تسجيل الدخولSinar mentari pagi menembus celah gorden tebal, namun hawa dingin di mansion keluarga mafia itu seolah tak terpengaruh. Di ruang makan utama yang memanjang, sebuah meja mahoni raksasa menjadi saksi bisu ketegangan yang menguar tanpa suara.
Nia duduk dengan punggung tegak, gaun pagi berbahan satin merah maroon membalut tubuhnya dengan elegan. Wajahnya sedingin pualam. Tak ada lagi sisa-sisa air mata keputusasaan semalam. Di tangannya, selembar dokumen tebal dengan kop surat resmi firma hukum keluarga tergeletak menantang. Surat Cerai. Di seberang meja, Arox duduk bersandar dengan angkuh. Kemeja hitamnya dibiarkan terbuka dua kancing teratas, memamerkan tato Bratva yang mengintip dari balik dadanya. Matanya yang tajam menatap Nia, menunggu reaksi histeris wanita itu—menunggu tangisan, permohonan, atau amukan cemburu seperti biasanya. Namun, yang ia dapatkan justru sebaliknya. Nia menyesap kopi hitamnya perlahan, merasakan pahitnya menyebar di lidah. Ia meletakkan cangkir porselen itu dengan bunyi denting halus, lalu mengambil pena berukiran emas dari saku gaunnya. Tanpa ragu, tanpa tangan yang bergetar, tanpa satu pun helaan napas dramatis, ia menggoreskan tanda tangannya yang tegas di atas meterai. Sret. Sret. Selesai. Nia menggeser dokumen itu menyeberangi meja ke arah suaminya. Senyum yang tersungging di bibirnya begitu tipis, nyaris tak terlihat, namun memancarkan aura kemenangan yang tak masuk akal bagi seorang wanita yang baru saja dicampakkan. "Semoga harimu menyenangkan, Arox," ucapnya dengan nada datar, seolah ia baru saja menandatangani resi pengiriman barang, bukan akhir dari pernikahannya. "Aku anggap kompensasi perceraiannya sudah ditransfer sepenuhnya? Cek semalam sungguh manis, namun aset real estate di Monaco tentu lebih menghangatkan hati." Alis Arox berkedut. Reaksi ini di luar perhitungannya. Di mana wanita rapuh yang semalam meraung-raung mengatakan cintanya seolah ingin mati? "Kau sungguh-sungguh menandatanganinya semudah itu?" Suara Arox rendah, penuh kecurigaan. "Jangan pikir kau bisa memainkan trik picisan denganku, Nia. Jika ini akal-akalanmu untuk menarik perhatianku—" "Menarik perhatianmu?" Nia memotong cepat, tawanya meluncur pelan, mengiris udara. "Sayang, cintaku padamu memang besar... terlalu besar. Saking besarnya, aku sadar diri bahwa cintaku tak akan pernah cukup untuk menandingi 'cinta sejatimu' pada Lusy." Nia menekan kata terakhirnya dengan nada empati yang sengaja dilebih-lebihkan. "Jadi, nikmatilah sisa hidupmu bersamanya. Aku lelah bersaing dengan hantu." Nia bangkit berdiri, merapikan gaunnya, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Arox yang terpaku dengan ego pria alpha-nya yang entah mengapa terasa sedikit tersentil. Sementara itu, di sayap timur mansion, Mia sedang sibuk memainkan perannya di sarang singa yang lain. Ruang kerja Knox dipenuhi aroma buku tua dan tembakau. Di sana, pria itu duduk di balik meja kerja raksasa, mengamati Mia yang tengah menyeduhkan secangkir teh chamomile dengan gerakan anggun yang sengaja ia latih semalaman. "Aku minta maaf atas kejadian semalam, Knox," ucap Mia lembut, meletakkan cangkir teh itu di atas tatakan dengan hati-hati. "Aku sungguh ceroboh. Aku merasa sangat bersalah pada Lusy." Knox mendengus kasar, tak repot-repot menyentuh teh itu. "Permintaan maafmu tak akan mengembalikan gaunnya yang rusak. Jangan pikir sandiwaramu bisa membohongiku. Kau sengaja mempermalukannya, bukan?" Mia menunduk, memainkan ujung jarinya, memainkan kartu 'wanita lemah tak berdaya'. "Sengaja? Knox, untuk apa aku melakukan itu?" suara Mia dibuat serak, bergetar menahan emosi fiktif. "Aku tahu aku ini hanya tunangan pengganti. Kau tak pernah mencintaiku, kan? Kau mencintainya. Jadi, untuk apa aku mempermalukan wanita yang paling kau puja? Aku hanya ingin hidup damai sampai kau tak membutuhkanku lagi." Kata-kata itu meluncur mulus bak racun berlapis madu. Knox terdiam. Logikanya membenarkan ucapan Mia. Wanita ini terlalu pengecut dan penurut untuk merencanakan kelicikan tingkat tinggi. Di balik wajah tertunduknya, mata Mia melirik tajam, merekam setiap detail di ruangan itu. Posisi brankas yang tertanam di balik lukisan era Renaissance... tebal pintunya... dan sisa-sisa bedak tabur di tuts keypad numeriknya. Ah, jadi kombinasi angka itu sering ditekan. Bodoh sekali untuk seorang bos mafia, seringai batin Mia. "Bagus kalau kau sadar diri," sahut Knox dingin, kembali fokus pada dokumen-dokumen di mejanya. "Jauhi Lusy. Itu perintah." "Tentu," jawab Mia jinak. "Aku permisi dulu. Jika kau butuh sesuatu, panggil saja." Saat Mia berbalik, tangannya dengan sangat lincah, bak seorang pesulap profesional, menyenggol sebuah tumpukan map kecil di tepi meja. Bruk. Map-map itu jatuh berserakan. "Astaga, maaf!" seru Mia panik, segera berjongkok memunguti kertas-kertas tersebut. Dalam sepersekian detik itu, saat pandangan Knox terhalang oleh meja, Mia menarik sebuah flash drive tipis yang sebelumnya sengaja ia jatuhkan bersama map-map itu, dan dengan sigap menyelipkannya ke dalam port USB laptop Knox yang sedang menyala di sudut meja samping. Sebuah program malware pengekstrak data langsung berjalan dalam mode tersembunyi. Mia berdiri kembali, meletakkan map yang sudah rapi di atas meja sambil tersenyum polos. "Maafkan kecerobohanku lagi." Knox hanya mengibaskan tangannya tak sabar, menyuruh wanita itu pergi. Ia sama sekali tak menyadari bahwa separuh rahasia keuangannya baru saja diretas oleh 'tunangan pengganti' yang ia anggap bodoh. Sore harinya, drama utama kembali bergulir. Taman mansion yang luas menjadi saksi bisu pertemuan pertama mereka dengan sang 'Teratai Putih' di siang hari. Lusy duduk di paviliun kaca, menikmati teh sore dengan ditemani Knox dan Arox yang bagai anjing penjaga setia. Gaun chiffon birunya berkibar lembut tertiup angin, senyumnya semanis malaikat. Nia dan Mia berjalan santai melintasi taman. Sesuai rencana, mereka tak berniat menghampiri. Namun, insting protagonis Lusy seolah tak mengizinkan mereka berlalu begitu saja tanpa menabur bumbu konflik. "Nia! Mia!" panggil Lusy dengan suara jernihnya. Ia melambai, bangkit dari kursinya, pura-pura tertatih-tatih sejenak—sebuah akting rapuh yang membuat Arox dengan sigap menahan pinggangnya. "Kau tak apa, Lusy?" tanya Arox cemas. "Hanya sedikit pusing," keluh Lusy manja, lalu memandang Nia dan Mia dengan senyum pemaaf. "Kemarilah, bergabung dengan kami. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas pesta penyambutannya semalam." Nia dan Mia saling pandang sekilas. Seringai tipis terukir di bibir mereka. Permainan dimulai. Mereka melangkah mendekat. Bukannya menatap Arox atau Knox dengan pandangan cemburu seperti biasanya, Nia dan Mia justru tersenyum lebar. Sangat lebar dan santai. "Tidak perlu repot-repot, Lusy," jawab Nia santai, tanpa beban. Matanya tertuju lurus pada Lusy, sama sekali mengabaikan Arox yang berdiri di sebelahnya. "Kami hanya lewat. Lagipula, aku tidak ingin mengganggu momen bahagiamu dengan... ehm, mantan suamiku." Kata mantan itu meluncur dengan ringan, namun sukses membuat atmosfer di paviliun menegang seketika. Arox memicingkan matanya. Lusy membelalakkan matanya yang polos, menutup mulut dengan telapak tangannya berlebihan. "Mantan? Arox... kalian... bercerai?" "Benar," sela Mia cepat, nadanya ceria seolah ia sedang mengabarkan cuaca cerah. "Suratnya sudah ditandatangani pagi ini. Jadi, Nona Lusy tak perlu lagi khawatir dianggap sebagai perusak rumah tangga orang. Kalian berdua... maksudku, kalian bertiga, bisa melanjutkan drama romansa tragis kalian tanpa beban moral." Knox menggeram. "Tutup mulutmu, Mia. Jaga bicaramu di depan Lusy." Mia hanya mengangkat bahu acuh. Ia menatap Lusy lekat-lekat, menyadari kilat kejengkelan yang disembunyikan rapi di balik mata rusa wanita itu. Lusy tak suka jika rencananya berantakan. Di alur asli, Lusy sengaja memamerkan kedekatannya dengan Arox untuk memancing amarah Nia, yang berujung pada Nia yang bertindak kasar dan dihukum oleh suaminya. Tapi kini, ketika Nia tak lagi peduli, bahkan menceraikannya dengan rela, Lusy kehilangan panggung utamanya. "Nia, aku sangat menyesal," ucap Lusy pelan, matanya berkaca-kaca. Air mata buaya yang sangat terlatih. "Aku tidak pernah berniat menghancurkan pernikahan kalian. Jika kehadiranku membuatmu pergi, lebih baik aku yang angkat kaki dari sini." Ia terisak pelan, bersandar lemah ke dada Arox. Tentu saja, Arox langsung merengkuhnya protektif dan menatap Nia dengan pandangan membunuh. "Lihat apa yang kau lakukan, Nia! Permainan kotor apa lagi yang sedang kau rencanakan?!" Nia tertawa, sebuah tawa lepas yang renyah dan dingin. "Permainan kotor?" Nia menggelengkan kepala, pura-pura tak percaya. "Arox, Sayang. Aku menuruti kemauanmu. Aku menandatangani surat cerai itu tanpa drama, aku merelakanmu bersamanya. Bukankah itu yang kau inginkan? Kenapa sekarang seolah aku yang menjadi penjahatnya di sini?" Nia melangkah maju, memiringkan kepalanya menatap Lusy yang masih bersandar di dada Arox. "Nona Lusy, air matamu sangat indah, tapi salah tempat. Simpanlah untuk saat Arox dan Knox menyadari bahwa mereka harus berbagi wanita yang sama." Ucapannya sukses membuat wajah Knox dan Arox menggelap secara bersamaan. Ketegangan meledak bagai bom waktu. Persaingan tak kasat mata antara dua pria alpha itu tiba-tiba diungkit secara terang-terangan. Lusy terpaku. Sandiwaranya mendadak terasa hambar. "Ayo, Mia," ajak Nia santai, membalikkan badannya tanpa mempedulikan amarah yang membara di belakangnya. "Kita harus bersiap. Kudengar pelelangan perhiasan amal minggu depan akan sangat meriah. Banyak barang bagus yang harus kita incar dengan uang baruku." Mia tersenyum manis ke arah tiga orang yang masih membeku itu. "Sampai jumpa, calon kakak ipar. Nikmati tehnya." Saat dua wanita itu berjalan menjauh, punggung mereka terlihat begitu tegap dan anggun, meninggalkan Lusy yang diam-diam mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik gaun chiffon birunya. Mata bidadari itu tak lagi memancarkan kepolosan, melainkan kilat kebencian yang mendalam. Di atas papan catur ini, sang antagonis tak lagi bermain sebagai bidak yang dikorbankan. Mereka telah bertransformasi menjadi ratu hitam yang bergerak liar, siap menghancurkan sang raja dan ratu putih perlahan-lahan.Benda perak itu tergeletak bisu di atas meja kaca, memantulkan pendar kemerahan dari lampu gantung kristal di lobi hotel. Bagi orang awam, itu hanyalah sebuah flash drive biasa. Namun bagi Mia dan Nia, benda sebesar ibu jari itu tak ubahnya kotak Pandora yang baru saja dilemparkan oleh sang dewa kematian.Udara di sekitar mereka terasa membeku, seolah waktu berhenti berdetak sesaat setelah limusin Knox menghilang ditelan kabut pagi.Mia adalah yang pertama kali tersadar dari paku keterkejutan. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh sisa-sisa adrenalin, ia menyambar flash drive itu. Logamnya terasa sedingin es di telapak tangannya yang berkeringat."Naik. Sekarang," desis Mia, menarik pergelangan tangan kakaknya.Nia mengangguk kaku. Keduanya melangkah cepat membelah lobi, mengabaikan tatapan beberapa staf hotel, dan masuk ke dalam lift VIP. Begitu pintu baja itu tertutup, memblokir dunia luar, pertahanan tenang yang mereka bangun susah payah akhirnya runtuh.
Suara terputusnya sambungan telepon itu bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Klik. Singkat. Dingin. Dan mematikan.Ponsel satelit di tangan Mia terasa seberat timah panas. Ia menatap layar yang kini gelap gulita, lalu beralih menatap Nia yang duduk mematung di sofa. Udara di dalam suite hotel yang beberapa detik lalu terasa ringan oleh euforia kebebasan, kini mendadak pekat, seolah seluruh oksigen tersedot keluar, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang."Knox," bisik Mia, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya membelalak, campuran antara ketakutan yang mendalam dan ketidakpercayaan yang absolut. "Itu... suara Knox."Nia membeku. Tangannya yang masih memegang tiket penerbangan ke Skotlandia gemetar pelan. "Knox? B-bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa menemukan nomor satelit darurat itu? Jalur enkripsinya... aku sudah mengaturnya berlapis-lapis!""Dia bukan bos mafia terbesar di benua ini tanpa alasan, Kak," desis Mia, otaknya berputar de
Udara subuh menyusup lewat celah jendela suite hotel, membawa aroma laut yang asin dan semilir embun. Pesta gila-gilaan malam sebelumnya hanya menyisakan puing-puing kemewahan: botol-botol Dom Pérignon kosong yang berserakan, kelopak mawar merah yang terinjak, dan noda sampanye di atas karpet Persia.Mia terbangun dengan dengingan tajam di kepalanya. Kepalanya berdenyut, protes atas alkohol jutaan dolar yang dipaksa masuk ke pembuluh darahnya. Ia membuka mata perlahan, menyipit menahan silau lampu kristal yang lupa dimatikan. Di sampingnya, Mateo, sang gigolo berwajah pahatan dewa itu, masih terlelap pulas, dada bidangnya naik turun berirama.Mia duduk, memijat pelipisnya. Pikirannya perlahan menjernih, mengusir kabut hangover. Ini bukan saatnya bermanja. Hari telah berganti, dan mesin hitung waktu menuju pelarian mereka telah berdetak."Bangun, Cinderella," gumam Mia, menyibak selimut sutra dan melangkah turun. Ia menendang pelan kaki Mateo. "Pestanya sudah usai. Saatnya kembali k
Di saat udara di penthouse Knox membeku oleh ketegangan dan rahasia kelam, di belahan kota yang lain, dentuman musik disko tahun 80-an membelah keheningan sebuah suite eksklusif di hotel bintang lima. Aroma champagne yang tumpah bercampur dengan wangi parfum mahal menciptakan atmosfer hedonisme yang memabukkan.Malam itu, Nia dan Mia telah resmi membuang atribut 'pasangan mafia' mereka ke tempat sampah. Tidak ada lagi gaun elegan yang mengekang napas, tak ada lagi senyum palsu untuk para petinggi kartel, dan yang paling penting, tak ada lagi Lusy, Arox, ataupun Knox di radius pandang mereka."Lebih cepat! Aku mau beat yang lebih gila!" teriak Mia dari tengah ruangan, suaranya serak karena terlalu banyak tertawa.Gaun midnight blue dari acara lelang kini teronggok mengenaskan di atas sofa. Mia hanya mengenakan slip dress sutra tipis berwarna sampanye yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, kakinya telanjang, dan di tangannya tergenggam sebotol Dom Pérignon yang harganya
Suara derit kaca yang retak dan benturan logam masih menyisakan denging di kepala Dante. Di dalam penthouse mewah berlantai sangat tinggi yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, suasana terasa begitu pekat dan menyesakkan.Knox berdiri mematung di balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya kusut, beberapa kancing atasnya terlepas memperlihatkan leher bidang yang naik turun menahan amarah. Di tangannya, gelas wiski berdinding tebal digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan kristal tersebut."Sialan... Gara-gara perempuan itu, aku kehilangan segalanya malam ini," desis Knox tertahan, suaranya bagaikan geraman binatang buas yang terluka di tengah badai salju. "Gara-gara Mia, aku gagal menjaga sebuah informasi penting milik musuh yang sudah lama kusimpan rapat-rapat."Dante, sang asisten setia yang berdiri kaku dalam balutan jas rapi di dekat pintu, mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia merapikan letak kacamatanya, mencoba mencerna badai yang baru
Gedung Opera bergaya Baroque di jantung kota itu malam ini disulap menjadi lautan kemewahan yang memabukkan. Lelang amal tahunan sindikat mafia yang berkedok yayasan filantropi ini selalu menjadi ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Aroma parfum Baccarat Rouge bercampur dengan cerutu mahal menguar di udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan alunan musik klasik dari string quartet di sudut ruangan.Nia dan Mia melangkah masuk bagai dua dewi dunia bawah yang menuntut takhta mereka. Tidak ada lagi gaun hitam tanda berkabung atas cinta yang kandas. Malam ini, Nia membalut tubuhnya dengan gaun sutra emerald berbelahan dada rendah yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sementara Mia mengenakan gaun malam midnight blue bertabur payet yang berkilau setiap kali ia bergerak, memancarkan aura femme fatale yang mematikan."Lihat mereka," bisik Mia di telinga kakaknya, bibirnya menyunggingkan senyum anggun sambil mengayunkan segelas champagne. "Dua anjing penjaga dan malaikat palsu







