Share

PL 4

Author: Piki Chan
last update publish date: 2026-09-04 16:12:53

Aku duduk bersimpuh di atas permadani tebal dengan motif klasik berwarna emas. Di sampingku, Bu Nyai tersenyum lembut, tangannya mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang.

"Gimana, Saf? Kamu siap kan jadi istrinya Mas Mika?" tanyanya dengan suara lembut, seolah memahami gejolak batinku.

Aku tersenyum kecil. Siap atau tidak, aku harus siap. Kekayaan terbentang di depan mata, kehidupan yang nyaman sudah menungguku. Dengan menikahi Mikael, aku tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah, tempat tinggal, atau bahkan makan sehari-hari. Ini seperti keberuntungan yang datang tanpa harus kucari.

"Iya, Umi," jawabku pelan.

Bu Nyai kembali mengusap punggungku, seolah menyalurkan kehangatan yang selama ini tak pernah kurasakan dari seorang ibu. Selama enam tahun aku mengabdi di keluarga Kyai, bertahan di pondok dengan segala keterbatasan. Bukan hanya karena aku ingin belajar agama, tapi juga karena aku tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap bertahan hidup tanpa harus mengkhawatirkan biaya.

Abah Kyai menatapku sekilas sebelum beralih menatap Mikael dan keluarganya. "Pak, saya benar-benar menitipkan Safira. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Kami adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Kalau ada apa-apa dengannya, tolong jangan disakiti. Jika memang tak cocok, kembalikanlah dia kepada kami dengan baik-baik."

Aku mengepalkan tanganku di pangkuan, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. Mendengar Abah Kyai berbicara seperti itu, membuat dadaku terasa sesak. Ini pertama kalinya dalam waktu yang lama aku merasa seakan benar-benar memiliki keluarga.

"Ayah Safira dulu adalah guru ngaji honorer di pondok ini. Seumur hidupnya ia habiskan untuk mengajarkan Al-Qur'an kepada santri. Ibunya adalah juru masak yang menyiapkan makanan untuk santri-santri pondok. Qadarullah, kecelakaan enam tahun silam merenggut mereka. Sejak saat itu, Safira benar-benar hanya punya kami," lanjut Abah Kyai.

Aku menunduk, membiarkan air mata jatuh di atas pangkuanku. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Aku tumbuh dalam pondok ini, belajar bertahan, beradaptasi, dan menerima takdirku.

"Insyaallah, kami akan menganggap Safira seperti anak kami sendiri," suara lembut namun penuh wibawa itu milik Nyonya Arya, mama Mikael. Aku mendongak, menatapnya dengan sedikit terkejut. Selama ini, aku hanya bertemu dengannya sekali saat beliau meminta agar aku menerima lamaran Mikael.

"Bukan begitu, Mika?" Nyonya Arya menoleh ke arah putranya.

Mikael, dengan tatapan dinginnya, hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangannya kepadaku. Tidak ada senyum, tidak ada tatapan hangat. Hanya anggukan formal yang membuatku menghela napas panjang. Ya, aku memang tak mengharapkan pernikahan ini didasari cinta. Namun setidaknya, aku ingin sedikit lebih dihargai.

"Pak Kyai, saya rasa tak perlu memperlama pernikahan ini. Bagaimana kalau langsung bulan ini saja?" ujar Nyonya Arya.

Aku membelalakkan mata. "Apa?!"

*

"Kak, kamu ngawur ya? Ngawur sekali! Bukankah kita sepakat pernikahannya beberapa bulan lagi?" Aku masih menggerutu dalam mobil, menatap ke luar jendela dengan kesal. 

Setelah acara makan malam bersama dan berpamitan dengan Abah dan Umi, Mikael langsung membawaku pulang tanpa memberiku kesempatan untuk menolak.

Mikael tetap fokus menyetir, tak sedikit pun menoleh ke arahku. "Tugasmu hanya menurut. Bukan membantah."

Aku mendengus, menekan dadaku yang terasa sesak oleh amarah yang kutahan. "Tapi... ah sudahlah."

Percuma berdebat dengannya. Mikael tidak seperti pria lain yang bisa diajak diskusi. Segalanya harus berjalan sesuai dengan kemauannya. Dan aku? Aku hanyalah bagian dari rencana besarnya.

Aku mengeratkan genggaman pada gaun yang kukenakan, menyandarkan kepala ke jendela mobil. Bulan ini... aku akan menikah dengannya. Tapi entah kenapa, aku merasa lebih seperti seorang tawanan daripada seorang calon pengantin.

“Mulai besok, kamu langsung pindah ke rumah kita. Tak perlu masuk kerja lagi. Kalau ada yang bertanya, jawab saja kamu pindah kerja ke tempat lain.”

Nada suaranya tegas, seolah tak memberi ruang untukku menolak. Aku hanya diam, membiarkan dia sesuka hati mengatur hidupku. Toh, pada akhirnya, aku memang tak punya pilihan lain.

“Dan satu lagi, aku tak ingin ada orang yang tahu kalau kamu istriku.”

Aku menoleh cepat, menatapnya dengan kening berkerut. “Lah… terus gimana? Aku harus diam saja di rumah, gitu?”

Dia hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan, ekspresinya tetap datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sial sekali.

*

“Memangnya kamu mau pindah kerja ke mana?”

Pertanyaan itu lebih terdengar seperti interogasi daripada sekadar obrolan biasa. Aku tetap sibuk mencuci piring, berpura-pura tak mendengar pertanyaan mereka.

“Heh, kamu dapat kerja di mana? Gajinya lebih besar nggak?”

Aku mendesah pelan, mengarahkan pandangan ke atas, mencoba merangkai jawaban yang bisa membuat mereka cepat bosan.

“Aku cari kerjaan yang bisa sambil kuliah, Mbak. Jadi mungkin jualan es teh di dekat alun-alun.”

Aku tersenyum kecil, mencoba terdengar meyakinkan. Es teh sedang ramai akhir-akhir ini, setidaknya alasanku cukup masuk akal.

“Oh, kirain…”

Seperti dugaanku, setelah mendengar jawabanku, mereka langsung pergi. Mereka hanya kepo, tak benar-benar peduli.

Ponselku bergetar di atas meja. Saat kulihat layarnya, hatiku mencelos.

[Safira, pulang sekarang. Penting!]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Lavender   PL 7

    Aku mengangguk paham saat Jonas berkata akan mengantarku belanja. Ah, lelaki ini memang selalu membuatku gugup.Toko ini bukan sekadar swalayan biasa, melainkan lebih mirip dengan pusat perbelanjaan kelas atas. Saat menatap harga-harga yang tertera di rak, aku tersadar, tentu saja, ini kompleks perumahan mewah. Barang-barang di sini pun memiliki harga yang sangat premium."Apa yang kamu lihat?" Jonas bertanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memilih paprika merah yang terlihat segar."Kaget dengan harganya?" lanjutnya dengan nada mengejek. "Sebagai istri Mika, kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal mahal."Nada bicaranya seolah ingin menekanku. Aku melengos, mendorong troli ke depan tanpa menjawab. Mungkin dia cemburu padaku karena aku adalah istri dari pacarnya. Ya, pacar prianya."Safira? Kamu kok di sini?"Aku mendongak, mendapati Viona berdiri di depanku, memegang keranjang belanjaan. Seketika, tubuhku menegang. Duh, bagaimana aku harus menjelaskan keberadaanku di sini?"Kamu kerj

  • Pernikahan Lavender   PL 6

    Aku mengangguk mantap. "Kamu benar, aku memang suka uang."Jonas hanya menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya, seolah menyimpan pemikiran yang hanya dia sendiri yang tahu. "Tak salah Mika memilihmu."Aku mengabaikan nada misterius dalam ucapannya. "Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam. Kalau masih keburu, aku akan membelanjakan semuanya. Jika tak keburu, boleh besok saja?"Dia mengangguk santai. "Terserah kamu. Aku tidak terburu-buru."Aku turun dari mobil putih terang itu, lalu berjalan memasuki area kampus. Baru saja melewati gerbang, Viona sudah menghadang langkahku dengan senyum menyebalkan."Taksi online lagi? Sepertinya kamu sangat beruntung ya, Fir. Setiap hari numpang mobil mewah," sindirnya.Aku menanggapinya dengan senyum merekah tanpa berkata apa-apa, memilih untuk berjalan melewatinya."Oh ya, jangan lupa. Besok aku ada acara di kafe tempatmu bekerja," ucapnya lagi dengan nada meremehkan.Langkahku terhenti. "Aduh, Viona, maaf. Aku sudah pindah kerja, jadi nggak

  • Pernikahan Lavender   PL 5

    Aku melotot kesal pada Mikael yang dengan santainya menumpuk beberapa kardus di depan kamar yang nantinya akan kutinggali.“Rongsokan dari mana ini?” tanyanya dengan nada seenaknya, seolah tak bersalah.Aku mendengus, menahan emosi yang hampir meledak. Tanpa menjawab, aku berjongkok, memunguti baju-bajuku yang tercecer dari dalam kardus.“Iya, iya! Memang mirip sampah! Tapi kalau kamu membuangnya, aku harus pakai apa?” Aku mengembalikan baju-baju itu ke dalam kardus, mengusap noda bekas sepatunya yang tertinggal di beberapa bagian kain.Mikael mendecih, wajahnya terlihat tak suka. “Jangan terbiasa hidup miskin. Menjadi menantu keluarga Aryasatya itu tak pantas pakai sampah ini. Buang semuanya!”Aku menunduk. Kata-katanya memang tidak salah. Baju-bajuku lusuh, sebagian besar adalah pemberian para santri senior di pondok. Selama enam tahun ini, aku tak pernah membeli baju baru. Semua yang kupakai adalah pakaian bekas orang lain yang masih layak.“Tapi, Kak….”“Buang! Aku akan menggantin

  • Pernikahan Lavender   PL 4

    Aku duduk bersimpuh di atas permadani tebal dengan motif klasik berwarna emas. Di sampingku, Bu Nyai tersenyum lembut, tangannya mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang."Gimana, Saf? Kamu siap kan jadi istrinya Mas Mika?" tanyanya dengan suara lembut, seolah memahami gejolak batinku.Aku tersenyum kecil. Siap atau tidak, aku harus siap. Kekayaan terbentang di depan mata, kehidupan yang nyaman sudah menungguku. Dengan menikahi Mikael, aku tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah, tempat tinggal, atau bahkan makan sehari-hari. Ini seperti keberuntungan yang datang tanpa harus kucari."Iya, Umi," jawabku pelan.Bu Nyai kembali mengusap punggungku, seolah menyalurkan kehangatan yang selama ini tak pernah kurasakan dari seorang ibu. Selama enam tahun aku mengabdi di keluarga Kyai, bertahan di pondok dengan segala keterbatasan. Bukan hanya karena aku ingin belajar agama, tapi juga karena aku tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap bertahan hidup

  • Pernikahan Lavender   PL 3

    Mikael akhirnya menghela napas panjang, lalu meneguk air sparkling dalam botol kaca. Aku menunggu hingga dia selesai sebelum mendekat dan berbisik pelan di telinganya."Kak, kamu kaya banget ya? Kamu nggak berniat nikahin aku sekalian jadiin tumbal pesugihan, kan?"Tepat saat itu, Mikael tersedak, batuk-batuk hingga wajahnya sedikit memerah. Aku langsung panik, buru-buru menepuk punggungnya."Jangan ngawur!" dengusnya setelah akhirnya bisa bernapas normal.Aku memasang wajah sedih. "Aku memang nggak punya orang tua, Kak. Tapi jangan gitu amat dong."Mikael mendengus, lalu menunjuk keningku dan menekannya sedikit lebih kuat dari yang seharusnya. "Hilangkan pikiran kotormu itu!"Aku meringis kesakitan, sementara dia melirik pegawai yang tadi membantuku mencoba gaun. Dengan sekali isyarat, pegawai itu langsung mengajakku masuk kembali ke ruang ganti.Aku mengusap pelan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dadanya, mengagumi keindahannya. "Aku jarang lihat orang nikah pakai b

  • Pernikahan Lavender   PL 2

    “Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status