Mara mulai membaca pelan. Bibirnya bergerak nyaris tanpa suara mengikuti tiap larik, sebelum akhirnya ia melisankannya dalam bisikan:"Di kanvas biru, wajahku terpenjara, seraut dusta yang terpatri sempurna. Kelopak sunyi menatap semesta, meredam erang yang kehabisan udara."Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa kelat, lalu melanjutkan—suaranya kian lirih:"Usah lacak jejakku di rahim gundukan, pun pada prasasti dingin yang bungkam. Aku bertapa di balik sungging jelmaan, di ceruk pengap yang cuma dihafal rayap dan kelam."Mara terdiam lama setelah bait terakhir itu meluncur. Dahinya berkerut dalam, mencoba meraba makna di balik metafora tersebut."Puisinya indah," gumam Mara pelan, matanya masih terpaku pada kertas tua di tangan. "Tapi aku masih belum menangkap maksudnya. Sepertinya kita butuh seseorang yang ahli dalam sastra untuk menyingkap pesan tersembunyi di balik baris-baris ini."Alaric mengambil kembali kertas itu dari tangan Mara, melipatnya dengan hati-hati, lalu m
Última actualización : 2026-09-25 Leer más