Nara menatap pesan dari Kapten Dion di layar ponselnya dengan dada berdebar kencang. Jemarinya melayang di atas papan ketik virtual, diliputi keraguan mendalam.Sebagian kecil dalam dirinya—bagian yang terluka dan merasa kesepian—tertarik untuk menyambut ajakan itu, sekadar untuk merasa dihargai. Namun, nurani dan statusnya sebagai seorang istri sah menahannya kuat-kuat.Ia menelan ludah, menetralkan desiran aneh di dadanya, lalu mulai mengetik balasan dengan formal dan hati-hati.“Terima kasih atas perhatiannya, Kapten. Tapi mohon maaf, saya sudah sangat lelah setelah penerbangan tadi dan ingin segera istirahat di kamar. Selamat malam.”Nara menekan tombol kirim.Nara menghela napas lega, merasa telah mengambil keputusan yang tepat. Ia tidak boleh melintasi batasan profesionalitas, apalagi memberikan ruang bagi pria lain untuk masuk ke dalam celah keretakan rumah tangganya.Ia meletakkan ponsel itu di atas meja samping tempat tidur, lalu berjalan menuju cermin untuk menyisir rambut h
Última actualización : 2026-09-20 Leer más