LOGIN"Keputusan yang cerdas, Lady Maracelestia," ujar Duke Evan, menautkan jemarinya yang terawat rapi di depan dada sembari menyunggingkan senyum penuh arti. "Menjadi pasangan dansa Kaisar di malam debutante-mu sendiri... itu akan menempatkan namamu di setiap sudut ibu kota. Kau akan menjadi gadis yang paling dibicarakan musim ini.""Setelah semua yang terjadi," sahut Mara tenang, menatap lurus mata sang Duke, "jika ingin memperlihatkan bahwa hubungan Kekaisaran dan Rumah Veyne tetap utuh, bukankah itu cara paling nyata?"Di sisi Aurelian, senyum Gwen membeku. Geraham wanita itu mengatup rapat—begitu pelan, nyaris tak tertangkap mata—meski bibirnya berjuang mempertahankan raut keanggunan yang sempurna.Beberapa langkah di belakang mereka, Adelaide melirik suaminya. Alaric berdiri membatu. Rahangnya terkatup keras, sementara kedua tangannya mengepal kaku di balik punggung."Boleh," sahut Aurelian, mengangguk puas. "Saat malam debutante nanti, aku sendiri yang akan mengirim kereta kuda keka
Aurelian mengangkat sebelah alisnya. Sesuatu di balik matanya tampak menggelitik geli saat menatap Isolda dengan senyum tak tertebak—entah terhibur, kagum, atau tengah menyembunyikan rencana.Duke Evan menepuk pelan telapak tangannya, seolah baru teringat sesuatu."Ah, aku hampir lupa mengucapkan belasungkawa pada Countess," ucapnya, menatap Isolda dalam-dalam sebelum berganti memandang Alaric. "Juga padamu, Alaric. Semoga kedamaian menyertai kalian setelah ini. Bagaimanapun, hal yang menimpa Elara memang harus terjadi—demi menjaga kehormatan mahkota."Hening. Tak ada balasan dari Alaric maupun Isolda. Mara hanya mendapati jemari Isolda mengepal kencang pada gagang kipasnya. Wajah wanita itu tetap dingin tak beriak, seolah kalimat beracun tadi angin lalu belaka."Benar," sahut Aurelian, suaranya tenang namun berat. "Aku pun berharap hubungan Kekaisaran dan Veyne tak terpengaruh oleh peristiwa itu."Ia melempar tatapan lurus ke arah Duke Evan."Ikatan kita dirajut ratusan tahun lalu ol
Aurelian mengangkat sebelah alisnya. Sesuatu di balik matanya tampak menggelitik geli saat menatap Isolda dengan senyum tak tertebak—entah terhibur, kagum, atau tengah menyembunyikan rencana.Duke Evan menepuk pelan telapak tangannya, seolah baru teringat sesuatu."Ah, aku hampir lupa mengucapkan belasungkawa pada Countess," ucapnya, menatap Isolda dalam-dalam sebelum berganti memandang Alaric. "Juga padamu, Alaric. Semoga kedamaian menyertai kalian setelah ini. Bagaimanapun, hal yang menimpa Elara memang harus terjadi—demi menjaga kehormatan mahkota."Hening. Tak ada balasan dari Alaric maupun Isolda. Mara hanya mendapati jemari Isolda mengepal kencang pada gagang kipasnya. Wajah wanita itu tetap dingin tak beriak, seolah kalimat beracun tadi angin lalu belaka."Benar," sahut Aurelian, suaranya tenang namun berat. "Aku pun berharap hubungan Kekaisaran dan Veyne tak terpengaruh oleh peristiwa itu."Ia melempar tatapan lurus ke arah Duke Evan."Ikatan kita dirajut ratusan tahun lalu ol
Mara menoleh mengikuti arah pandang semua orang.Alaric melangkah masuk. Raut wajahnya kembali terkunci dalam topeng dingin yang biasa ia kenakan di depan umum.Di sisinya, Adelaide berjalan dengan jemari terpaut erat di lengan Alaric, gaun merah marunnya mengembang anggun seiring langkahnya yang penuh percaya diri.Mata Alaric sempat bertemu sekilas dengan Mara. Tak ada lagi jejak kehangatan yang samar-samar pernah ia rasakan dari pria itu.Mara menegakkan punggungnya, menahan napas pelan. Sejak pelukan di kereta menuju Kuil Seraphine, pria itu mengunci diri rapat-rapat."Yang Mulia Putra Mahkota dan Putri Mahkota," Isolda membungkuk anggun.Alaric mengangguk singkat pada Countess dan Eron.Begitu tiba di hadapan Mara, tatapannya hanya menyapu sekilas—tak sampai sedetik—sebelum membuang muka dan berbalik penuh ke arah Adelaide.Adelaide tersenyum puas, melirik Mara dengan sorot mata penuh kemenangan yang terang-terangan.Mara tak merasa terganggu sama sekali dengan tatapan itu.Di za
"Nak, angkat dagumu! Jalan menunduk membuatmu terlihat tidak percaya diri," tegur Isolda seraya menaikkan dagu Mara menggunakan ujung gagang kipasnya.Mara mengembuskan napas kasar. Ia tak bisa membantah, meskipun kakinya terasa mau patah menopang tubuhnya sendiri. Gaun berlapis yang ia kenakan begitu berat, membuat setiap langkah terasa seperti menenteng karung gandum.Sudah tiga jam ia dipaksa menguasai tata cara berjalan ala bangsawan demi menghadiri undangan jamuan istana yang dikirim tadi malam."Nah tanganmu juga jangan lesu," kritik Isolda lagi, melihat tangan Mara bergelantungan tak tahu arah."Sulit sekali fokus menggerakan tubuh dan pandangan secara bersamaan Countess," gerutu Mara, goyah sesaat sebelum menyeimbangkan tubuhnya kembali.Isolda menjentikkan jari, meminta Mara melanjutkan latihannya tanpa banyak bicara. Namun, Mara seketika melepas sepatunya dan bersandar ke dinding."Apakah ini benar-benar harus dilakukan? Countess bisa bilang putrimu yang hilang ini belum semp
"Iya, Countess. Akhirnya aku memeluk dia... karena merasa dia menyedihkan." Mara menatap ke arah kegelapan danau, helaan napasnya terdengar berat. "Tapi setelah itu dia mengabaikanku."Keheningan merayap cukup lama di antara mereka, hanya diselingi kepakan sayap burung malam dari seberang danau."Dia tidak mengabaikanmu karena benci, Mara," bisik Isolda pelan, suaranya sarat akan pemahaman yang getir. "Dia mengabaikanmu karena dia ketakutan."Mara menoleh, alisnya bertaut heran. "Ketakutan?"Isolda mengangguk pelan. "Meskipun aku tidak terlalu dekat dengannya, dia bagaimanapun adalah menantuku. Aku cukup lama memperhatikan sikapnya saat bersama Elara. Dia bukan orang yang mudah membuka diri."Isolda menatap lurus ke dalam mata Mara, suaranya mengalun tenang namun dalam."Ada alasan untuk itu. Permaisuri Daphne, ibu kandung Alaric, meninggal saat usianya baru lima tahun. Ada rumor ia diracun, tapi tidak pernah ada bukti yang cukup kuat. Tidak lama setelah itu, selir Gwen—ibu Pangeran L







