Share

PL 6

Author: Piki Chan
last update publish date: 2026-09-04 16:14:24

Aku mengangguk mantap. "Kamu benar, aku memang suka uang."

Jonas hanya menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya, seolah menyimpan pemikiran yang hanya dia sendiri yang tahu. "Tak salah Mika memilihmu."

Aku mengabaikan nada misterius dalam ucapannya. "Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam. Kalau masih keburu, aku akan membelanjakan semuanya. Jika tak keburu, boleh besok saja?"

Dia mengangguk santai. "Terserah kamu. Aku tidak terburu-buru."

Aku turun dari mobil putih terang itu, lalu berjalan memasuki area kampus. Baru saja melewati gerbang, Viona sudah menghadang langkahku dengan senyum menyebalkan.

"Taksi online lagi? Sepertinya kamu sangat beruntung ya, Fir. Setiap hari numpang mobil mewah," sindirnya.

Aku menanggapinya dengan senyum merekah tanpa berkata apa-apa, memilih untuk berjalan melewatinya.

"Oh ya, jangan lupa. Besok aku ada acara di kafe tempatmu bekerja," ucapnya lagi dengan nada meremehkan.

Langkahku terhenti. "Aduh, Viona, maaf. Aku sudah pindah kerja, jadi nggak bisa bantu kasih arahan ke yang lain."

"Hah? Benarkah? Pindah ke mana?"

Aku mengangkat bahu dengan santai. "Jadi pembantu."

Viona yang awalnya tampak penasaran langsung mencibir. "Pff, memang seharusnya begitu."

Dia berjalan lebih cepat meninggalkanku. Aku hanya menghela napas dengan kesal. Entahlah, perempuan itu selalu punya cara untuk membuatku sebal.

Di kelas Psikologi Perkembangan, hari ini dosen membahas tentang perkembangan seksual dan psikologi reproduksi. Aku duduk di barisan tengah, berusaha fokus pada materi meski pikiranku masih dipenuhi dengan percakapan tadi pagi.

"Perkembangan seksual seseorang tidak hanya berhubungan dengan aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial," suara Bu Rina, dosenku, terdengar jelas di dalam ruangan yang cukup hening.

Aku menulis beberapa poin penting di buku catatan.

"Seiring bertambahnya usia, individu mengalami perubahan hormon yang tidak hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga pola pikir, cara mereka melihat hubungan, serta konsep tentang pernikahan dan keintiman," lanjutnya.

Aku tersentak. Sejujurnya, aku tak terlalu paham dengan hubungan dan keintiman. Nantinya pernikahanku dengan Mikael bahkan terasa seperti transaksi bisnis. Tapi, apakah semua pasangan menikah dengan dasar perasaan? Atau banyak juga yang menikah hanya karena kebutuhan dan keadaan?

"Pernikahan tanpa kesiapan psikologis bisa menimbulkan tekanan besar, terutama jika salah satu pihak masih belum memahami dirinya sendiri," kata Bu Rina lagi.

Aku menggigit ujung pulpennya, berpikir dalam hati. Aku tidak pernah memikirkan pernikahan sebagai sesuatu yang sakral atau emosional. Sejak awal, tawaran pernikahan dengan Mikael hanyalah cara untuk bertahan hidup. 

Dosen melanjutkan penjelasannya. "Di banyak kasus, tekanan sosial juga mendorong seseorang menikah tanpa benar-benar memahami makna dan tanggung jawabnya. Akibatnya, banyak individu yang mengalami gangguan psikologis setelah menikah. Bisa karena ketidakcocokan, harapan yang tidak sesuai, atau pengalaman traumatis di masa lalu."

Lagi-lagi, kata-kata itu terasa seperti tamparan bagiku. Aku menghela napas panjang, menatap kosong ke papan tulis.

Aku akan menikah dengan Mikael bukan karena cinta. Aku bahkan tak yakin dia menyukaiku. Jadi, apakah aku sedang berjalan ke arah yang salah? Atau justru ini jalan terbaik yang harus kuambil?

“Heh, Fir, ngapain sih serius banget?”

Aku tersentak dari lamunanku dan hanya mengulas senyum tipis, lalu buru-buru memasukkan semua perlengkapan tulisku ke dalam tas.

“Oh ya, kamu biasa belanja baju di mana?” tanyaku padanya, mencoba mengalihkan pikiranku.

“Toko baju? Sekarang jamannya belanja online, Fir. Kenapa?”

Aku mengangguk pelan. Sesekatrok itu aku dengan perkembangan zaman sampai tak pernah berbelanja online.

“Aku cuma penasaran aja sih.”

Dia menatapku sekilas lalu mengangguk paham. “Kamu datang ke pestanya Viona? Kamu kerja di sana kan?”

Aku menggeleng. “Aku sudah keluar hari ini.”

“Terus?”

“Aku lagi cari kerja lagi.”

Dia menatapku dengan ekspresi sedikit kasihan, padahal aku tak perlu dikasihani. Aku punya banyak uang sekarang, hahaha.

“Kalau ada info kerjaan, aku akan mengabarimu, Fir.” Dia memang teman terbaikku selama kuliah ini. Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Tapi kamu tetap akan datang ke pestanya, kan?”

“Entahlah, aku akan mengusahakannya.”

Bukan, bukan bermaksud mengusahakan. Buat apa juga menghadiri acara ulang tahun Viona? Aku sudah tahu pasti hanya akan menjadi bahan olok-olokan lainnya.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Aku bergegas keluar dari gerbang kampus, berjalan ke arah halte untuk menunggu bus terakhir yang menuju kosan. Namun, baru beberapa langkah, aku menyadari sesuatu.

“Ya Allah, aku kan sudah pindah rumah. Dan bus ini tak menuju ke sana,” gumamku, merutuki kebodohanku sendiri.

Mau tak mau aku harus memesan ojek online untuk membawaku pulang. Baru saja aku menelusuri aplikasi tersebut, sebuah mobil putih berhenti di depan halte kampus.

“Masuklah, Saf!”

Aku mendongak dan mendapati Jonas yang kini telah berganti pakaian. Kemeja hitam yang dikenakannya membuatnya terlihat semakin menawan, apalagi dengan kaca mata yang bertengger di wajahnya. Sungguh, ya Allah, dia sangat tampan sekali.

Tanpa pikir panjang, aku membuka pintu mobil dan masuk. Sesaat, kami hanya saling menatap, lalu dia mengulas senyum simpul yang membuat lesung pipinya semakin dalam.

“Kamu ada janji denganku malam ini.”

Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat. Janji apa? Perasaan sedari tadi aku tak menyepakati apa pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Lavender   PL 7

    Aku mengangguk paham saat Jonas berkata akan mengantarku belanja. Ah, lelaki ini memang selalu membuatku gugup.Toko ini bukan sekadar swalayan biasa, melainkan lebih mirip dengan pusat perbelanjaan kelas atas. Saat menatap harga-harga yang tertera di rak, aku tersadar, tentu saja, ini kompleks perumahan mewah. Barang-barang di sini pun memiliki harga yang sangat premium."Apa yang kamu lihat?" Jonas bertanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memilih paprika merah yang terlihat segar."Kaget dengan harganya?" lanjutnya dengan nada mengejek. "Sebagai istri Mika, kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal mahal."Nada bicaranya seolah ingin menekanku. Aku melengos, mendorong troli ke depan tanpa menjawab. Mungkin dia cemburu padaku karena aku adalah istri dari pacarnya. Ya, pacar prianya."Safira? Kamu kok di sini?"Aku mendongak, mendapati Viona berdiri di depanku, memegang keranjang belanjaan. Seketika, tubuhku menegang. Duh, bagaimana aku harus menjelaskan keberadaanku di sini?"Kamu kerj

  • Pernikahan Lavender   PL 6

    Aku mengangguk mantap. "Kamu benar, aku memang suka uang."Jonas hanya menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya, seolah menyimpan pemikiran yang hanya dia sendiri yang tahu. "Tak salah Mika memilihmu."Aku mengabaikan nada misterius dalam ucapannya. "Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam. Kalau masih keburu, aku akan membelanjakan semuanya. Jika tak keburu, boleh besok saja?"Dia mengangguk santai. "Terserah kamu. Aku tidak terburu-buru."Aku turun dari mobil putih terang itu, lalu berjalan memasuki area kampus. Baru saja melewati gerbang, Viona sudah menghadang langkahku dengan senyum menyebalkan."Taksi online lagi? Sepertinya kamu sangat beruntung ya, Fir. Setiap hari numpang mobil mewah," sindirnya.Aku menanggapinya dengan senyum merekah tanpa berkata apa-apa, memilih untuk berjalan melewatinya."Oh ya, jangan lupa. Besok aku ada acara di kafe tempatmu bekerja," ucapnya lagi dengan nada meremehkan.Langkahku terhenti. "Aduh, Viona, maaf. Aku sudah pindah kerja, jadi nggak

  • Pernikahan Lavender   PL 5

    Aku melotot kesal pada Mikael yang dengan santainya menumpuk beberapa kardus di depan kamar yang nantinya akan kutinggali.“Rongsokan dari mana ini?” tanyanya dengan nada seenaknya, seolah tak bersalah.Aku mendengus, menahan emosi yang hampir meledak. Tanpa menjawab, aku berjongkok, memunguti baju-bajuku yang tercecer dari dalam kardus.“Iya, iya! Memang mirip sampah! Tapi kalau kamu membuangnya, aku harus pakai apa?” Aku mengembalikan baju-baju itu ke dalam kardus, mengusap noda bekas sepatunya yang tertinggal di beberapa bagian kain.Mikael mendecih, wajahnya terlihat tak suka. “Jangan terbiasa hidup miskin. Menjadi menantu keluarga Aryasatya itu tak pantas pakai sampah ini. Buang semuanya!”Aku menunduk. Kata-katanya memang tidak salah. Baju-bajuku lusuh, sebagian besar adalah pemberian para santri senior di pondok. Selama enam tahun ini, aku tak pernah membeli baju baru. Semua yang kupakai adalah pakaian bekas orang lain yang masih layak.“Tapi, Kak….”“Buang! Aku akan menggantin

  • Pernikahan Lavender   PL 4

    Aku duduk bersimpuh di atas permadani tebal dengan motif klasik berwarna emas. Di sampingku, Bu Nyai tersenyum lembut, tangannya mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang."Gimana, Saf? Kamu siap kan jadi istrinya Mas Mika?" tanyanya dengan suara lembut, seolah memahami gejolak batinku.Aku tersenyum kecil. Siap atau tidak, aku harus siap. Kekayaan terbentang di depan mata, kehidupan yang nyaman sudah menungguku. Dengan menikahi Mikael, aku tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah, tempat tinggal, atau bahkan makan sehari-hari. Ini seperti keberuntungan yang datang tanpa harus kucari."Iya, Umi," jawabku pelan.Bu Nyai kembali mengusap punggungku, seolah menyalurkan kehangatan yang selama ini tak pernah kurasakan dari seorang ibu. Selama enam tahun aku mengabdi di keluarga Kyai, bertahan di pondok dengan segala keterbatasan. Bukan hanya karena aku ingin belajar agama, tapi juga karena aku tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap bertahan hidup

  • Pernikahan Lavender   PL 3

    Mikael akhirnya menghela napas panjang, lalu meneguk air sparkling dalam botol kaca. Aku menunggu hingga dia selesai sebelum mendekat dan berbisik pelan di telinganya."Kak, kamu kaya banget ya? Kamu nggak berniat nikahin aku sekalian jadiin tumbal pesugihan, kan?"Tepat saat itu, Mikael tersedak, batuk-batuk hingga wajahnya sedikit memerah. Aku langsung panik, buru-buru menepuk punggungnya."Jangan ngawur!" dengusnya setelah akhirnya bisa bernapas normal.Aku memasang wajah sedih. "Aku memang nggak punya orang tua, Kak. Tapi jangan gitu amat dong."Mikael mendengus, lalu menunjuk keningku dan menekannya sedikit lebih kuat dari yang seharusnya. "Hilangkan pikiran kotormu itu!"Aku meringis kesakitan, sementara dia melirik pegawai yang tadi membantuku mencoba gaun. Dengan sekali isyarat, pegawai itu langsung mengajakku masuk kembali ke ruang ganti.Aku mengusap pelan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dadanya, mengagumi keindahannya. "Aku jarang lihat orang nikah pakai b

  • Pernikahan Lavender   PL 2

    “Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status