Masuk"Apa maksudmu?"
Nyonya Rosa segera tersenyum, berusaha meredam suasana sebelum perhatian para tamu semakin tertuju kepada Alena. “Anak muda, sepertinya kau salah memahami keadaan.” Nada suaranya terdengar lembut, tetapi sorot matanya memperingatkan. “Arion sedang bersama pengasuhnya. Anak kecil tentu tidak seharusnya dibawa ke tengah urusan orang dewasa. Lagipula, acara pertunangan Ravian dan Sera sebentar lagi dimulai. Kami tidak ingin masalah keluarga mengganggu kebahagiaan mereka.” Beberapa tamu mengangguk kecil. Nyonya Rosa tersenyum kepada mereka seolah semuanya baik-baik saja. “Silakan semua kembali menikmati jamuan. Acara utama akan segera dimulai,” seru wanita tua itu sebelum mendekati Ravian dan berbisik, “biarkan mereka bertemu.” Ravian langsung menoleh. “Tidak, Bu.” “Kau mau kita semua menjadi bahan pembicaraan?” Rahang Ravian mengeras. Nyonya Rosa menghela napas. “Ini bukan lagi soal kau dan Alena. Ini soal keluarga kita. Lihat sekelilingmu. Semua orang memperhatikan.” Ravian tetap bergeming. “Aku tidak peduli.” “Kau harus peduli. Acara pertunanganmu bahkan belum dimulai. Kalau tamu-tamu pulang dengan cerita tentang kau melarang seorang ibu bertemu anaknya, menurutmu siapa yang akan dipermalukan?” Ravian mengepalkan tangannya. Alena yang berdiri beberapa langkah di depan mereka akhirnya tidak tahan. “Kenapa Ravian? Kenapa kau terus menjauhkanku dari Arion?” Suaranya tidak lagi setenang sebelumnya. Ravian menatapnya sejenak lalu berpaling. “Apa sebenarnya yang kau mau dariku?” desak Alena. Ravian masih tidak menjawab. Alena melangkah mendekat dengan ekspresi memohon. “Aku sudah menandatangani perceraian. Aku tidak meminta harta keluargaku kembali. Aku tidak meminta uangmu. Aku bahkan tidak meminta bagian dari bisnis keluarga Martin.” “Alena—” “Kalau begitu kenapa?” Risya tiba-tiba menyela. “Karena kau tidak berhak lagi jadi ibunya!” Alena menoleh terkejut. Risya berjalan mendekat dengan wajah penuh kebencian. “Kau seharusnya malu datang kemari dan meminta bertemu Arion setelah semua yang kau lakukan.” “Apa yang kulakukan?” Risya menunjuk Alena. “Kau egois. Kalau kau tidak keras kepala meminta cerai, Arion tidak akan menjadi anak broken home.” Wajah Alena berubah muram. “Jangan bawa-bawa Arion untuk menyalahkanku.” “Kenapa? Bukannya benar?” Risya semakin berani karena beberapa tamu tampak mendukungnya. “Kau memilih menghancurkan pernikahanmu sendiri. Sekarang setelah menjadi janda cerai tanpa apa-apa, kau baru ingat punya anak?” “Aku tidak pernah melupakan anakku,” desis Alena dengan mata memerah. “Kalau begitu berlututlah dan minta maaf.” Alena terdiam. Risya tersenyum sinis. “Kalau kau benar-benar mau bertemu Arion, minta maaf di depan semua orang karena sudah membuatnya menjadi anak yang tak punya keluarga utuh. Setelah itu, mungkin kakakku akan mempertimbangkan permohonanmu.” “Risya.” Ravian akhirnya menegur. Namun teguran itu tidak benar-benar menghentikan adiknya. Alena menatap Ravian. “Kau juga berpikir begitu?” Ravian terdiam beberapa detik. Kemudian dia berkata dingin, “Kalau kau mau berhenti mempermasalahkan semuanya dan mengubah pikiranmu, mungkin aku bisa mempertimbangkan kembali hubungan kita ke depan.” Alena membeku. Ravian jelas-jelas mengisyaratkan tak mau melepasnya pergi. Ravian melanjutkan, “Semua ini demi kebahagiaan Arion.” Leon yang sejak tadi diam mengamati, akhirnya tertawa pendek. “Yang benar saja...” Semua mata langsung tertuju kembali padanya. Leon melangkah maju ke hadapan Ravian. “Kalau kau memang masih berharap pada istrimu, kenapa kau membawa wanita lain masuk ke kehidupan kalian?” ucapnya menunjuk Sera. Sera langsung tersinggung. “Jangan menunjukku seolah aku penyebab masalah ini.” Leon berdecih dan menatap Ravian. “Sebagai laki-laki, apa kau tidak malu menjilat ludah sendiri?” Wajah Ravian mengeras. “Jaga ucapanmu.” “Kenapa? Aku mengatakan sesuatu yang salah?” Leon tersenyum tanpa rasa takut. “Kau menceraikan istrimu, menggandeng wanita lain, lalu sekarang menjanjikan hubungan baru kalau mantan istrimu mau berubah pikiran. Kau sebenarnya berharap apa?” “Leon.” Alena segera mendekat. Dia tak mau pemuda itu memperumit keadaan. Leon balas menatapnya tak terima. Tapi dia tak bisa berbuat lebih jika Alena sendiri tak mengizinkan. Wanita itu kembali menghadap mantan suaminya. “Aku tidak mau mengganggu hubungan barumu. Aku juga tidak datang untuk merebut apa pun.” Alena menatap Sera sebentar sebelum kembali kepada Ravian. “Aku hanya mau bertemu putraku.” Suasana berubah. Beberapa tamu yang sejak tadi menonton mulai menunjukkan ekspresi iba. Seorang pria paruh baya dari keluarga Martin akhirnya angkat bicara. “Sudahlah, biarkan saja mereka bertemu. Apa salahnya?” Nyonya Rosa menoleh malu. Pria itu melanjutkan, “Daripada masalah ini terus menjadi tontonan. Pertemukan ibu dan anaknya sebentar, setelah itu acara bisa dilanjutkan.” Beberapa tamu lainnya mengangguk setuju. Nyonya Rosa tidak punya pilihan. Dia kembali mendekati Ravian. “Nak, biarkan dia bertemu Arion. Pikirkan reputasimu.” Ravian menatap ibunya lama. Hingga akhirnya dia mengalah, walau dengan syarat. “Suruh orang mengantarnya.” Nyonya Rosa tersenyum lega, dia lekas memanggil pelayan. Setelah Alena diantar pergi, Ravian menambahkan dengan dingin, “Awasi mereka. Jangan biarkan dia membawa Arion pergi.” ** Pesta kembali berlanjut. Alena mengikuti langkah pelayan itu seperti takut tertinggal. Leon menyusul cepat dari belakang. “Kenapa kau pasrah saja ditindas keluarga mantan suamimu?” Alena tidak langsung menjawab. Setelah yakin situasi mereka aman, dia berkata pelan, “Karena Arion ada di tangan mereka. Aku tidak mau membuat mereka murka lalu melampiaskan kemarahan kepada Arion.” Kening Leon berkerut tak mengerti. “Mereka tidak akan menyakiti keluarga sendiri.” “Untuk saat ini, mungkin.” Alena menatap lurus ke depan. “Tapi aku tetap harus segera bertindak.” Leon menatapnya curiga. “Kau berniat membawanya?” “Aku harus membawanya pergi.” Leon terlihat terkejut. "Tidak sekarang." Alena akhirnya melirik padanya, cukup lama. Seperti menunggu reaksi pemuda itu. “Dia putraku...” Leon terdiam sejenak lalu mengangguk perlahan. Dia mengerti. Kristi sebenarnya sudah membocorkan semua informasi itu. Mereka melewati sisi ballroom dan akhirnya sampai di sudut ruangan yang lebih sepi. Di sana Arion duduk bersama pengasuhnya. Anak kecil itu sedang disuapi cemilan. Begitu melihat Alena, mulutnya langsung berhenti mengunyah. “Mama?!” Arion bangkit dan berlari ke arahnya. Alena mempercepat langkah menyambut sang putra. “Arion!” Air matanya langsung jatuh. Alena berlutut dan memeluk putranya erat. Tiga bulan tanpa melihat wajah itu. Tiga bulan tanpa mendengar suara kecil yang selama ini menjadi alasan Alena tetap bertahan. Tiap malam, dadanya selalu sesak dan perih oleh rasa rindu. Kini semua itu seolah meledak, membuatnya sesenggukan dalam derai tangis. Arion memeluk lehernya erat. “Kenapa Mama baru datang? Arion rindu Mama...” Alena menggeleng sambil menahan isak tangis. “Mama sudah tidak sayang Arion?” “Tidak.” Alena mempererat pelukannya. “Mama sangat sayang.” “Kalau sayang, kenapa Mama tidak datang?” Alena tidak sanggup menjawab. Dia kembali tergugu. Beberapa tamu yang ada di sana, ikut sedih melihat pertemuan itu. Si pelayan tadi dengan cepat menghalangi pandangan mereka. "Nyonya, kendalikan diri anda. Tamu-tamu sedang melihat." Alena lekas mengusap air matanya dan berusaha kembali tenang. Arion melepas pelukan dan kembali bertanya dengan suara kecil. “Mama mau pergi lagi?” Alena mengusap rambutnya dengan lembut. “Mama tidak akan pergi jauh.” Arion menatapnya panik. “Jangan tinggalkan Arion lagi.” Alena mengangguk berkali-kali. “Nanti, Mama akan bawa Arion bersama Mama. Tapi... tidak sekarang, sayang.” "Kenapa?" "Papa belum memberi izin. Kalau papa mengizinkan, Mama pasti menjemput Arion." Senyum Arion muncul. “Janji?” “Janji.” Leon berdiri mengamati beberapa langkah dari mereka. Walau Kristi sudah memberitahu, tapi baru sekarang dia benar-benar memahami kenyataannya. Ini bukan sekadar perceraian biasa. Ibu dan anak itu memang sengaja dipisahkan. Ketika Alena mencoba berbicara lebih lama, pelayan keluarga Martin segera mendekat. “Nyonya, waktu Anda terbatas. Harap segera berpamitan dengan Tuan Muda.” Alena menoleh panik. Berpamitan? Dia dan Arion baru bertemu beberapa menit. Ini tak sepadan dengan penantiannya selama berbulan-bulan. **“Aku baru bertemu anakku, tolong beri kami waktu lagi.” Alena memasang wajah memelas. Tapi pelayan itu tetap bereaksi datar. “Izin anda dari Tuan Ravian hanya sebentar.” Leon segera maju. “Sebentar atau lebih lama, apa bedanya? Mereka hanya bertemu. Kenapa kalian suka sekali mempersulit sesuatu?" Pelayan itu tersentak dan menunduk ragu. “Saya cuma—” “Kalau begitu tunjukkan perintah yang mengatakan berapa menit dia boleh memeluk anaknya.” Pelayan itu tidak bisa menjawab. Pengasuh Arion juga ikut bungkam. Leon menunjuk kursi di dekat mereka. “Biarkan mereka duduk. Tak ada yang mau membawanya kabur.” Kalimat tegas Leon mau tak mau membuat pelayan itu harus mundur. Alena menatap Leon dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih.” “Jangan berterima kasih dulu. Aku masih perlu dibayar untuk pekerjaan ini,” bisik Leon membantu Alena duduk memangku putranya. “Sayang, ini teman Mama. Namanya Paman Leon.” Arion langsung memandang Leon dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan curi
"Apa maksudmu?"Nyonya Rosa segera tersenyum, berusaha meredam suasana sebelum perhatian para tamu semakin tertuju kepada Alena.“Anak muda, sepertinya kau salah memahami keadaan.”Nada suaranya terdengar lembut, tetapi sorot matanya memperingatkan.“Arion sedang bersama pengasuhnya. Anak kecil tentu tidak seharusnya dibawa ke tengah urusan orang dewasa. Lagipula, acara pertunangan Ravian dan Sera sebentar lagi dimulai. Kami tidak ingin masalah keluarga mengganggu kebahagiaan mereka.”Beberapa tamu mengangguk kecil. Nyonya Rosa tersenyum kepada mereka seolah semuanya baik-baik saja.“Silakan semua kembali menikmati jamuan. Acara utama akan segera dimulai,” seru wanita tua itu sebelum mendekati Ravian dan berbisik, “biarkan mereka bertemu.”Ravian langsung menoleh. “Tidak, Bu.”“Kau mau kita semua menjadi bahan pembicaraan?”Rahang Ravian mengeras. Nyonya Rosa menghela napas.“Ini bukan lagi soal kau dan Alena. Ini soal keluarga kita. Lihat sekelilingmu. Semua orang memperhatikan.”Ra
Senyum Leon semakin lebar.“Bukan. Aku pria sewaanmu. Kristi hanya perantara," ralatnya dengan santai.Alena langsung mundur menjauh. Tanpa membuang waktu dia berbalik, mengambil ponsel dan menelepon Kristi. “Aku butuh penjelasan soal pria yang kau sewa,” tuntutnya begitu panggilannya diangkat. Di seberang sana, Kristi terdengar gugup.“Alena, dengarkan aku dulu. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain.”“Tidak punya pilihan lain?” Alena melirik Leon yang masih berdiri santai tak jauh darinya. “Dari semua pria di kota ini, kenapa kau memilih dia?”“Semua pria di kota ini tahu kalau kau mantan istri Ravian. Tidak ada yang berani menyinggung keluarga Martin hanya demi bayaran yang tidak seberapa. Aku sudah menghubungi hampir semua pria yang bisa kutemukan.”Kristi buru-buru melanjutkan sebelum Alena menyela.“Begitu mereka tahu siapa yang akan mereka dampingi, semuanya menolak. Bahkan ada yang langsung mematikan telepon.”Alena menarik napas panjang. “Harusnya kau bilang lebih awal.”
Semua orang menoleh terkejut ke arah suara asing itu. Langkah yang jelas dan tegas membelah kerumunan hingga memunculkan sosok seorang pemuda dalam balutan stelan jas hitam yang rapi. Semua orang kembali berdesis, terutama tamu wanita. Mereka takjub pada tampilan dan kharisma pemuda itu. Postur ideal yang menarik, rahang yang tajam, serta senyum menawan. Aura tenangnya membuat suasana yang semula penuh ejekan mendadak berubah. Bisikan para wanita langsung terdengar. “Siapa dia? Ya, Tuhan, tampan sekali.” “Dia tamu keluarga Martin? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” "Dia masih sangat muda, mungkin hampir seumuran putraku." Tatapan kekaguman itu kian meluas. Alena menyipitkan mata. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa sangat dikenalnya dari pria itu. Semakin dekat, wajahnya semakin jelas. Lalu Alena mendadak terpaku. Leon? Jantungnya seperti berhenti sesaat. Alena mengerjapkan mata berkali-kali. Tidak salah lagi, pemuda yang membuat ruangan itu berdecak adalah Leon San
Malam itu, Alena berdandan lebih berani dari biasanya. Dia mengenakan gaun terbaik yang sanggup dia beli, tak lupa menata rambut dengan teliti. Malam ini, dia tidak boleh terlihat seperti perempuan yang kalah. Sebelum berangkat, Alena menghubungi Kristi. “Dimana pria sewaanmu itu? Pesta sudah hampir dimulai.” “Alena, kau berangkat duluan. Dia akan menyusul.” “Dia sudah tahu tempatnya? Bagaimana dia akan mengenaliku nanti?” “Dia akan menghubungimu setelah sampai.” Kening Alena berkerut. Nada suara Kristi terdengar aneh. Cepat dan sedikit panik. “Kristi, kau dimana?" "E... sudah dulu, ya. Tunggu saja dia mencarimu." "Tapi—” Tut. Telepon terputus. Alena menatap ponselnya dengan kesal. “Astaga, anak ini kenapa? Setidaknya beritahu aku siapa namanya,” keluh Alena pada layar ponsel. Jarum jam terus berdetak. Alena tak mau membuang waktu. Dengan langkah berat, dia meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya. Satu-satunya yang tersisa dan luput dari keserakahan keluarga Martin.
"Izinkan suamimu menikah lagi, maka kau tak perlu diceraikan." Kalimat frontal ibu mertuanya membuat darah Alena berdesir. Semua mata di ruang keluarga itu serta merta tertancap padanya, menunggu keputusan. Alena Athala, wanita 29 tahun yang lima tahun lalu resmi menyandang status Nyonya Ravian Martin, kini hanya berdiri kaku di tengah ruangan, tanpa pembelaan dari siapapun. Mereka semua telah sepakat dan hanya menunggu jawaban Alena."Kenapa diam saja? Ibu mertuamu sedang bertanya," desak salah satu tente mewakili yang lain. "Diam saja seperti patung, tidak sopan!" seorang paman ikut menimpali dengan nada jengkel. “Ravian mau meresmikan hubungan dengan selingkuhannya, kenapa aku yang diminta berkorban?” tanya Alena tak mengerti.“Alena, jangan bersikap seolah kau dikorbankan.” Sang tante menyela dengan wajah dingin. "Betul. Ravian masih bersedia mempertahankanmu. Itu sudah bagus.” timpal sepupu Ravian. “Tidak semua wanita seberuntungmu. Padahal kau hanya ibu rumah tangga biasa







