Pagi menjelang, namun atmosfir canggung yang pekat masih menggelayut tebal di atas meja makan utama kediaman Pengadilan Rakyat. Berbagai hidangan sarapan seperti bubur panas, mantou, dan teh melati tersaji rapi, namun tak ada satu pun yang berani mengusik ketenangan yang menakutkan itu. Qinglan duduk kaku di kursinya. Pandangannya menancap lurus pada mangkuk bubur di depannya seolah-olah makanan itu adalah objek paling rumit di muka bumi. Di sebelahnya, Xiaotao menunduk dalam-dalam, sebisa mungkin membuat dirinya tampak tak terlihat. Di seberang meja, Lu Mingyu duduk tegap dengan jubah biru tuanya yang sempurna. Wajahnya kembali kaku bagai batu pahat, dingin dan tak tersentuh. Sementara itu, Han Zhen berdiri agak jauh di dekat pilar, sibuk menatap langit-langit seolah-olah kayu gelondongan di atas sana adalah hal paling menarik dalam hidupnya. "Makanlah," ujar Lu Mingyu pendek memecah keheningan yang mencekam. Qinglan memegang sumpitnya dengan canggung. "Terima ka
Last Updated : 2026-09-25 Read more