LOGINUdara subuh menyusup lewat celah jendela suite hotel, membawa aroma laut yang asin dan semilir embun. Pesta gila-gilaan malam sebelumnya hanya menyisakan puing-puing kemewahan: botol-botol Dom Pérignon kosong yang berserakan, kelopak mawar merah yang terinjak, dan noda sampanye di atas karpet Persia.
Mia terbangun dengan dengingan tajam di kepalanya. Kepalanya berdenyut, protes atas alkohol jutaan dolar yang dipaksa masuk ke pembuluh darahnya. Ia membuka mata perlahan, menyipit menahan silau lampu kristal yang lupa dimatikan. Di sampingnya, Mateo, sang gigolo berwajah pahatan dewa itu, masih terlelap pulas, dada bidangnya naik turun berirama. Mia duduk, memijat pelipisnya. Pikirannya perlahan menjernih, mengusir kabut hangover. Ini bukan saatnya bermanja. Hari telah berganti, dan mesin hitung waktu menuju pelarian mereka telah berdetak. "Bangun, Cinderella," gumam Mia, menyibak selimut sutra dan melangkah turun. Ia menendang pelan kaki Mateo. "Pestanya sudah usai. Saatnya kembali ke realitas yang membosankan." Mia melangkah menuju meja rias, menyeka sisa riasan malam yang mulai pudar. Di pantulan cermin, ia melihat kakaknya, Nia, sudah terbangun, duduk tegak di sofa beludru dengan jubah mandi putihnya, rambut tergulung rapi. Tangannya sibuk mengetik sesuatu di layar laptop. Julian, gigolo satunya, tak terlihat di mana pun. "Dia sudah pergi setengah jam yang lalu," ucap Nia tanpa mengalihkan pandangan dari layar, seolah membaca pikiran adiknya. "Aku memberinya tip dua ribu dolar untuk memastikan dia tak pernah menyebut nama kita di mana pun. Kau sebaiknya melakukan hal yang sama pada pria tidur itu." Mia mendengus pelan, menatap pantulan Mateo di cermin. "Sayang sekali. Dia penari yang hebat." Ia berjalan menuju tumpukan uang yang masih tersisa di meja, mengambil beberapa lembar, dan meletakkannya di dada Mateo. "Bangunlah, Sayang. Ambil ini dan pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menyuruhmu mengepel lantai." Mateo mengerang pelan, matanya terbuka, menatap uang itu lalu beralih pada Mia. Senyum menggodanya kembali terpasang. "Terima kasih, Nona Mia. Pelayanan saya memuaskan?" "Lebih dari cukup. Sekarang, pergi," usir Mia, nada suaranya berubah dingin, aura 'antagonis' kembali mengambil alih. Setelah Mateo beranjak, hanya menyisakan derap sepatu di lorong hotel, Mia menempatkan diri di samping Nia. Ia menuangkan secangkir kopi hitam kental dari termos room service yang masih mengepul, lalu menyesapnya rakus. "Jadi, sejauh mana persiapan kita menipu dunia?" tanya Mia, suaranya parau. Nia memutar layar laptop ke arah adiknya. Serangkaian angka, grafik perpindahan dana, dan nama-nama perusahaan berkedok yayasan terpampang rumit. "Sempurna," jawab Nia, menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Sebelas juta dolar dari brankas Knox yang berhasil kau bobol itu sudah kucuci bersih melewati lima belas rekening berbeda di berbagai negara. Terakhir kali aku mengecek, jejak digitalnya berakhir di sebuah yayasan fiktif di Kepulauan Bahama." Nia menunjuk sederet nominal lain di layar. "Sedangkan uang cerai dari Arox... sudah kupindahkan ke rekening offshore atas nama Nona 'Isabella'. Aman terkendali. Bahkan hacker terbaik Bratva akan butuh waktu sebulan penuh hanya untuk melacak ke mana larinya sepeser uang ini." Mia bersiul kagum, menepuk bahu kakaknya. "Kerja bagus, Queen of Money Laundering. Aku selalu tahu otak manajerialmu akan berguna, bahkan di dimensi antah-berantah ini." Nia tersenyum miring, namun senyum itu segera pudar digantikan oleh gurat kecemasan. "Uangnya aman, Mia. Tapi nyawa kita yang jadi masalah. Jika Knox menyadari brankasnya kosong dan Arox tahu aku menguras uang kompensasinya... mereka akan mengerahkan seluruh pasukan untuk memburu kita." Mia menghentikan tegukannya, meletakkan cangkir kopi dengan suara berdentang kecil. Ia mengusap wajahnya yang lelah, lalu menatap lurus ke arah jendela, pada langit pagi yang perlahan menampakkan rona jingga. "Mereka memang akan memburu kita, Kak. Itulah intinya," gumam Mia, suaranya berubah serius, nadanya penuh kalkulasi dingin yang mematikan. Nia mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?" "Kita tak bisa hanya bersembunyi selamanya," Mia berbalik, menatap tajam mata kakaknya. "Di dalam novel, antagonis selalu diburu karena mereka berusaha merebut kekuasaan atau cinta protagonis. Tapi kita... kita tidak menginginkan salah satu pun. Kita hanya ingin hidup damai." Mia melipat tangan di dada, senyum sinis tersungging di sudut bibirnya. "Kita biarkan mereka melacak jejak palsu yang sudah kusiapkan. Biarkan mereka berpikir kita kabur ke Eropa atau Amerika Selatan. Semakin mereka fokus pada kita, semakin mereka akan melupakan bahaya sesungguhnya yang ada di depan mata mereka." "Lusy?" terka Nia. "Tepat," Mia menjentikkan jari. "Lusy adalah bom waktu, Kak. Di alur asli, setelah berhasil menyingkirkan kita, dia akan memulai perang dingin antara Arox dan Knox. Dia memanipulasi mereka berdua, menghancurkan fondasi klan mereka dari dalam demi membalas dendam masa lalunya. Kita hanya perlu memberi panggung pada Nona Malaikat Palsu itu." Nia terdiam, mencerna setiap kata adiknya. Otaknya berputar cepat. Rencana ini gila, namun luar biasa brilian. Jika mereka berhasil membuat Knox dan Arox sibuk dengan kebohongan Lusy, maka kedua mafia itu tak akan punya waktu untuk mengurus dua 'mantan' yang kabur. "Lalu, apa langkah pertama dari pelarian kita?" tanya Nia, adrenalin mulai berpacu di nadinya. "Pertama..." Mia beranjak ke koper kecil di sudut ruangan, mengeluarkan dua buah amplop cokelat tebal. Ia melemparkan satu ke pangkuan Nia. "Paspor palsu, identitas baru, dan tiket penerbangan ke sebuah tempat yang sangat membosankan, jauh dari gemerlap kehidupan mafia." Nia membuka amplop itu. Matanya membelalak melihat nama yang tercetak di tiket pesawat. "Kau bercanda, Mia? Kita akan ke... pedesaan di Skotlandia?" Mia tertawa, sebuah tawa lepas yang menggema di dalam ruangan mewah itu. "Tepat sekali! Tempat paling membosankan di bumi! Tempat di mana satu-satunya ancaman adalah domba yang lepas dari kandang. Knox dan Arox, dengan ego mafia mereka yang sebesar gunung itu, tak akan pernah berpikir kita bersembunyi di tempat sekotor dan seudik itu." Nia mendesah panjang, menatap foto dirinya dengan rambut palsu pirang di paspor. "Baiklah. Dari ratu mafia, janda kaya, kini menjadi petani domba. Sungguh upgrade karir yang fantastis." "Hei, setidaknya kita petani domba miliarder," sahut Mia, mengedipkan mata jenaka. Tiba-tiba, suara getaran ponsel memecah keheningan. Ponsel satelit darurat yang sengaja Mia simpan di dasar koper berkedip-kedip menampilkan nomor yang tidak dikenal. Senyum di wajah Mia seketika pudar. Wajahnya mengeras. Ia melirik Nia, yang juga menegang. Mia meraih ponsel itu, menekan tombol panggil tanpa bersuara, dan menempelkannya di telinga. "Halo?" sapanya, dingin dan waspada. Di seberang sana, terdengar hela napas panjang, disusul suara berat dan familiar yang membuat bulu kuduk Mia meremang. "Cukup bersenang-senangnya, Mia. Permainan kucing dan tikus ini sudah membuatku bosan." Itu suara Knox. Dan pria itu tidak terdengar seperti seseorang yang kehilangan brankasnya. Pria itu terdengar seperti serigala yang baru saja mengunci buruannya di jalan buntu. Klik. Sambungan terputus. Mia menurunkan ponsel perlahan, menatap kakaknya dengan wajah pias. "Kak... kurasa, Skotlandia harus menunggu."Benda perak itu tergeletak bisu di atas meja kaca, memantulkan pendar kemerahan dari lampu gantung kristal di lobi hotel. Bagi orang awam, itu hanyalah sebuah flash drive biasa. Namun bagi Mia dan Nia, benda sebesar ibu jari itu tak ubahnya kotak Pandora yang baru saja dilemparkan oleh sang dewa kematian.Udara di sekitar mereka terasa membeku, seolah waktu berhenti berdetak sesaat setelah limusin Knox menghilang ditelan kabut pagi.Mia adalah yang pertama kali tersadar dari paku keterkejutan. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh sisa-sisa adrenalin, ia menyambar flash drive itu. Logamnya terasa sedingin es di telapak tangannya yang berkeringat."Naik. Sekarang," desis Mia, menarik pergelangan tangan kakaknya.Nia mengangguk kaku. Keduanya melangkah cepat membelah lobi, mengabaikan tatapan beberapa staf hotel, dan masuk ke dalam lift VIP. Begitu pintu baja itu tertutup, memblokir dunia luar, pertahanan tenang yang mereka bangun susah payah akhirnya runtuh.
Suara terputusnya sambungan telepon itu bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Klik. Singkat. Dingin. Dan mematikan.Ponsel satelit di tangan Mia terasa seberat timah panas. Ia menatap layar yang kini gelap gulita, lalu beralih menatap Nia yang duduk mematung di sofa. Udara di dalam suite hotel yang beberapa detik lalu terasa ringan oleh euforia kebebasan, kini mendadak pekat, seolah seluruh oksigen tersedot keluar, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang."Knox," bisik Mia, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya membelalak, campuran antara ketakutan yang mendalam dan ketidakpercayaan yang absolut. "Itu... suara Knox."Nia membeku. Tangannya yang masih memegang tiket penerbangan ke Skotlandia gemetar pelan. "Knox? B-bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa menemukan nomor satelit darurat itu? Jalur enkripsinya... aku sudah mengaturnya berlapis-lapis!""Dia bukan bos mafia terbesar di benua ini tanpa alasan, Kak," desis Mia, otaknya berputar de
Udara subuh menyusup lewat celah jendela suite hotel, membawa aroma laut yang asin dan semilir embun. Pesta gila-gilaan malam sebelumnya hanya menyisakan puing-puing kemewahan: botol-botol Dom Pérignon kosong yang berserakan, kelopak mawar merah yang terinjak, dan noda sampanye di atas karpet Persia.Mia terbangun dengan dengingan tajam di kepalanya. Kepalanya berdenyut, protes atas alkohol jutaan dolar yang dipaksa masuk ke pembuluh darahnya. Ia membuka mata perlahan, menyipit menahan silau lampu kristal yang lupa dimatikan. Di sampingnya, Mateo, sang gigolo berwajah pahatan dewa itu, masih terlelap pulas, dada bidangnya naik turun berirama.Mia duduk, memijat pelipisnya. Pikirannya perlahan menjernih, mengusir kabut hangover. Ini bukan saatnya bermanja. Hari telah berganti, dan mesin hitung waktu menuju pelarian mereka telah berdetak."Bangun, Cinderella," gumam Mia, menyibak selimut sutra dan melangkah turun. Ia menendang pelan kaki Mateo. "Pestanya sudah usai. Saatnya kembali k
Di saat udara di penthouse Knox membeku oleh ketegangan dan rahasia kelam, di belahan kota yang lain, dentuman musik disko tahun 80-an membelah keheningan sebuah suite eksklusif di hotel bintang lima. Aroma champagne yang tumpah bercampur dengan wangi parfum mahal menciptakan atmosfer hedonisme yang memabukkan.Malam itu, Nia dan Mia telah resmi membuang atribut 'pasangan mafia' mereka ke tempat sampah. Tidak ada lagi gaun elegan yang mengekang napas, tak ada lagi senyum palsu untuk para petinggi kartel, dan yang paling penting, tak ada lagi Lusy, Arox, ataupun Knox di radius pandang mereka."Lebih cepat! Aku mau beat yang lebih gila!" teriak Mia dari tengah ruangan, suaranya serak karena terlalu banyak tertawa.Gaun midnight blue dari acara lelang kini teronggok mengenaskan di atas sofa. Mia hanya mengenakan slip dress sutra tipis berwarna sampanye yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, kakinya telanjang, dan di tangannya tergenggam sebotol Dom Pérignon yang harganya
Suara derit kaca yang retak dan benturan logam masih menyisakan denging di kepala Dante. Di dalam penthouse mewah berlantai sangat tinggi yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, suasana terasa begitu pekat dan menyesakkan.Knox berdiri mematung di balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya kusut, beberapa kancing atasnya terlepas memperlihatkan leher bidang yang naik turun menahan amarah. Di tangannya, gelas wiski berdinding tebal digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan kristal tersebut."Sialan... Gara-gara perempuan itu, aku kehilangan segalanya malam ini," desis Knox tertahan, suaranya bagaikan geraman binatang buas yang terluka di tengah badai salju. "Gara-gara Mia, aku gagal menjaga sebuah informasi penting milik musuh yang sudah lama kusimpan rapat-rapat."Dante, sang asisten setia yang berdiri kaku dalam balutan jas rapi di dekat pintu, mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia merapikan letak kacamatanya, mencoba mencerna badai yang baru
Gedung Opera bergaya Baroque di jantung kota itu malam ini disulap menjadi lautan kemewahan yang memabukkan. Lelang amal tahunan sindikat mafia yang berkedok yayasan filantropi ini selalu menjadi ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Aroma parfum Baccarat Rouge bercampur dengan cerutu mahal menguar di udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan alunan musik klasik dari string quartet di sudut ruangan.Nia dan Mia melangkah masuk bagai dua dewi dunia bawah yang menuntut takhta mereka. Tidak ada lagi gaun hitam tanda berkabung atas cinta yang kandas. Malam ini, Nia membalut tubuhnya dengan gaun sutra emerald berbelahan dada rendah yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sementara Mia mengenakan gaun malam midnight blue bertabur payet yang berkilau setiap kali ia bergerak, memancarkan aura femme fatale yang mematikan."Lihat mereka," bisik Mia di telinga kakaknya, bibirnya menyunggingkan senyum anggun sambil mengayunkan segelas champagne. "Dua anjing penjaga dan malaikat palsu







