, Mbak. Lagian kalau naik gak ada tangganya kan susah. Kalau aku nanti naiknya pakai lift. Jadi gak capek.”

Dia mendengus kesal, sengaja menghentakkan kakinya melihatku. Aku segera pergi sebelum dia sengaja membuat ulah.

Saat aku hendak keluar dari keramaian, tiba-tiba suasana menjadi hening. Seseorang baru saja memasuki ruangan, membuat hampir semua tamu terdiam.

Sosok pria tinggi dengan setelan jas rapi melangkah masuk. Tatapan tajamnya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat padaku. Aku membeku, tidak percaya dia benar-benar datang ke sini.

Tapi yang lebih mengejutkan, dia melangkah mendekat. Semakin dekat. Dan akhirnya, berhenti tepat di hadapanku.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” suaranya berat, nyaris seperti bisikan. Semua mata kini tertuju pada kami.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Yang kutahu, detik ini, semua orang di ruangan ini menatap kami dengan ekspresi penuh tanda tanya.

(siapa nih?)

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Lavender   PL 7

    Aku mengangguk paham saat Jonas berkata akan mengantarku belanja. Ah, lelaki ini memang selalu membuatku gugup.Toko ini bukan sekadar swalayan biasa, melainkan lebih mirip dengan pusat perbelanjaan kelas atas. Saat menatap harga-harga yang tertera di rak, aku tersadar, tentu saja, ini kompleks perumahan mewah. Barang-barang di sini pun memiliki harga yang sangat premium."Apa yang kamu lihat?" Jonas bertanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memilih paprika merah yang terlihat segar."Kaget dengan harganya?" lanjutnya dengan nada mengejek. "Sebagai istri Mika, kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal mahal."Nada bicaranya seolah ingin menekanku. Aku melengos, mendorong troli ke depan tanpa menjawab. Mungkin dia cemburu padaku karena aku adalah istri dari pacarnya. Ya, pacar prianya."Safira? Kamu kok di sini?"Aku mendongak, mendapati Viona berdiri di depanku, memegang keranjang belanjaan. Seketika, tubuhku menegang. Duh, bagaimana aku harus menjelaskan keberadaanku di sini?"Kamu kerj

  • Pernikahan Lavender   PL 6

    Aku mengangguk mantap. "Kamu benar, aku memang suka uang."Jonas hanya menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya, seolah menyimpan pemikiran yang hanya dia sendiri yang tahu. "Tak salah Mika memilihmu."Aku mengabaikan nada misterius dalam ucapannya. "Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam. Kalau masih keburu, aku akan membelanjakan semuanya. Jika tak keburu, boleh besok saja?"Dia mengangguk santai. "Terserah kamu. Aku tidak terburu-buru."Aku turun dari mobil putih terang itu, lalu berjalan memasuki area kampus. Baru saja melewati gerbang, Viona sudah menghadang langkahku dengan senyum menyebalkan."Taksi online lagi? Sepertinya kamu sangat beruntung ya, Fir. Setiap hari numpang mobil mewah," sindirnya.Aku menanggapinya dengan senyum merekah tanpa berkata apa-apa, memilih untuk berjalan melewatinya."Oh ya, jangan lupa. Besok aku ada acara di kafe tempatmu bekerja," ucapnya lagi dengan nada meremehkan.Langkahku terhenti. "Aduh, Viona, maaf. Aku sudah pindah kerja, jadi nggak

  • Pernikahan Lavender   PL 5

    Aku melotot kesal pada Mikael yang dengan santainya menumpuk beberapa kardus di depan kamar yang nantinya akan kutinggali.“Rongsokan dari mana ini?” tanyanya dengan nada seenaknya, seolah tak bersalah.Aku mendengus, menahan emosi yang hampir meledak. Tanpa menjawab, aku berjongkok, memunguti baju-bajuku yang tercecer dari dalam kardus.“Iya, iya! Memang mirip sampah! Tapi kalau kamu membuangnya, aku harus pakai apa?” Aku mengembalikan baju-baju itu ke dalam kardus, mengusap noda bekas sepatunya yang tertinggal di beberapa bagian kain.Mikael mendecih, wajahnya terlihat tak suka. “Jangan terbiasa hidup miskin. Menjadi menantu keluarga Aryasatya itu tak pantas pakai sampah ini. Buang semuanya!”Aku menunduk. Kata-katanya memang tidak salah. Baju-bajuku lusuh, sebagian besar adalah pemberian para santri senior di pondok. Selama enam tahun ini, aku tak pernah membeli baju baru. Semua yang kupakai adalah pakaian bekas orang lain yang masih layak.“Tapi, Kak….”“Buang! Aku akan menggantin

  • Pernikahan Lavender   PL 4

    Aku duduk bersimpuh di atas permadani tebal dengan motif klasik berwarna emas. Di sampingku, Bu Nyai tersenyum lembut, tangannya mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang."Gimana, Saf? Kamu siap kan jadi istrinya Mas Mika?" tanyanya dengan suara lembut, seolah memahami gejolak batinku.Aku tersenyum kecil. Siap atau tidak, aku harus siap. Kekayaan terbentang di depan mata, kehidupan yang nyaman sudah menungguku. Dengan menikahi Mikael, aku tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah, tempat tinggal, atau bahkan makan sehari-hari. Ini seperti keberuntungan yang datang tanpa harus kucari."Iya, Umi," jawabku pelan.Bu Nyai kembali mengusap punggungku, seolah menyalurkan kehangatan yang selama ini tak pernah kurasakan dari seorang ibu. Selama enam tahun aku mengabdi di keluarga Kyai, bertahan di pondok dengan segala keterbatasan. Bukan hanya karena aku ingin belajar agama, tapi juga karena aku tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap bertahan hidup

  • Pernikahan Lavender   PL 3

    Mikael akhirnya menghela napas panjang, lalu meneguk air sparkling dalam botol kaca. Aku menunggu hingga dia selesai sebelum mendekat dan berbisik pelan di telinganya."Kak, kamu kaya banget ya? Kamu nggak berniat nikahin aku sekalian jadiin tumbal pesugihan, kan?"Tepat saat itu, Mikael tersedak, batuk-batuk hingga wajahnya sedikit memerah. Aku langsung panik, buru-buru menepuk punggungnya."Jangan ngawur!" dengusnya setelah akhirnya bisa bernapas normal.Aku memasang wajah sedih. "Aku memang nggak punya orang tua, Kak. Tapi jangan gitu amat dong."Mikael mendengus, lalu menunjuk keningku dan menekannya sedikit lebih kuat dari yang seharusnya. "Hilangkan pikiran kotormu itu!"Aku meringis kesakitan, sementara dia melirik pegawai yang tadi membantuku mencoba gaun. Dengan sekali isyarat, pegawai itu langsung mengajakku masuk kembali ke ruang ganti.Aku mengusap pelan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dadanya, mengagumi keindahannya. "Aku jarang lihat orang nikah pakai b

  • Pernikahan Lavender   PL 2

    “Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status