Share

Bab 6

last update publish date: 2026-10-02 23:08:46

“Aku baru bertemu anakku, tolong beri kami waktu lagi.” Alena memasang wajah memelas.

Tapi pelayan itu tetap bereaksi datar. “Izin anda dari Tuan Ravian hanya sebentar.”

Leon segera maju. “Sebentar atau lebih lama, apa bedanya? Mereka hanya bertemu. Kenapa kalian suka sekali mempersulit sesuatu?"

Pelayan itu tersentak dan menunduk ragu. “Saya cuma—”

“Kalau begitu tunjukkan perintah yang mengatakan berapa menit dia boleh memeluk anaknya.”

Pelayan itu tidak bisa menjawab. Pengasuh Arion juga ikut bungkam.

Leon menunjuk kursi di dekat mereka. “Biarkan mereka duduk. Tak ada yang mau membawanya kabur.”

Kalimat tegas Leon mau tak mau membuat pelayan itu harus mundur.

Alena menatap Leon dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih.”

“Jangan berterima kasih dulu. Aku masih perlu dibayar untuk pekerjaan ini,” bisik Leon membantu Alena duduk memangku putranya.

“Sayang, ini teman Mama. Namanya Paman Leon.”

Arion langsung memandang Leon dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan curiga.

Leon tersenyum dan melambai ramah. “Halo, jagoan.”

Sayangnya, Arion justru memeluk Alena lebih erat. Wajahnya berkerut tak nyaman.

Alena tersenyum sungkan. “Dia memang tidak mudah percaya pada orang.”

“Tidak masalah. Aku juga tidak akan memaksanya.”

Leon sengaja duduk agak jauh.

“Kami akan mulai dari teman yang tidak saling mengganggu,” ucapnya saat Arion tampak mengintip dari pelukan Alena.

Wanita itu menahan senyum melihat interaksi kaku mereka.

Sementara di panggung ballroom, acara pertunangan telah dimulai.

Ravian berdiri di depan para tamu bersama Sera. Hanya saja matanya justru beberapa kali melirik ke sudut ballroom.

Di sana, Alena duduk bersama Arion. Leon berada di sampingnya. Mereka berbicara, sesekali tertawa. Pemandangan itu terlihat seperti keluarga kecil yang sedang bercengkerama.

Ravian tidak menyukainya. Dia terus menghela napas berat. Begitu acara utama selesai, dia langsung meninggalkan panggung dan menghampiri Arion.

“Arion, Sudah waktunya pulang.”

Pengasuh segera maju. “Tuan muda, ayo.”

“Tidak!” Arion memeluk Alena erat. “Aku mau sama Mama.”

“Arion, sudah waktunya tidur.”

“Aku tidak mau tidur!”

Alena menatap Ravian. “Beri kami sedikit waktu lagi.”

“Cukup.”

“Lima menit.”

“Kubilang cukup!”

“Ravian—”

“Alena, kesehatan Arion lebih penting.”

Risya kembali muncul.

“Kak Alena, jangan egois. Kalau Arion sakit karena begadang, apa kau baru puas? Sebagai ibu, harusnya kau paling paham."

Arion mulai menangis. “Mama, jangan pergi!”

Alena lekas membujuknya. “Sayang… jangan menangis. Nanti Mama akan datang lagi.”

Pengasuh mencoba menariknya. Arion semakin keras menangis.

“Aku mau Mama!”

Alena meremas gaun di dadanya. Sayang sekali, dia tidak mampu berbuat banyak. Dia hanya bisa memeluk putranya sebelum pengasuh membawa anak itu pergi dengan paksa.

“Mama!!" Tangisan Arion menggema di tengah keriuhan pesta.

Leon melihat Alena berdiri dengan kepedihan yang dipendam sekuat tenaga. Pemandangan itu akhirnya membuat dia bertindak nekat.

“Alena!” Suara Leon terdengar keras hingga menyita perhatian tamu di sana. “Tenang saja. Kau bisa menemui Arion di sekolahnya tiap hari."

Ravian langsung menoleh tajam. Risya ikut melotot. Bahkan Nyonya Rosa yang mengamati mereka dari jauh terlihat panik.

Leon melanjutkan dengan tenang, “Keluarga Martin tidak mungkin melarang untuk hal sepele seperti itu. Betul kan, Tuan Ravian?"

Wajah Ravian memerah. Karena dia tidak akan pernah memberikan izin seperti itu. Tidak untuk Alena yang telah meninggalkannya.

“Omong kosong apa yang kau katakan?!”

Nada suara Ravian nyaris meledak. Dia sudah melangkah hendak menghampiri Leon ketika Nyonya Rosa buru-buru menahannya.

“Ravian, hentikan,” bisik Wanita tua itu tegas.

“Bu, dia baru saja—”

“Jangan terpancing.” Nyonya Rosa mencengkeram lengan Ravian. “Semakin kau emosi, semakin tamu-tamu akan memperhatikan. Ingat siapa saja yang ada di sini.”

Ravian setuju menahan diri, meski wajahnya jelas menunjukkan kemarahan.

Nyonya Rosa kemudian menghadap Leon dengan senyum yang dibuat-buat. “Yang kau katakan tadi, itu tak sepenuhnya benar.”

Leon mengangkat alis.

“Aku tak paham, bisa Anda jelaskan?"

“Ya. Kami tidak melarang Alena menemui Arion. Tapi kondisinya yang tidak memungkinkan.”

Alena langsung menatapnya. “Kondisiku?”

Nyonya Rosa mengangguk prihatin.

“Semua tahu kondisi mentalmu tidak stabil. Kami tidak bisa mengambil risiko membiarkanmu terlalu dekat dengan Arion tanpa pengawasan.”

“Jangan mengarang!” Suara Alena melengking tanpa kendali. “Kalian yang merekayasa semuanya. Kalian menyebutku tidak stabil supaya bisa merebut anakku. Aku tidak pernah—”

Alena berhenti. Dia melihat sekeliling. Para tamu sedang memperhatikannya. Ada yang penasaran, ada yang mulai berbisik.

Alena tahu kalau dia lepas kendali sekarang, keluarga Martin justru akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dia langsung menutup mulut dan mundur.

Leon yang melihat perubahan itu segera membaca situasi. Alena berada dalam jebakan terbuka. Jika tak hati-hati bertindak dan berbicara, orang-orang akan memvonisnya.

Pemuda itu kemudian tersenyum tipis pada Nyonya Rosa.

“Aku sudah lama mengenal Alena. Cukup lama untuk tahu bahwa dia tidak seperti yang kalian katakan.”

"Maksudmu, kami berbohong?" Nyonya Rosa tak terima.

Leon menjawab santai.

“Orang bisa marah. Bisa sedih. Bisa kecewa. Bahkan bisa putus asa setelah mengalami sesuatu yang berat. Itu perubahan psikologis yang wajar. Kita semua mengalaminya, bukan? Tapi apa itu berarti orang tersebut otomatis berbahaya bagi anaknya?”

Nyonya Rosa tersenyum kaku.

“Kau bahkan bukan dokter. Statemenmu tidak berdasar.”

“Benar. Kita semua bukan dokter, tapi kita mudah memvonis kondisi seseorang."

Beberapa tamu mulai bergumam setuju.

“Lagi pula, tidak perlu menjadi dokter untuk tahu kalau seorang ibu yang menangis karena ingin bertemu anaknya itu tidak gila."

Alena menundukkan wajah. Tangannya saling meremas menahan air mata yang kembali ingin jatuh.

"Sepanjang mereka bersama tadi, apa ada yang terluka?” Leon bertanya pada semua orang di sana.

Hening. Tak ada yang berani berkomentar.

Ravian mengepalkan tangan.

Pemuda itu muncul entah dari mana dan membuat seluruh rencana mereka berantakan, merusak pestanya, bahkan sekarang mencoba memprovokasi para tamu.

Leon melanjutkan, “Alena adalah ibu kandung Arion. Kalau sekarang dia mau bertemu putranya, aku tidak melihat alasan kenapa dia harus dilarang dan dijauhkan seperti orang asing."

Seorang wanita di antara para tamu berteriak setuju. “Benar juga. Hanya mau bertemu putranya, kenapa harus dilarang?”

“Kasihan sekali.”

"Keluarga Martin agak berlebihan."

Bisikan mulai terdengar dari berbagai sudut.

Nyonya Rosa langsung melihat Ravian. Wajah putranya itu sudah gelap.

Leon tersenyum puas dan beralih menghapus air mata di pipi Alena.

“Jangan menangis. Mereka tak boleh melihatmu lemah,” bisiknya menguatkan.

Alena mendongak menatapnya.

Leon lagi-lagi sengaja berbicara sedikit lebih keras.

“Mulai malam ini, keluarga Martin tidak mungkin menghalangimu lagi. Semua orang di sini sudah mendengar bahwa kau cuma mau bertemu putramu. Itu bukan kejahatan.”

“Jangan ikut campur urusan keluargaku,” desis Ravian dengan suara tertahan.

Leon mengendikkan bahu.

“Aku hanya mau memastikan seorang ibu tak lagi diperlakukan tidak adil.”

Sebelum Ravian menjawab, Nyonya Rosa kembali berbisik.

“Cukup.”

“Bu—”

“Pura-pura setuju.”

Ravian menatap ibunya tidak percaya. “Dia akan mengambil keuntungan dari ini.”

“Biarkan. Kita bisa mengaturnya nanti.”

Nyonya Rosa melirik para tamu.

“Yang penting malam ini jangan ada skandal. Kepala sekolah Arion ada di sini. Gurunya juga. Dan lihat meja sebelah sana.”

Ravian mengikuti arah pandang ibunya. Beberapa investor penting sedang memperhatikan mereka.

“Kalau kau terus melawan, kerja sama yang sudah kita susun bisa ikut terpengaruh.”

Ravian terpaksa kembali bungkam.

Setelah memastikan putranya menurut dan pergi, Nyonya Rosa kemudian berbalik tersenyum kepada para tamu.

“Tentu saja Alena bisa bertemu Arion. Tidak ada yang bermaksud melarangnya. Tadi hanya terjadi sedikit kesalahpahaman.”

Leon mengangguk puas. Sedangkan Alena membelalak terkejut.

Apa itu berarti dia sungguh bisa menemui putranya?

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 6

    “Aku baru bertemu anakku, tolong beri kami waktu lagi.” Alena memasang wajah memelas. Tapi pelayan itu tetap bereaksi datar. “Izin anda dari Tuan Ravian hanya sebentar.” Leon segera maju. “Sebentar atau lebih lama, apa bedanya? Mereka hanya bertemu. Kenapa kalian suka sekali mempersulit sesuatu?" Pelayan itu tersentak dan menunduk ragu. “Saya cuma—” “Kalau begitu tunjukkan perintah yang mengatakan berapa menit dia boleh memeluk anaknya.” Pelayan itu tidak bisa menjawab. Pengasuh Arion juga ikut bungkam. Leon menunjuk kursi di dekat mereka. “Biarkan mereka duduk. Tak ada yang mau membawanya kabur.” Kalimat tegas Leon mau tak mau membuat pelayan itu harus mundur. Alena menatap Leon dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih.” “Jangan berterima kasih dulu. Aku masih perlu dibayar untuk pekerjaan ini,” bisik Leon membantu Alena duduk memangku putranya. “Sayang, ini teman Mama. Namanya Paman Leon.” Arion langsung memandang Leon dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan curi

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 5

    "Apa maksudmu?"Nyonya Rosa segera tersenyum, berusaha meredam suasana sebelum perhatian para tamu semakin tertuju kepada Alena.“Anak muda, sepertinya kau salah memahami keadaan.”Nada suaranya terdengar lembut, tetapi sorot matanya memperingatkan.“Arion sedang bersama pengasuhnya. Anak kecil tentu tidak seharusnya dibawa ke tengah urusan orang dewasa. Lagipula, acara pertunangan Ravian dan Sera sebentar lagi dimulai. Kami tidak ingin masalah keluarga mengganggu kebahagiaan mereka.”Beberapa tamu mengangguk kecil. Nyonya Rosa tersenyum kepada mereka seolah semuanya baik-baik saja.“Silakan semua kembali menikmati jamuan. Acara utama akan segera dimulai,” seru wanita tua itu sebelum mendekati Ravian dan berbisik, “biarkan mereka bertemu.”Ravian langsung menoleh. “Tidak, Bu.”“Kau mau kita semua menjadi bahan pembicaraan?”Rahang Ravian mengeras. Nyonya Rosa menghela napas.“Ini bukan lagi soal kau dan Alena. Ini soal keluarga kita. Lihat sekelilingmu. Semua orang memperhatikan.”Ra

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 4

    Senyum Leon semakin lebar.“Bukan. Aku pria sewaanmu. Kristi hanya perantara," ralatnya dengan santai.Alena langsung mundur menjauh. Tanpa membuang waktu dia berbalik, mengambil ponsel dan menelepon Kristi. “Aku butuh penjelasan soal pria yang kau sewa,” tuntutnya begitu panggilannya diangkat. Di seberang sana, Kristi terdengar gugup.“Alena, dengarkan aku dulu. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain.”“Tidak punya pilihan lain?” Alena melirik Leon yang masih berdiri santai tak jauh darinya. “Dari semua pria di kota ini, kenapa kau memilih dia?”“Semua pria di kota ini tahu kalau kau mantan istri Ravian. Tidak ada yang berani menyinggung keluarga Martin hanya demi bayaran yang tidak seberapa. Aku sudah menghubungi hampir semua pria yang bisa kutemukan.”Kristi buru-buru melanjutkan sebelum Alena menyela.“Begitu mereka tahu siapa yang akan mereka dampingi, semuanya menolak. Bahkan ada yang langsung mematikan telepon.”Alena menarik napas panjang. “Harusnya kau bilang lebih awal.”

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 3

    Semua orang menoleh terkejut ke arah suara asing itu. Langkah yang jelas dan tegas membelah kerumunan hingga memunculkan sosok seorang pemuda dalam balutan stelan jas hitam yang rapi. Semua orang kembali berdesis, terutama tamu wanita. Mereka takjub pada tampilan dan kharisma pemuda itu. Postur ideal yang menarik, rahang yang tajam, serta senyum menawan. Aura tenangnya membuat suasana yang semula penuh ejekan mendadak berubah. Bisikan para wanita langsung terdengar. “Siapa dia? Ya, Tuhan, tampan sekali.” “Dia tamu keluarga Martin? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” "Dia masih sangat muda, mungkin hampir seumuran putraku." Tatapan kekaguman itu kian meluas. Alena menyipitkan mata. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa sangat dikenalnya dari pria itu. Semakin dekat, wajahnya semakin jelas. Lalu Alena mendadak terpaku. Leon? Jantungnya seperti berhenti sesaat. Alena mengerjapkan mata berkali-kali. Tidak salah lagi, pemuda yang membuat ruangan itu berdecak adalah Leon San

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 2

    Malam itu, Alena berdandan lebih berani dari biasanya. Dia mengenakan gaun terbaik yang sanggup dia beli, tak lupa menata rambut dengan teliti. Malam ini, dia tidak boleh terlihat seperti perempuan yang kalah. Sebelum berangkat, Alena menghubungi Kristi. “Dimana pria sewaanmu itu? Pesta sudah hampir dimulai.” “Alena, kau berangkat duluan. Dia akan menyusul.” “Dia sudah tahu tempatnya? Bagaimana dia akan mengenaliku nanti?” “Dia akan menghubungimu setelah sampai.” Kening Alena berkerut. Nada suara Kristi terdengar aneh. Cepat dan sedikit panik. “Kristi, kau dimana?" "E... sudah dulu, ya. Tunggu saja dia mencarimu." "Tapi—” Tut. Telepon terputus. Alena menatap ponselnya dengan kesal. “Astaga, anak ini kenapa? Setidaknya beritahu aku siapa namanya,” keluh Alena pada layar ponsel. Jarum jam terus berdetak. Alena tak mau membuang waktu. Dengan langkah berat, dia meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya. Satu-satunya yang tersisa dan luput dari keserakahan keluarga Martin.

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 1

    "Izinkan suamimu menikah lagi, maka kau tak perlu diceraikan." Kalimat frontal ibu mertuanya membuat darah Alena berdesir. Semua mata di ruang keluarga itu serta merta tertancap padanya, menunggu keputusan. Alena Athala, wanita 29 tahun yang lima tahun lalu resmi menyandang status Nyonya Ravian Martin, kini hanya berdiri kaku di tengah ruangan, tanpa pembelaan dari siapapun. Mereka semua telah sepakat dan hanya menunggu jawaban Alena."Kenapa diam saja? Ibu mertuamu sedang bertanya," desak salah satu tente mewakili yang lain. "Diam saja seperti patung, tidak sopan!" seorang paman ikut menimpali dengan nada jengkel. “Ravian mau meresmikan hubungan dengan selingkuhannya, kenapa aku yang diminta berkorban?” tanya Alena tak mengerti.“Alena, jangan bersikap seolah kau dikorbankan.” Sang tante menyela dengan wajah dingin. "Betul. Ravian masih bersedia mempertahankanmu. Itu sudah bagus.” timpal sepupu Ravian. “Tidak semua wanita seberuntungmu. Padahal kau hanya ibu rumah tangga biasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status