مشاركة

5

مؤلف: Kholifah shafa
last update تاريخ النشر: 2026-10-01 20:07:13

Suara derit kaca yang retak dan benturan logam masih menyisakan denging di kepala Dante. Di dalam penthouse mewah berlantai sangat tinggi yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, suasana terasa begitu pekat dan menyesakkan.

​Knox berdiri mematung di balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya kusut, beberapa kancing atasnya terlepas memperlihatkan leher bidang yang naik turun menahan amarah. Di tangannya, gelas wiski berdinding tebal digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan kristal tersebut.

​"Sialan... Gara-gara perempuan itu, aku kehilangan segalanya malam ini," desis Knox tertahan, suaranya bagaikan geraman binatang buas yang terluka di tengah badai salju. "Gara-gara Mia, aku gagal menjaga sebuah informasi penting milik musuh yang sudah lama kusimpan rapat-rapat."

​Dante, sang asisten setia yang berdiri kaku dalam balutan jas rapi di dekat pintu, mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia merapikan letak kacamatanya, mencoba mencerna badai yang baru saja menghancurkan acara lelang amal.

​"Maksud Anda, Tuan?" tanya Dante hati-hati, suaranya memecah keheningan malam. "Apa hubungannya kegagalan itu dengan Nona Mia?"

​Knox mendengus kasar. Ia berbalik, melemparkan tatapan tajam setajam belati kepada asistennya. "Kau pikir aku benar-benar menjalin hubungan terlarang dengan Veronica karena terpikat pesonanya? Bodoh!" Knox melangkah mendekat, bayangan tubuhnya yang besar menutupi pendar lampu ruangan. "Aku sengaja mendekati wanita itu, menjadikan Veronica sebagai simpananku, semata-mata demi satu tujuan: informasi penting mengenai pergerakan musuh. Veronica adalah mata-mata bayaran dari klan Black Lions yang sengaja disusupkan untuk mencari tahu kelemahan bisnis gelapku."

​Dante terkesiap kecil. "Jadi... Anda sudah tahu sejak awal?"

​"Tentu saja aku tahu," potong Knox dingin, rahangnya mengeras. "Aku jauh lebih dulu menyadari gelagat busuknya. Aku sengaja membiarkannya merasa di atas angin, memutar keadaan perlahan, hingga pada akhirnya dia sendiri yang terjebak dalam perangkapku. Rencananya, malam ini dia akan diadili dan dieksekusi secara diam-diam karena berani mencuri dan mengancam keamanan organisasi kita. Tapi..." Knox menghentikan kalimatnya, gigi-gemertaknya beradu, "semuanya hancur berantakan gara-gara campur tangan Mia."

​"Lalu... apa hubungannya dengan Nona Mia, Tuan?" tanya Dante lagi, masih diliputi rasa penasaran yang pekat. "Bukannya di atas kertas, memang benar wanita bernama Veronica itulah yang terbukti mencuri kalung Tears of Aphrodite milik Nona Lusy?"

​Knox memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang yang terdengar begitu lelah sekaligus frustrasi. Ia meneguk sisa wiski di gelasnya dalam sekali tenggak, membiarkan cairan keras itu membakar kerongkongannya.

​"Kau ini memang bodoh, Dante!" geram Knox, meletakkan gelas kosong itu ke atas meja marmer dengan bunyi denting yang nyaring. "Kau tidak tahu bagaimana liciknya Mia... Gadis itu punya seribu cara tak terduga untuk menjebak seseorang. Dia bukan lagi tunangan penakut yang dulu sering menangis di sudut ruangan. Dia pemain yang sangat cerdas sekarang."

​Knox kembali membuang pandangannya ke luar jendela, menatap butiran hujan yang mulai menghujani kaca penthouse.

​"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," lanjut Knox, suaranya melemah, menyisakan kepedihan yang disembunyikan di balik topeng kejamnya. "Aku melihat saat jemari lentiknya memasukkan kalung itu ke dalam mantel Veronica. Aku tahu persis apa yang sedang ia rencanakan. Tapi... aku memilih bungkam. Aku diam saja, Dante."

​Dante menatap tuannya dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa Anda memilih diam, Tuan? Bukankah itu membahayakan kendali Anda atas situasi?"

​"Karena aku ingin dia datang kepadaku," aku Knox, ada nada keputusasaan yang getir di balik keangkuhannya. "Aku ingin Mia merasa terpojok, lalu kembali kepadaku, meminta perlindungan, dan membiarkan aku membantunya merapikan kekacauan itu. Aku ingin dia bergantung padaku lagi."

​Knox mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. "Tapi apa yang terjadi? Dia justru menyusun rencananya sendiri bersama kakaknya, Nia. Mereka bergerak di luar prediksiku, memamerkan kemandirian yang membuatku merasa... tidak berguna bagi mereka. Sekarang, tidak ada lagi alasan bagi Mia untuk kembali kepadaku. Dia telah menutup pintu itu rapat-rapat."

​Dante terdiam beberapa detik, meresapi setiap emosi tersembunyi yang bergejolak di dalam dada pemimpin sindikat yang terkenal tak kenal ampun itu. Namun, sebagai orang kepercayaan yang paling lama mengabdi, Dante tidak bisa menahan rasa herannya.

​"Tapi, Tuan... Bukankah selama ini Anda sendiri yang selalu menunjukkan sikap dingin dan seolah-olah tidak suka dengan keberadaan Nona Mia?" tanya Dante sangat hati-hati, takut salah langkah. "Anda sering mengabaikannya, membiarkannya terisolasi di sayap timur, dan selalu membela Nona Lusy di depan umum. Wajar jika Nona Mia berpikir Anda membencinya."

​Pertanyaan itu telak menghantam Knox. Pria itu tertegun, bahunya sedikit merosot. Aroma tembakau dan penyesalan menguar dari tubuhnya.

​"Apa sikapku selama ini masih kurang jelas?" suara Knox berubah lirih, nyaris seperti bisikan angin malam. "Dia... dialah yang terlalu buta, Dante. Mia terlalu dibutakan oleh kecemburuannya yang tak beralasan pada Lusy, sampai-sampai dia tidak pernah bisa melihat kebenaran. Dia tidak melihat bahwa selama ini, diam-diam akulah yang selalu membersihkan kekacauannya, melindunginya dari ancaman orang-orang bermuka dua di organisasi ini, dan memastikan tidak ada satu pun peluru musuh yang menyentuh kulitnya."

​Dante menghela napas pelan. Hubungan antara dua insan di dunia mafia memang selalu rumit; dipenuhi oleh ego, darah, dan ketidakmampuan untuk merangkai kata-kata jujur.

​"Lalu, sekarang apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Dante kembali pada ranah profesionalismenya. "Apakah kita perlu mengambil tindakan tegas terhadap Nona Mia dan kakaknya?"

​Knox menggeleng perlahan. Ia kembali menegakkan tubuhnya, memasang kembali topeng dingin seorang boss mafia yang tak terkalahkan, meski matanya masih menyisakan bara api yang membara.

​"Tidak ada," perintah Knox tegas. "Biarkan saja. Tapi, tetap awasi gerak-gerik mereka berdua setiap detik. Mia dan Nia tidak boleh terluka sedikit pun oleh siapa pun di luar sana. Pastikan bayangan kita selalu ada di sekitar mereka."

​Knox terdiam sejenak, sebelum kembali melanjutkan dengan nada suara yang berubah serius.

​"Dan soal Arox..." Knox menyipitkan matanya, menatap lurus ke kegelapan malam di luar sana. "Biarkan anjing gila itu melakukan rencananya sendiri. Sepupu sialan itu menyimpan sebuah misi rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun di organisasi ini... bahkan aku sendiri pun masih meraba-raba apa tujuannya yang sebenarnya."

​Dante mengangguk paham, merapatkan dokumen di tangannya. "Baik, Tuan. Saya akan segera mengurus pengawasan mereka dan menyelidiki pergerakan Tuan Arox."

​"Pergilah," kibas Knox tanpa menoleh.

​Begitu pintu mahoni tertutup rapat, meninggalkan Knox sendirian di dalam kamar yang luas dan sunyi, pria itu kembali menatap bayangannya sendiri di balik pantulan kaca jendela. Di luar sana, hujan turun semakin deras, menyapu bersih sisa-sisa malam yang penuh intrik dan tipu daya. Namun di dalam dadanya, badai itu baru saja dimulai.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   9

    Benda perak itu tergeletak bisu di atas meja kaca, memantulkan pendar kemerahan dari lampu gantung kristal di lobi hotel. Bagi orang awam, itu hanyalah sebuah flash drive biasa. Namun bagi Mia dan Nia, benda sebesar ibu jari itu tak ubahnya kotak Pandora yang baru saja dilemparkan oleh sang dewa kematian.​Udara di sekitar mereka terasa membeku, seolah waktu berhenti berdetak sesaat setelah limusin Knox menghilang ditelan kabut pagi.​Mia adalah yang pertama kali tersadar dari paku keterkejutan. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh sisa-sisa adrenalin, ia menyambar flash drive itu. Logamnya terasa sedingin es di telapak tangannya yang berkeringat.​"Naik. Sekarang," desis Mia, menarik pergelangan tangan kakaknya.​Nia mengangguk kaku. Keduanya melangkah cepat membelah lobi, mengabaikan tatapan beberapa staf hotel, dan masuk ke dalam lift VIP. Begitu pintu baja itu tertutup, memblokir dunia luar, pertahanan tenang yang mereka bangun susah payah akhirnya runtuh.

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   8

    Suara terputusnya sambungan telepon itu bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Klik. Singkat. Dingin. Dan mematikan.​Ponsel satelit di tangan Mia terasa seberat timah panas. Ia menatap layar yang kini gelap gulita, lalu beralih menatap Nia yang duduk mematung di sofa. Udara di dalam suite hotel yang beberapa detik lalu terasa ringan oleh euforia kebebasan, kini mendadak pekat, seolah seluruh oksigen tersedot keluar, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang.​"Knox," bisik Mia, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya membelalak, campuran antara ketakutan yang mendalam dan ketidakpercayaan yang absolut. "Itu... suara Knox."​Nia membeku. Tangannya yang masih memegang tiket penerbangan ke Skotlandia gemetar pelan. "Knox? B-bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa menemukan nomor satelit darurat itu? Jalur enkripsinya... aku sudah mengaturnya berlapis-lapis!"​"Dia bukan bos mafia terbesar di benua ini tanpa alasan, Kak," desis Mia, otaknya berputar de

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   7

    Udara subuh menyusup lewat celah jendela suite hotel, membawa aroma laut yang asin dan semilir embun. Pesta gila-gilaan malam sebelumnya hanya menyisakan puing-puing kemewahan: botol-botol Dom Pérignon kosong yang berserakan, kelopak mawar merah yang terinjak, dan noda sampanye di atas karpet Persia.​Mia terbangun dengan dengingan tajam di kepalanya. Kepalanya berdenyut, protes atas alkohol jutaan dolar yang dipaksa masuk ke pembuluh darahnya. Ia membuka mata perlahan, menyipit menahan silau lampu kristal yang lupa dimatikan. Di sampingnya, Mateo, sang gigolo berwajah pahatan dewa itu, masih terlelap pulas, dada bidangnya naik turun berirama.​Mia duduk, memijat pelipisnya. Pikirannya perlahan menjernih, mengusir kabut hangover. Ini bukan saatnya bermanja. Hari telah berganti, dan mesin hitung waktu menuju pelarian mereka telah berdetak.​"Bangun, Cinderella," gumam Mia, menyibak selimut sutra dan melangkah turun. Ia menendang pelan kaki Mateo. "Pestanya sudah usai. Saatnya kembali k

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   6

    ​Di saat udara di penthouse Knox membeku oleh ketegangan dan rahasia kelam, di belahan kota yang lain, dentuman musik disko tahun 80-an membelah keheningan sebuah suite eksklusif di hotel bintang lima. Aroma champagne yang tumpah bercampur dengan wangi parfum mahal menciptakan atmosfer hedonisme yang memabukkan.​Malam itu, Nia dan Mia telah resmi membuang atribut 'pasangan mafia' mereka ke tempat sampah. Tidak ada lagi gaun elegan yang mengekang napas, tak ada lagi senyum palsu untuk para petinggi kartel, dan yang paling penting, tak ada lagi Lusy, Arox, ataupun Knox di radius pandang mereka.​"Lebih cepat! Aku mau beat yang lebih gila!" teriak Mia dari tengah ruangan, suaranya serak karena terlalu banyak tertawa.​Gaun midnight blue dari acara lelang kini teronggok mengenaskan di atas sofa. Mia hanya mengenakan slip dress sutra tipis berwarna sampanye yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, kakinya telanjang, dan di tangannya tergenggam sebotol Dom Pérignon yang harganya

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   5

    Suara derit kaca yang retak dan benturan logam masih menyisakan denging di kepala Dante. Di dalam penthouse mewah berlantai sangat tinggi yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, suasana terasa begitu pekat dan menyesakkan.​Knox berdiri mematung di balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya kusut, beberapa kancing atasnya terlepas memperlihatkan leher bidang yang naik turun menahan amarah. Di tangannya, gelas wiski berdinding tebal digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan kristal tersebut.​"Sialan... Gara-gara perempuan itu, aku kehilangan segalanya malam ini," desis Knox tertahan, suaranya bagaikan geraman binatang buas yang terluka di tengah badai salju. "Gara-gara Mia, aku gagal menjaga sebuah informasi penting milik musuh yang sudah lama kusimpan rapat-rapat."​Dante, sang asisten setia yang berdiri kaku dalam balutan jas rapi di dekat pintu, mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia merapikan letak kacamatanya, mencoba mencerna badai yang baru

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   4

    Gedung Opera bergaya Baroque di jantung kota itu malam ini disulap menjadi lautan kemewahan yang memabukkan. Lelang amal tahunan sindikat mafia yang berkedok yayasan filantropi ini selalu menjadi ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Aroma parfum Baccarat Rouge bercampur dengan cerutu mahal menguar di udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan alunan musik klasik dari string quartet di sudut ruangan.​Nia dan Mia melangkah masuk bagai dua dewi dunia bawah yang menuntut takhta mereka. Tidak ada lagi gaun hitam tanda berkabung atas cinta yang kandas. Malam ini, Nia membalut tubuhnya dengan gaun sutra emerald berbelahan dada rendah yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sementara Mia mengenakan gaun malam midnight blue bertabur payet yang berkilau setiap kali ia bergerak, memancarkan aura femme fatale yang mematikan.​"Lihat mereka," bisik Mia di telinga kakaknya, bibirnya menyunggingkan senyum anggun sambil mengayunkan segelas champagne. "Dua anjing penjaga dan malaikat palsu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status