Share

Kau Bukan Dia

Author: Aster Chronos
last update publish date: 2026-09-26 23:39:09
Mara mengangguk yakin. "Sebelum aku terlempar ke sini, profesiku adalah seorang arkeolog yang meneliti jejak peninggalan kekaisaran Valedron, setelah menempuh dua tahun pendidikan tingkat lanjut untuk persiapan ekspedisinya."

Alaric tidak langsung menjawab. Ia mencerna tiap patah kata itu secara perlahan.

"Arkeolog?" Alaric akhirnya bersuara, amat rendah, nyaris tersapu oleh gemertak kayu kereta.

"Uhmm maksudku seorang peneliti. Sebuah peradaban adalah sumber pengetahuan, diperlukan seorang pene
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Prince's Dead Mistress   Perempuan Bergaun Biru

    Isolda terdiam cukup lama, menatap lidah api lilin di atas meja yang bergoyang gemulai.Ketika akhirnya bersuara, nadanya begitu berat—seolah baru saja membuka segel pintu kayu yang telah berdebu puluhan tahun."Elara suka melukis," tuturnya pelan. "Sejak kecil. Mendiang ayahnya, Antonio, yang pertama kali menyodorkan kuas padanya. Pagi atau larut malam, kau akan selalu menemukannya mematung di depan kanvas."Mara menyimak dengan fokus."Ia bergabung dalam komunitas pelukis bangsawan muda di Kaisergard. Di sanalah ia mengenal Lucien. Selera mereka—dari sastra, aliran lukis, semuanya sama. Mereka berteman akrab, jauh sebelum nama Alaric menyusup ke hidupnya."Eron, yang sejak tadi bersandar kaku di dekat jendela, mendengus tipis sembari membuang pandangannya ke luar kegelapan malam."Pertemuannya dengan Alaric justru terjadi di arena berburu kekaisaran," sambung Isolda. "Elara ikut bukan untuk menunggang kuda, melainkan mengabadikan suasana tenda. Alaric—yang saat itu masih muda dan be

  • The Prince's Dead Mistress   Pemulihan Hubungan

    Pintu bilik peristirahatan terdorong pelan. Mara melangkah keluar, mendapati Eron masih duduk di sofa dengan dahi berkerut kencang dan bibir mencebik gusar."Lama sekali kau membenahi diri," sindirnya, langsung bangkit dengan gerakan tidak sabar."Ada yang menahanku," sahut Mara pendek. Pandangannya melirik tipis ke belakang, menangkap sosok Alaric yang melangkah keluar dari kegelapan koridor dengan raut tenang—seolah baru saja menikmati angin malam tanpa terjadi apa-apa.Eron memicingkan mata. "Lalu, apa alasanmu tertahan di dalam karena berbincang dengan Permaisuri dan Putri Mahkota?"Mara menggeleng pelan. "Alaric menarikku bersembunyi." Ia menatap kakaknya itu lekat-lekat. "Mereka berdua sempat lewat di depan. Apa mereka tidak menyapamu di luar?""Mereka bahkan tidak sudi melirik ke arah sofa ini," balas Eron, mengembuskan napas kasar penuh kecemasan yang tertahan. "Jadi aku abaikan saja sekalian."Mara mengangguk paham."Ayo kembali. Tempat ini membuat leherku kaku," ajak Eron, m

  • The Prince's Dead Mistress   Bersembunyi

    "Apakah Countess dan Eron tahu soal ini?" tanya Alaric lagi, menuntut."Tidak. Mereka sama terkejutnya denganmu, kami belum sempat bicara."Alaric mengembuskan napas kasar. Hawa hangat napasnya berembus begitu dekat hingga menyentuh dahi Mara."Dalam waktu dekat, aku akan mengadakan pertemuan membahas rencana kita lagi, kuharap sampai detik itu, kau mengatakan motif dibalik ajakanmu ke Kaisar," tandas Alaric.Sebelum Mara membuka mulutnya, seketika telapak tangan Alaric meraup wajah Mara, membekap mulut gadis itu rapat-rapat sembari menyeret tubuh gadis itu mundur ke celah sempit di balik lemari pajangan.Ruang yang serba terbatas memaksa dada Alaric menekan tepat di hadapan Mara, mengunci punggung gadis itu rapat pada dinding kayu lemari.Detik berikutnya, engsel pintu ruang terluar berderit, disusul derap halus dua pasang sepatu porselen."Apa kau percaya gadis itu benar-benar kembaran Elara?""Aku merasa mereka orang yang sama. Mereka terlalu identik," sahut suara kedua. "Dan aku m

  • The Prince's Dead Mistress   Perempuan Gila

    "Keputusan yang cerdas, Lady Maracelestia," ujar Duke Evan, menautkan jemarinya yang terawat rapi di depan dada sembari menyunggingkan senyum penuh arti. "Menjadi pasangan dansa Kaisar di malam debutante-mu sendiri... itu akan menempatkan namamu di setiap sudut ibu kota. Kau akan menjadi gadis yang paling dibicarakan musim ini.""Setelah semua yang terjadi," sahut Mara tenang, menatap lurus mata sang Duke, "jika ingin memperlihatkan bahwa hubungan Kekaisaran dan Rumah Veyne tetap utuh, bukankah itu cara paling nyata?"Di sisi Aurelian, senyum Gwen membeku. Geraham wanita itu mengatup rapat—begitu pelan, nyaris tak tertangkap mata—meski bibirnya berjuang mempertahankan raut keanggunan yang sempurna.Beberapa langkah di belakang mereka, Adelaide melirik suaminya. Alaric berdiri membatu. Rahangnya terkatup keras, sementara kedua tangannya mengepal kaku di balik punggung."Boleh," sahut Aurelian, mengangguk puas. "Saat malam debutante nanti, aku sendiri yang akan mengirim kereta kuda kekai

  • The Prince's Dead Mistress   Senyuman Bersimbah Duka

    Aurelian mengangkat sebelah alisnya. Sesuatu di balik matanya tampak menggelitik geli saat menatap Isolda dengan senyum tak tertebak—entah terhibur, kagum, atau tengah menyembunyikan rencana.Duke Evan menepuk pelan telapak tangannya, seolah baru teringat sesuatu."Ah, aku hampir lupa mengucapkan belasungkawa pada Countess," ucapnya, menatap Isolda dalam-dalam sebelum berganti memandang Alaric. "Juga padamu, Alaric. Semoga kedamaian menyertai kalian setelah ini. Bagaimanapun, hal yang menimpa Elara memang harus terjadi—demi menjaga kehormatan mahkota."Hening. Tak ada balasan dari Alaric maupun Isolda. Mara hanya mendapati jemari Isolda mengepal kencang pada gagang kipasnya. Wajah wanita itu tetap dingin tak beriak, seolah kalimat beracun tadi angin lalu belaka."Benar," sahut Aurelian, suaranya tenang namun berat. "Aku pun berharap hubungan Kekaisaran dan Veyne tak terpengaruh oleh peristiwa itu."Ia melempar tatapan lurus ke arah Duke Evan."Ikatan kita dirajut ratusan tahun lalu ol

  • The Prince's Dead Mistress   Bisikan Iblis

    Mara menoleh mengikuti arah pandang semua orang.Alaric melangkah masuk. Raut wajahnya kembali terkunci dalam topeng dingin yang biasa ia kenakan di depan umum.Di sisinya, Adelaide berjalan dengan jemari terpaut erat di lengan Alaric, gaun merah marunnya mengembang anggun seiring langkahnya yang penuh percaya diri.Mata Alaric sempat bertemu sekilas dengan Mara. Tak ada lagi jejak kehangatan yang samar-samar pernah ia rasakan dari pria itu.Mara menegakkan punggungnya, menahan napas pelan. Sejak pelukan di kereta menuju Kuil Seraphine, pria itu mengunci diri rapat-rapat."Yang Mulia Putra Mahkota dan Putri Mahkota," Isolda membungkuk anggun.Alaric mengangguk singkat pada Countess dan Eron.Begitu tiba di hadapan Mara, tatapannya hanya menyapu sekilas—tak sampai sedetik—sebelum membuang muka dan berbalik penuh ke arah Adelaide.Adelaide tersenyum puas, melirik Mara dengan sorot mata penuh kemenangan yang terang-terangan.Mara tak merasa terganggu sama sekali dengan tatapan itu.Di zam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status