Keesokan harinya, Paman dan Bibi Shen Ruyin berlutut di lantai batu ruang interogasi Pengadilan Rakyat. Di balik meja kerja utama, Lu Mingyu duduk tegap memancarkan aura mengintimidasi, sementara Qinglan berdiri anggun beberapa langkah di samping belakang sang jenderal. Sejak pasangan suami istri itu melangkahkan kaki ke dalam ruangan, tatapan tajam Qinglan tak lepas mengamati setiap gerak-gerik mereka. Tuan Shen sibuk meremas ujung lengan bajunya yang mengering, sedangkan istrinya berkali-kali menelan ludah seraya menghindari tatapan dingin sang hakim. "Tuan Shen, dua toko kainmu disita empat bulan lalu karena utang besar, bukan?" buka Lu Mingyu dengan suara bariton yang datar namun berat. Tuan Shen membungkuk lebih dalam hingga dahi hampir menyentuh lantai. "Benar, Jenderal." "Namun, kini seluruh utangmu lunas. Toko-tokomu kembali, bahkan kau menambah dua cabang baru di distrik timur," lanjut Lu Mingyu seraya menatap pasangan itu lekat-lekat. "Bagaimana pedagang yang h
Last Updated : 2026-09-27 Read more