Udara subuh menyusup lewat celah jendela suite hotel, membawa aroma laut yang asin dan semilir embun. Pesta gila-gilaan malam sebelumnya hanya menyisakan puing-puing kemewahan: botol-botol Dom Pérignon kosong yang berserakan, kelopak mawar merah yang terinjak, dan noda sampanye di atas karpet Persia.Mia terbangun dengan dengingan tajam di kepalanya. Kepalanya berdenyut, protes atas alkohol jutaan dolar yang dipaksa masuk ke pembuluh darahnya. Ia membuka mata perlahan, menyipit menahan silau lampu kristal yang lupa dimatikan. Di sampingnya, Mateo, sang gigolo berwajah pahatan dewa itu, masih terlelap pulas, dada bidangnya naik turun berirama.Mia duduk, memijat pelipisnya. Pikirannya perlahan menjernih, mengusir kabut hangover. Ini bukan saatnya bermanja. Hari telah berganti, dan mesin hitung waktu menuju pelarian mereka telah berdetak."Bangun, Cinderella," gumam Mia, menyibak selimut sutra dan melangkah turun. Ia menendang pelan kaki Mateo. "Pestanya sudah usai. Saatnya kembali k
Terakhir Diperbarui : 2026-10-01 Baca selengkapnya