LOGINGedung Opera bergaya Baroque di jantung kota itu malam ini disulap menjadi lautan kemewahan yang memabukkan. Lelang amal tahunan sindikat mafia yang berkedok yayasan filantropi ini selalu menjadi ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Aroma parfum Baccarat Rouge bercampur dengan cerutu mahal menguar di udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan alunan musik klasik dari string quartet di sudut ruangan.
Nia dan Mia melangkah masuk bagai dua dewi dunia bawah yang menuntut takhta mereka. Tidak ada lagi gaun hitam tanda berkabung atas cinta yang kandas. Malam ini, Nia membalut tubuhnya dengan gaun sutra emerald berbelahan dada rendah yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sementara Mia mengenakan gaun malam midnight blue bertabur payet yang berkilau setiap kali ia bergerak, memancarkan aura femme fatale yang mematikan. "Lihat mereka," bisik Mia di telinga kakaknya, bibirnya menyunggingkan senyum anggun sambil mengayunkan segelas champagne. "Dua anjing penjaga dan malaikat palsu mereka." Di tengah ruangan, berdiri Lusy dengan gaun putih mutiaranya yang menjuntai suci. Di sisi kanan dan kirinya, Arox dan Knox berdiri gagah, memancarkan aura dominasi yang membuat para tamu lain segan mendekat. "Fokus, Mia. Malam ini kita bukan penonton, kita sutradaranya," balas Nia pelan. Matanya yang tajam menyapu seisi ballroom, mencari satu target spesifik. Ketemu. Di dekat pilar pualam, seorang wanita berambut pirang ikal dengan gaun merah mencolok sedang berbincang dengan salah satu petinggi kartel Knox. Veronica. Simpanan rahasia Knox yang disembunyikan dari publik, sekaligus bom waktu yang akan mereka ledakkan malam ini. Acara puncak pelelangan pun dimulai. Bintang utamanya adalah Tears of Aphrodite, sebuah kalung berlian biru legendaris bernilai jutaan dolar. Seperti yang sudah tertulis di novel, Arox dan Knox bersaing gila-gilaan menaikkan harga demi mempersembahkannya pada Lusy. Pada akhirnya, Arox memenangkannya dengan angka yang tak masuk akal, membuat Knox mendengus keras menahan gengsi yang terluka. "Untuk ratuku," ucap Arox di atas panggung, memasangkan kalung bertahtakan berlian itu ke leher jenjang Lusy. Tepuk tangan riuh menggema. Lusy tersenyum tersipu, memeluk Arox erat, sementara ekor matanya melirik sinis ke arah Nia yang berdiri di kejauhan. "Ini dia," guman Nia, meletakkan gelasnya. "Si Teratai Putih mulai beraksi." Benar saja. Beberapa saat setelah turun dari panggung, Lusy berjalan membelah kerumunan, mengarah tepat ke meja tempat Nia dan Mia berada. Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah, Lusy pura-pura tersandung ujung gaunnya sendiri. Bruk! Lusy menabrak Nia. Tangan wanita itu dengan sangat cepat—sebuah gerakan licik yang sudah dilatihnya—merogoh lehernya sendiri, melepas kait kalung itu, dan menjatuhkannya tepat ke dalam tas clutch beludru yang terbuka milik Nia. "Astaga! Maafkan aku, Nia," pekik Lusy, mundur selangkah sambil memegangi dadanya dengan napas terengah. Wajahnya memelas. "Lantaiku... ah, maksudku, kakiku sedikit terkilir." Nia tidak marah. Ia justru menahan lengan Lusy dengan lembut, tersenyum begitu hangat hingga membuat Lusy meremang. "Tidak apa-apa, Lusy. Berhati-hatilah. Kalung semahal itu... sayang kalau sampai lecet, kan?" bisik Nia. Lusy menelan ludah, buru-buru memalingkan wajah dan kembali ke pelukan Arox yang langsung menghampirinya. Di detik yang sama Lusy berbalik, tangan Mia yang luar biasa gesit menyelinap ke dalam clutch kakaknya. Jari-jari lentiknya meraup untaian berlian dingin itu. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Mia berjalan santai melewati kerumunan, menuju meja buffet. Saat berpapasan dengan Veronica yang sedang mengambil kue macaron, Mia sengaja menyenggol bahu wanita bergaun merah itu. "Oh, maafkan saya, Nona," ucap Mia sopan. Dalam sepersekian detik terjadinya kontak fisik itu, kalung Tears of Aphrodite telah berpindah manis ke dalam saku mantel bulu yang tersampir di lengan Veronica. Sempurna. Bersih tanpa jejak. Mia kembali ke sisi kakaknya dengan seringai tipis. Hanya butuh waktu lima menit sebelum kekacauan yang dinanti tiba. "Kalungku! Ya Tuhan, Arox, kalungku hilang!" Jeritan melengking Lusy mengiris alunan musik klasik. Seisi ballroom mendadak hening. Arox mencengkeram bahu Lusy, wajahnya menegang. "Apa maksudmu hilang? Baru saja kalung itu ada di lehermu!" "Aku tidak tahu!" isak Lusy, air mata buayanya mengalir deras. Ia memandang berkeliling dengan panik, lalu—seperti yang sudah ditebak—matanya terkunci pada Nia. Tubuhnya bergetar, ia menyembunyikan wajahnya di dada Arox. "Arox... aku tidak mau menuduh, tapi tadi aku berpapasan dengan Nia. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat mengerikan. Mungkin... mungkin dia marah karena kau memberikan kalung itu padaku dan bukan sebagai harta gono-gini perceraiannya." Tuduhan yang sangat halus, namun mematikan. Bisik-bisik mulai terdengar di penjuru ruangan. Tatapan menghakimi mengarah pada kakak beradik itu. Rahang Arox mengeras. Insting membunuhnya bangkit. Ditemani Knox yang juga terbakar amarah, Arox melangkah panjang-panjang menghampiri meja Nia. Beberapa penjaga bersenjata langsung mengepung mereka. "Serahkan tasmu, Nia. Sekarang," desis Arox, suaranya berat dan mengancam. Nia mendesah pelan, memutar bola matanya malas. "Arox, sungguh? Kau mau membuat keributan di acara amal hanya karena istrimu—oh, maaf, calon istrimu yang ceroboh menghilangkan mainan barunya?" "Jangan banyak bicara! Geledah tasnya!" bentak Knox tak sabar. Nia tersenyum. Ia mengangkat clutch beludrunya tinggi-tinggi, lalu membalikkannya hingga seluruh isinya tumpah ke atas meja kaca. Trak. Trak. Hanya ada sebuah lipstik merah Chanel, bedak padat, dan sebuah lipatan kertas berlogo bank. Cek satu juta dolar dari Arox. Tidak ada berlian biru. Tidak ada barang curian. Kosong. Wajah Lusy pucat pasi. Matanya membelalak tak percaya menatap isi meja itu. "T-tidak mungkin! Jelas-jelas aku menjatuhkannya—maksudku, aku yakin sekali dia mengambilnya saat menabrakku!" Lusy tergagap, panik karena naskahnya melenceng. "Wow," gumam Mia, menyilangkan tangan di dada sambil menggelengkan kepala. "Nona Lusy, kalau kau ingin menyingkirkan kami karena takut kalah saing, setidaknya pakailah otakmu sedikit. Untuk apa kakakku mencuri kalung, sementara dia baru saja mendapat cek satu juta dolar pagi ini?" Mia menunjuk cek di atas meja dengan dagunya. Arox terdiam, wajahnya pias antara malu dan bingung. Knox mengerutkan kening, menatap Lusy dengan sorot menyelidik. "Tapi... tapi kalung itu pasti ada padanya!" Lusy bersikeras, kepanikannya mulai menghancurkan citra malaikatnya. "Kau kehilangan akal, Lusy," desis Nia dingin. Ia melangkah maju, mengikis jarak hingga Lusy terpaksa mundur. "Tuduhan palsu adalah penghinaan. Dan di dunia mafia, penghinaan dibayar dengan darah. Tapi karena aku sedang berbaik hati..." Nia menoleh ke arah Knox, menyeringai tajam. "Knox," panggil Nia. "Daripada kau membiarkan tunanganmu yang malang ini terlihat seperti orang idiot karena menuduh sembarangan, kenapa kau tidak memeriksa Nona bergaun merah di sana? Nona Veronica. Bukankah dari tadi dia terus menatap penuh minat ke arah kalung itu... dan ke arahmu?" Mendengar nama Veronica disebut, wajah Knox berubah seputih kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya. "V-Veronica?" gumam Knox tertahan. Arox yang menangkap kegelisahan Knox langsung memerintahkan anak buahnya. "Periksa wanita itu!" Veronica yang kebingungan langsung dikepung oleh penjaga Arox. Tanpa belas kasihan, salah satu penjaga merampas mantel bulunya dan merogoh sakunya. Dalam keheningan yang mencekam, tangan penjaga itu menarik keluar untaian berlian Tears of Aphrodite yang berkilau di bawah lampu gantung. GASP! Seisi ruangan menarik napas terkejut. "Itu... itu bukan milikku! Aku tidak tahu bagaimana barang itu bisa ada di sakuku!" jerit Veronica histeris, menatap Knox dengan pandangan memohon. "Knox, Sayang! Tolong aku! Beritahu mereka siapa aku!" Kata 'Sayang' itu meledak seperti bom atom di tengah ballroom. Arox memutar kepalanya perlahan menatap Knox. Urat-urat di lehernya menonjol, matanya merah menyala karena amarah. "Sayang?" bisik Arox berbahaya. "Jalangmu... mencuri kalung milik perempuanku, Knox? Beraninya kau?!" Knox mundur selangkah, mengangkat tangan dengan defensif. "Arox, dengar, ini pasti salah paham! Seseorang pasti menjebaknya!" "Menjebak? Sama seperti caramu membiarkan perempuanku dituduh oleh ratumu tadi?" sindir Nia dengan nada semanis madu, menyiram bensin ke dalam api yang menyala. "Brengsek kau, Knox!" Arox menerjang ke depan, mendaratkan pukulan telak ke rahang Knox. Bunyi tulang beradu terdengar mengerikan. Knox terjerembap ke belakang menabrak meja buffet, menghancurkan piring-piring porselen. Para anak buah dari kedua belah pihak langsung mencabut senjata api mereka. Suasana lelang amal yang elegan seketika berubah menjadi medan perang ala Bratva. Di tengah kekacauan itu, Lusy berdiri membeku, gemetar ketakutan. Rencananya untuk mempermalukan Nia justru berujung pada terkuaknya rahasia Knox dan memicu perang saudara. Citra sucinya hancur berkeping-keping, digantikan dengan raut kebodohan dan kepanikan yang menyedihkan. Nia merapikan kembali lipstik dan ceknya ke dalam clutch, lalu memberi isyarat pada Mia. "Pertunjukan yang memuaskan," bisik Mia saat mereka berjalan anggun melintasi kekacauan, menjauhi teriakan Arox dan rintihan Knox. Nia menyesap sisa champagne-nya dan meletakkan gelasnya di nampan seorang pelayan yang gemetar ketakutan. Ia menoleh sekali lagi ke belakang, menatap Lusy yang kini duduk menangis di lantai tanpa ada satu pria pun yang mempedulikannya. "Ini baru permulaan, Nona Protagonis," guman Nia, senyum iblis terukir sempurna di bibir merahnya. "Selamat datang di cerita kami."Benda perak itu tergeletak bisu di atas meja kaca, memantulkan pendar kemerahan dari lampu gantung kristal di lobi hotel. Bagi orang awam, itu hanyalah sebuah flash drive biasa. Namun bagi Mia dan Nia, benda sebesar ibu jari itu tak ubahnya kotak Pandora yang baru saja dilemparkan oleh sang dewa kematian.Udara di sekitar mereka terasa membeku, seolah waktu berhenti berdetak sesaat setelah limusin Knox menghilang ditelan kabut pagi.Mia adalah yang pertama kali tersadar dari paku keterkejutan. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh sisa-sisa adrenalin, ia menyambar flash drive itu. Logamnya terasa sedingin es di telapak tangannya yang berkeringat."Naik. Sekarang," desis Mia, menarik pergelangan tangan kakaknya.Nia mengangguk kaku. Keduanya melangkah cepat membelah lobi, mengabaikan tatapan beberapa staf hotel, dan masuk ke dalam lift VIP. Begitu pintu baja itu tertutup, memblokir dunia luar, pertahanan tenang yang mereka bangun susah payah akhirnya runtuh.
Suara terputusnya sambungan telepon itu bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Klik. Singkat. Dingin. Dan mematikan.Ponsel satelit di tangan Mia terasa seberat timah panas. Ia menatap layar yang kini gelap gulita, lalu beralih menatap Nia yang duduk mematung di sofa. Udara di dalam suite hotel yang beberapa detik lalu terasa ringan oleh euforia kebebasan, kini mendadak pekat, seolah seluruh oksigen tersedot keluar, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang."Knox," bisik Mia, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya membelalak, campuran antara ketakutan yang mendalam dan ketidakpercayaan yang absolut. "Itu... suara Knox."Nia membeku. Tangannya yang masih memegang tiket penerbangan ke Skotlandia gemetar pelan. "Knox? B-bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa menemukan nomor satelit darurat itu? Jalur enkripsinya... aku sudah mengaturnya berlapis-lapis!""Dia bukan bos mafia terbesar di benua ini tanpa alasan, Kak," desis Mia, otaknya berputar de
Udara subuh menyusup lewat celah jendela suite hotel, membawa aroma laut yang asin dan semilir embun. Pesta gila-gilaan malam sebelumnya hanya menyisakan puing-puing kemewahan: botol-botol Dom Pérignon kosong yang berserakan, kelopak mawar merah yang terinjak, dan noda sampanye di atas karpet Persia.Mia terbangun dengan dengingan tajam di kepalanya. Kepalanya berdenyut, protes atas alkohol jutaan dolar yang dipaksa masuk ke pembuluh darahnya. Ia membuka mata perlahan, menyipit menahan silau lampu kristal yang lupa dimatikan. Di sampingnya, Mateo, sang gigolo berwajah pahatan dewa itu, masih terlelap pulas, dada bidangnya naik turun berirama.Mia duduk, memijat pelipisnya. Pikirannya perlahan menjernih, mengusir kabut hangover. Ini bukan saatnya bermanja. Hari telah berganti, dan mesin hitung waktu menuju pelarian mereka telah berdetak."Bangun, Cinderella," gumam Mia, menyibak selimut sutra dan melangkah turun. Ia menendang pelan kaki Mateo. "Pestanya sudah usai. Saatnya kembali k
Di saat udara di penthouse Knox membeku oleh ketegangan dan rahasia kelam, di belahan kota yang lain, dentuman musik disko tahun 80-an membelah keheningan sebuah suite eksklusif di hotel bintang lima. Aroma champagne yang tumpah bercampur dengan wangi parfum mahal menciptakan atmosfer hedonisme yang memabukkan.Malam itu, Nia dan Mia telah resmi membuang atribut 'pasangan mafia' mereka ke tempat sampah. Tidak ada lagi gaun elegan yang mengekang napas, tak ada lagi senyum palsu untuk para petinggi kartel, dan yang paling penting, tak ada lagi Lusy, Arox, ataupun Knox di radius pandang mereka."Lebih cepat! Aku mau beat yang lebih gila!" teriak Mia dari tengah ruangan, suaranya serak karena terlalu banyak tertawa.Gaun midnight blue dari acara lelang kini teronggok mengenaskan di atas sofa. Mia hanya mengenakan slip dress sutra tipis berwarna sampanye yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, kakinya telanjang, dan di tangannya tergenggam sebotol Dom Pérignon yang harganya
Suara derit kaca yang retak dan benturan logam masih menyisakan denging di kepala Dante. Di dalam penthouse mewah berlantai sangat tinggi yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, suasana terasa begitu pekat dan menyesakkan.Knox berdiri mematung di balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya kusut, beberapa kancing atasnya terlepas memperlihatkan leher bidang yang naik turun menahan amarah. Di tangannya, gelas wiski berdinding tebal digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan kristal tersebut."Sialan... Gara-gara perempuan itu, aku kehilangan segalanya malam ini," desis Knox tertahan, suaranya bagaikan geraman binatang buas yang terluka di tengah badai salju. "Gara-gara Mia, aku gagal menjaga sebuah informasi penting milik musuh yang sudah lama kusimpan rapat-rapat."Dante, sang asisten setia yang berdiri kaku dalam balutan jas rapi di dekat pintu, mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia merapikan letak kacamatanya, mencoba mencerna badai yang baru
Gedung Opera bergaya Baroque di jantung kota itu malam ini disulap menjadi lautan kemewahan yang memabukkan. Lelang amal tahunan sindikat mafia yang berkedok yayasan filantropi ini selalu menjadi ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Aroma parfum Baccarat Rouge bercampur dengan cerutu mahal menguar di udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan alunan musik klasik dari string quartet di sudut ruangan.Nia dan Mia melangkah masuk bagai dua dewi dunia bawah yang menuntut takhta mereka. Tidak ada lagi gaun hitam tanda berkabung atas cinta yang kandas. Malam ini, Nia membalut tubuhnya dengan gaun sutra emerald berbelahan dada rendah yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sementara Mia mengenakan gaun malam midnight blue bertabur payet yang berkilau setiap kali ia bergerak, memancarkan aura femme fatale yang mematikan."Lihat mereka," bisik Mia di telinga kakaknya, bibirnya menyunggingkan senyum anggun sambil mengayunkan segelas champagne. "Dua anjing penjaga dan malaikat palsu







