Share

6

last update publish date: 2026-10-01 20:07:42

​Di saat udara di penthouse Knox membeku oleh ketegangan dan rahasia kelam, di belahan kota yang lain, dentuman musik disko tahun 80-an membelah keheningan sebuah suite eksklusif di hotel bintang lima. Aroma champagne yang tumpah bercampur dengan wangi parfum mahal menciptakan atmosfer hedonisme yang memabukkan.

​Malam itu, Nia dan Mia telah resmi membuang atribut 'pasangan mafia' mereka ke tempat sampah. Tidak ada lagi gaun elegan yang mengekang napas, tak ada lagi senyum palsu untuk para petinggi kartel, dan yang paling penting, tak ada lagi Lusy, Arox, ataupun Knox di radius pandang mereka.

​"Lebih cepat! Aku mau beat yang lebih gila!" teriak Mia dari tengah ruangan, suaranya serak karena terlalu banyak tertawa.

​Gaun midnight blue dari acara lelang kini teronggok mengenaskan di atas sofa. Mia hanya mengenakan slip dress sutra tipis berwarna sampanye yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, kakinya telanjang, dan di tangannya tergenggam sebotol Dom Pérignon yang harganya bisa membiayai sekolah seorang anak hingga sarjana.

​Namun, bukan botol itu yang menjadi pusat perhatian, melainkan dua pria bertubuh bak dewa Yunani yang sedang menari mengelilinginya. Mereka bukan sekadar pria biasa; mereka adalah dua gigolo kelas atas, disewa dengan harga selangit menggunakan kepingan pertama dari cek satu juta dolar Arox.

​"Kau luar biasa, Sayang," bisik salah satu pria itu, seorang blasteran Italia dengan perut berotot sempurna dan senyum yang mematikan. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Mia, mengikuti irama musik dengan gerakan salsa yang sensual.

​Mia tertawa lepas, menyandarkan kepalanya ke dada bidang pria itu, menghirup aroma aftershave musk yang jauh lebih menenangkan daripada bau mesiu yang biasa menguar dari Knox. "Tentu saja aku luar biasa, Mateo. Dan malam ini, aku jauh lebih kaya dari mantan-mantan tunangan sialan di luar sana!"

​Di sudut ruangan yang lain, pemandangan tak kalah liar tersaji. Nia, yang baru beberapa jam lalu menandatangani surat cerai dari salah satu bos mafia paling ditakuti, kini berbaring santai di atas ranjang king size. Ia mengenakan jubah mandi sutra putih yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.

​Di sampingnya, seorang pria bertubuh atletis dengan rahang tegas dan mata biru laut sedang dengan telaten memijat betis Nia menggunakan minyak esensial beraroma lavender.

​"Lebih keras sedikit di bagian betis kiri, Julian," perintah Nia dengan mata terpejam, menikmati sentuhan terampil pria yang disewanya seharga dua ratus dolar per jam itu. "Ah... ya, tepat di situ. Dewa memberkati tanganmu."

​Julian tersenyum menggoda, memiringkan wajahnya hingga hembusan napasnya menggelitik telinga Nia. "Apapun untuk Ratu malam ini. Ingin saya memijat bagian yang lebih... atas, Nona?" bisiknya dengan suara bariton yang menggoda.

​Nia membuka sebelah matanya, terkekeh pelan. Ia meraih segelas martini dari atas nakas dan menyesapnya elegan. "Simpan tenagamu, anak manis. Malam ini aku hanya ingin dimanjakan bak dewi, bukan diajak ke ranjang kotor. Suamiku... ah, maksudku, mantan suamiku terlalu sering membuatku stres."

​Mia yang mendengar obrolan itu langsung bersorak dari tengah lantai dansa. "Tepat! Kita pantas mendapatkan ini, Kak! Anggap saja ini malam pelepasan stres sebelum kita kabur menjadi janda konglomerat di pulau terpencil."

​Mia menenggak langsung sampanye dari botolnya, lalu menarik sejumlah lembaran uang seratus dolar dari tas clutch yang tergeletak sembarangan di atas meja kaca. Dengan gerakan teatrikal, ia menghamburkan uang itu ke udara. Hujan dolar berjatuhan di sekelilingnya dan Mateo.

​"Ayo, kumpulkan! Siapa yang bisa menangkap paling banyak, dia yang menemaniku ke jacuzzi!" seru Mia kegirangan.

​Kedua gigolo bayaran itu, yang terbiasa menjaga image elegan mereka di depan klien VIP, mendadak membuang harga diri mereka dan berebut mengumpulkan lembaran hijau itu dari karpet. Pemandangan itu memicu tawa renyah dari Nia dan Mia. Tawa murni, tanpa kepalsuan, tanpa rasa takut dihakimi oleh pria-pria egois dari keluarga Bratva.

​"Kau tahu, Mia..." Nia duduk di tepi ranjang, memandang tumpukan uang dan adiknya yang sedang menari liar. "Aku selalu berpikir bahwa kehidupan di novel dark romance ini akan selamanya menjadi neraka. Tapi malam ini... ya Tuhan, aku merasa lebih hidup dari sebelumnya."

​Mia menghentikan tariannya, berjalan menghampiri kakaknya dengan napas tersengal, dan duduk di sebelahnya. Keringat tipis menghiasi keningnya, matanya berbinar cerah.

​"Karena sekarang kita yang memegang kendali atas naskah sialan ini," ucap Mia sungguh-sungguh, menatap pantulan wajah mereka berdua di cermin besar di seberang ruangan. "Kita bukan boneka kayu yang bisa dimainkan oleh Arox, Knox, ataupun si jalang Lusy. Kita yang akan menentukan di bab mana kita akan tertawa, dan di bab mana mereka akan hancur."

​Nia mengangguk setuju, melingkarkan lengannya di bahu adiknya. Ia meraih botol sampanye dari tangan Mia dan menuangkannya ke dalam dua gelas kristal kosong.

​"Lalu, apa rencana selanjutnya setelah pesta kecil kita ini selesai?" tanya Nia, menatap gelembung-gelembung sampanye yang naik ke permukaan. "Besok pagi, anak buah Arox dan Knox pasti mulai melacak pergerakan rekening bank kita."

​Mia mendengus, senyum licik yang sama seperti saat ia menjebak Veronica kembali terukir. "Oh, mereka boleh mencoba melacak. Tapi sebelum matahari terbit, dana ini sudah kupecah ke sepuluh rekening di Cayman Island dengan nama perusahaan cangkang fiktif."

​Mia mengambil gelas dari tangan Nia, menaikkannya ke udara. "Kita akan menghilang sejenak. Mencari kedamaian, membangun kekuatan, lalu... kita akan kembali saat mereka sedang berada di puncak kejayaan."

​"Untuk kemudian menendang mereka dari takhta itu?" sambung Nia, matanya memancarkan tekad yang sama kuatnya.

​"Tentu saja," seringai Mia, berdentingkan gelasnya dengan gelas sang kakak. "Untuk kemerdekaan para antagonis. Cheers!"

​"Dan untuk para bajingan egois di luar sana... selamat menikmati kebingungan kalian," tambah Nia sambil tertawa sinis.

​Musik disko kembali berdentum memekakkan telinga. Dua wanita itu menenggak habis minuman mereka, kembali memeluk kebebasan sesaat yang mereka beli dengan harga fantastis. Malam ini, mereka menari di atas kekayaan yang dirampas, melupakan sejenak awan hitam peperangan dan pengkhianatan yang pasti akan segera menyusul langkah mereka. Malam ini, mereka adalah ratu, dan dunia ada di bawah kaki mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   9

    Benda perak itu tergeletak bisu di atas meja kaca, memantulkan pendar kemerahan dari lampu gantung kristal di lobi hotel. Bagi orang awam, itu hanyalah sebuah flash drive biasa. Namun bagi Mia dan Nia, benda sebesar ibu jari itu tak ubahnya kotak Pandora yang baru saja dilemparkan oleh sang dewa kematian.​Udara di sekitar mereka terasa membeku, seolah waktu berhenti berdetak sesaat setelah limusin Knox menghilang ditelan kabut pagi.​Mia adalah yang pertama kali tersadar dari paku keterkejutan. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh sisa-sisa adrenalin, ia menyambar flash drive itu. Logamnya terasa sedingin es di telapak tangannya yang berkeringat.​"Naik. Sekarang," desis Mia, menarik pergelangan tangan kakaknya.​Nia mengangguk kaku. Keduanya melangkah cepat membelah lobi, mengabaikan tatapan beberapa staf hotel, dan masuk ke dalam lift VIP. Begitu pintu baja itu tertutup, memblokir dunia luar, pertahanan tenang yang mereka bangun susah payah akhirnya runtuh.

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   8

    Suara terputusnya sambungan telepon itu bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Klik. Singkat. Dingin. Dan mematikan.​Ponsel satelit di tangan Mia terasa seberat timah panas. Ia menatap layar yang kini gelap gulita, lalu beralih menatap Nia yang duduk mematung di sofa. Udara di dalam suite hotel yang beberapa detik lalu terasa ringan oleh euforia kebebasan, kini mendadak pekat, seolah seluruh oksigen tersedot keluar, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang.​"Knox," bisik Mia, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya membelalak, campuran antara ketakutan yang mendalam dan ketidakpercayaan yang absolut. "Itu... suara Knox."​Nia membeku. Tangannya yang masih memegang tiket penerbangan ke Skotlandia gemetar pelan. "Knox? B-bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa menemukan nomor satelit darurat itu? Jalur enkripsinya... aku sudah mengaturnya berlapis-lapis!"​"Dia bukan bos mafia terbesar di benua ini tanpa alasan, Kak," desis Mia, otaknya berputar de

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   7

    Udara subuh menyusup lewat celah jendela suite hotel, membawa aroma laut yang asin dan semilir embun. Pesta gila-gilaan malam sebelumnya hanya menyisakan puing-puing kemewahan: botol-botol Dom Pérignon kosong yang berserakan, kelopak mawar merah yang terinjak, dan noda sampanye di atas karpet Persia.​Mia terbangun dengan dengingan tajam di kepalanya. Kepalanya berdenyut, protes atas alkohol jutaan dolar yang dipaksa masuk ke pembuluh darahnya. Ia membuka mata perlahan, menyipit menahan silau lampu kristal yang lupa dimatikan. Di sampingnya, Mateo, sang gigolo berwajah pahatan dewa itu, masih terlelap pulas, dada bidangnya naik turun berirama.​Mia duduk, memijat pelipisnya. Pikirannya perlahan menjernih, mengusir kabut hangover. Ini bukan saatnya bermanja. Hari telah berganti, dan mesin hitung waktu menuju pelarian mereka telah berdetak.​"Bangun, Cinderella," gumam Mia, menyibak selimut sutra dan melangkah turun. Ia menendang pelan kaki Mateo. "Pestanya sudah usai. Saatnya kembali k

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   6

    ​Di saat udara di penthouse Knox membeku oleh ketegangan dan rahasia kelam, di belahan kota yang lain, dentuman musik disko tahun 80-an membelah keheningan sebuah suite eksklusif di hotel bintang lima. Aroma champagne yang tumpah bercampur dengan wangi parfum mahal menciptakan atmosfer hedonisme yang memabukkan.​Malam itu, Nia dan Mia telah resmi membuang atribut 'pasangan mafia' mereka ke tempat sampah. Tidak ada lagi gaun elegan yang mengekang napas, tak ada lagi senyum palsu untuk para petinggi kartel, dan yang paling penting, tak ada lagi Lusy, Arox, ataupun Knox di radius pandang mereka.​"Lebih cepat! Aku mau beat yang lebih gila!" teriak Mia dari tengah ruangan, suaranya serak karena terlalu banyak tertawa.​Gaun midnight blue dari acara lelang kini teronggok mengenaskan di atas sofa. Mia hanya mengenakan slip dress sutra tipis berwarna sampanye yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, kakinya telanjang, dan di tangannya tergenggam sebotol Dom Pérignon yang harganya

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   5

    Suara derit kaca yang retak dan benturan logam masih menyisakan denging di kepala Dante. Di dalam penthouse mewah berlantai sangat tinggi yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, suasana terasa begitu pekat dan menyesakkan.​Knox berdiri mematung di balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya kusut, beberapa kancing atasnya terlepas memperlihatkan leher bidang yang naik turun menahan amarah. Di tangannya, gelas wiski berdinding tebal digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan kristal tersebut.​"Sialan... Gara-gara perempuan itu, aku kehilangan segalanya malam ini," desis Knox tertahan, suaranya bagaikan geraman binatang buas yang terluka di tengah badai salju. "Gara-gara Mia, aku gagal menjaga sebuah informasi penting milik musuh yang sudah lama kusimpan rapat-rapat."​Dante, sang asisten setia yang berdiri kaku dalam balutan jas rapi di dekat pintu, mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia merapikan letak kacamatanya, mencoba mencerna badai yang baru

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   4

    Gedung Opera bergaya Baroque di jantung kota itu malam ini disulap menjadi lautan kemewahan yang memabukkan. Lelang amal tahunan sindikat mafia yang berkedok yayasan filantropi ini selalu menjadi ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Aroma parfum Baccarat Rouge bercampur dengan cerutu mahal menguar di udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan alunan musik klasik dari string quartet di sudut ruangan.​Nia dan Mia melangkah masuk bagai dua dewi dunia bawah yang menuntut takhta mereka. Tidak ada lagi gaun hitam tanda berkabung atas cinta yang kandas. Malam ini, Nia membalut tubuhnya dengan gaun sutra emerald berbelahan dada rendah yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sementara Mia mengenakan gaun malam midnight blue bertabur payet yang berkilau setiap kali ia bergerak, memancarkan aura femme fatale yang mematikan.​"Lihat mereka," bisik Mia di telinga kakaknya, bibirnya menyunggingkan senyum anggun sambil mengayunkan segelas champagne. "Dua anjing penjaga dan malaikat palsu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status