ANMELDEN“Maksudku…”“Jelaskan dengan terus terang apa yang sebenarnya kau maksud dengan perkataanmu tadi,” potong Lucien tajam. Tatapannya tertuju pada Mara, seolah tak akan membiarkannya menghindar dengan jawaban setengah-setengah.Eron mengernyit. Ia mengamati wajah Mara beberapa saat sebelum mengajukan pertanyaan yang bahkan terdengar asing baginya sendiri.“Jangan-jangan… kau benar-benar berasal dari masa depan?”“Sejujurnya, aku sudah lama curiga,” timpal Jane. Berbeda dari Eron yang masih tampak ragu, perempuan itu berbicara dengan tenang, “Pengetahuanmu jauh melampaui orang-orang di zaman ini. Belum lagi caramu memprediksi tindakan Kaisar dengan begitu yakin, seolah-olah kau sudah tahu apa yang akan terjadi.”Mara terdiam sambil menatap Alaric.Namun, sang pangeran hanya membalas tatapannya dengan sebelah alis terangkat dan sudut bibir yang nyaris membentuk senyum. Tatapan itu seolah berkata, Kau sendiri yang ceroboh. Sekarang tanggung akibatnya.Mara mendengus kesal. Tentu saja Alaric
Satu jam telah berlalu sejak upacara doa itu terpaksa dihentikan.“Kalian sudah berusaha dengan baik. Tak perlu terlalu khawatir,” ujar Jane lembut, berusaha menenangkan Mara dan Eron yang sejak tadi gelisah di sofa ruang istirahat kuil.“Putra Duke Evan sudah lama jarang muncul dalam pergaulan bangsawan. Namun, tiba-tiba dia datang ke acara tadi.” Eron memijat pelipisnya. “Aku yakin kehadirannya bukan kebetulan. Pasti ada campur tangan Aurelian di balik semua ini.”Tak lama kemudian, pintu kayu terbuka. Pendeta Agung Lucas melangkah masuk dengan raut tenang.Eron segera bangkit menghampirinya. “Bagaimana? Apa yang terjadi dengan pria tadi? Sudah dibereskan?”“Tuan Muda Theon sempat menginterogasinya,” jawab Lucas pelan. “Untungnya, Putra Mahkota Alaric mengirim seorang aktor dengan rekam jejak bersih yang tidak mudah dicurigai. Pada akhirnya, Tuan Muda Theon membebaskannya karena benar-benar percaya bahwa pria itu kerasukan.”“Dia memang memainkan perannya dengan sangat baik,” timpal
"Kenapa tiba-tiba ada anak Duke Evan di sini?" bisik Mara pelan pada Eron, matanya tetap memburu gerak-gerik pemuda di tengah aula itu."Aku tidak mengundangnya," jawab Eron setengah berbisik, rahangnya mengeras. "Sungguh aneh dan mencurigakan. Kita harus tetap waspada."Lady Jane yang berada di dekat mereka seketika menyenggol lengan Eron dengan sikunya."Sebagai seorang Count Veyne, kau harus menyambutnya karena dia datang ke acaramu," tegur Jane tegas namun berbisik. "Cepat ke sana, tenangkan situasi sebelum makin tak terkendali."Eron mengangguk patuh. Ia merapikan jubahnya sejenak sebelum melangkah berani menghampiri kerumunan orang di dekat tangga mimbar."Salam kepada Tuan Muda Theon," ucap Eron seraya menundukkan kepalanya memberi penghormatan. "Saya Eron Veyne."Theon tidak langsung merespons. Ia hanya melirik Eron sekilas, lalu mengalihkan pandangan tajamnya lurus ke arah mimbar—tepat menembus iris mata Mara.Mara semp
"Doa yang digemakan hari ini akan menemani ketenangan jiwa Lady Elara di sisi dewa," suara Pendeta Agung Lucas memimpin pagelaran doa peringatan kematian Elara.Para tamu undangan menundukkan kepala."Semoga kedamaian melapangkan jalannya, sekaligus menandai keberkahan bagi awal babak baru pengabdian pemuda Veyne dalam menjaga negeri ini bersama Kekaisaran," lanjut Lucas.Di tengah gaung puji-pujian yang terdengar begitu tulus, cahaya matahari sore menerobos masuk melalui celah-celah tinggi jendela kaca patri, membiaskan pendar hangat yang menenangkan di sekeliling altar."Biadab!!!"Teriakan nyaring dari arah belakang memecah keheningan sakral itu.Mara, yang duduk di mimbar bersama Keluarga Veyne, seketika membuka matanya.Seluruh tamu undangan menoleh serempak, mencari sumber kegaduhan.Pendeta Agung Lucas menghentikan lantunan doanya detik itu juga."Kalian begitu bodoh mempercayai fitnah itu!" teriak pria berbusana
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian yang lebih nyaman, Mara berjalan menuju pondok di tepi taman.Di sana, beberapa pelayan tampak sibuk menyiapkan teh dan camilan di atas meja, sementara kursi-kursi di dalam pondok masih tampak kosong.Mara mengambil tempat duduk di dekat tiang penyangga pondok, posisi yang pas untuk menikmati pemandangan danau dengan jelas.Beberapa saat kemudian, Eron, Lady Jane, dan Countess Isolda datang bersamaan.Mara lekas bangkit dan memberikan salam penghormatan, persis sesuai etiket yang diajarkan Lady Jane.Isolda sengaja membuang pandangannya dari Mara, membiarkan keheningan canggung menggantung di udara sejenak. Beruntung, Lady Jane segera memecah suasana dengan mengajak mereka semua untuk duduk.Satu per satu dari mereka mulai menyeruput teh hangat yang telah dihidangkan di meja."Aku tidak akan berbasa-basi," ucap Mara seraya menghembuskan napas panjang. "Detail mengenai apa yang sudah kami
Eron menelan ludah dengan susah payah, memaksakan suaranya yang gemetar agar terdengar mantap."Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia... melihat potensi di dalam diri saya dan mempercayakan tanggung jawab tersebut," ucapnya seraya menundukkan kepala sejajar dengan lantai marmer.Aurelian berjongkok, menyesuaikan tingginya dengan dua saudara yang sedang berlutut itu. Senyum tipis menghiasi wajahnya."Nah, pagelaran doa yang akan kalian langsungkan nanti tidak hanya mensyukuri hal kosong. Aku akan mengirim orang untuk meresmikan jabatanmu saat itu. Ada berkah di balik duka," ujar Aurelian santai.Mara mengatur ekspresinya dengan susah payah. Pikirannya diserbu dengan berbagai makian untuk Aurelian.Aurelian bangkit perlahan, merapikan jubah kebesarannya. Ia menatap Lucas yang berdiri tenang tak jauh dari sana, lalu melangkah keluar dari ruang doa itu.Lucas lekas menunduk hormat dan berjalan mengekor di belakang sang Kaisar, mengiringi d







