Cahaya obor perlahan menjauh. Derap langkah prajurit patroli pun memudar, ditelan keheningan malam.Napas Mara dan Alaric sama-sama memburu, beradu dalam jarak yang teramat dekat di antara selipan akar pohon. Mara perlahan meregangkan tautan tangannya dari leher Alaric, menarik wajahnya sedikit ke belakang.Manik mata biru Alaric menatapnya tanpa kedip.Mara membasahi bibirnya yang terasa kering, mencoba menata detak jantungnya yang masih berdetak kencang."Maaf, situasi tadi... aku terpaksa melakukannya, untuk menyamarkan keberadaan kita. Uhm... maaf aku telah menciummu, maaf untuk itu."Alaric tidak langsung menjawab. Pandangannya turun, menatap bibir Mara yang kini dihiasi noda lipstik yang bergeser dari garis seharusnya. Ia mengusap noda merah itu dengan ibu jarinya. Usapannya bergeser pelan, melambat, lalu terhenti tepat di atas bibir bawah Mara."Kenapa minta maaf untuk sesuatu yang kau lakukan dengan sadar?" kata Alaric mulai bersuara."Karena itu dilakukan tanpa persetujuanmu,
Last Updated : 2026-10-11 Read more